Lepas di Level 4.000, IHSG Masih Akan Rontok

Rabu, 28/08/2013

NERACA

Jakarta – Masih berlanjutnya aksi jual investor, memicu pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 152 poin ke level 3.967,842 atau berkurang hingga 3,71%. Indeks LQ45 juga tercatat negatif dengan kehilangan 26 poin ke tingkat 651,872, “Kombinasi sentimen negatif dari domestik dan global masih mendorong indeks BEI bergerak melemah,”kata Direktur CIMB Principal Asset Management Fajar R Hidayat di Jakarta, Selasa (27/8).

Dia mengatakan, bursa saham global yang masih cenderung bergerak dalam area negatif berdampak pada psikologis investor di dalam negeri. Selain itu, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk menahan sentimen dari global juga belum ditanggapi positif investor, pelaku pasar menilai bahwa kebijakan itu lebih bersifat jangka panjang.

Kata Fajar, saat ini pelaku pasar mengharapkan antisipasi dari pemerintah untuk jangka pendek. Sementara analis HD Capital, Yuganur Wijanarko menambahkan, meski IHSG berada dibawah level 4.000 poin, namun tidak adanya tekanan jual yang besar dari investor asing menandakan adanya skenario perubahan investasi dari mata uang ke dalam saham \\\"Sehingga ke depanya investor dapat mengakumulasi pada saham-saham yang memiliki potensi penguatan secara teknikal,”ungkapnya.

Berikutnya, indeks BEI Rabu (28/8) masih diproyeksikan masih akan bergerak melemah seiring belum adanya sentimen positif dari dalam negeri. Pada perdagangan kemarin, sebanyak 278 saham emiten jeblok atau turun sedangkan masih ada 32 emiten yang sahamnya naik. Sekitar 37 emiten tak bergerak harga sahamnya.

Adapun total frekuensi saham yang dipergadangkan mencapai 147.827 kali dengan volume 5,1 miliar dan nilainya mencapai Rp 5,4 triliun. Saham yang bergerak menguat sebanyak 35, sementara yang melemah 293 saham, dan yang tidak bergerak nilainya atau stagnan sebanyak 40 saham.

Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng ditutup melemah 130,55 poin (0,59%) ke level 21.874,77, indeks Nikkei-225 turun 93,91 poin (0,69%) ke level 13.542,37, dan Straits Times melemah 50,97 poin (1,65%) ke posisi 3.034,91.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup juga ditutup melemah 126 poin atau 3,06% ke level 3.994,464. Indeks LQ45 juga tercatat negatif dengan kehilangan 21 poin ke tingkat 656,838.

Sebanyak 264 saham emiten jeblok atau turun sedangkan masih ada 24 emiten yang sahamnya naik. Sekitar 31 emiten tak bergerak harga sahamnya. Adapun total frekuensi saham yang dipergadangkan mencapai 78.139 kali dengan volume 2,4 miliar dan nilainya mencapai Rp 2,5 triliun.

Disebutkan, pelemahan indeks BEI masih karena imbas dari bursa saham Amerika atau Wall Street yang kemarin ditutup di teritori negatif. Ditengah anjloknya pasar saham dan nilai tukar rupiah, pemerintah kembali mengklaim bila kondisi tersebut belum memasuki fase krisis.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, ekonomi Indonesia belum masuk masa krisis seperti era 1998 atau 2008 dulu. "Dalam kondisi ekonomi yang tidak biasa ini, ekonomi Indonesia belum krisis tapi kita harus mewaspadai gejolak pasar keuangan dan nilai tukar," kata Chatib.

Menurutnya, pelemahan IHSG maupun rupiah saat ini masih merupakan dampak penghentian stimulus fiskal dari bank sentral Amerika Serikat ke pasar. Apalagi gonjang ganjing kondisi bursa saham India dan Thailand juga signifikan.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka turun 21,30 poin atau 0,52% ke posisi 4.099,37. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 10,45 poin (1,54%) ke level 667,44, “IHSG BEI kembali melemah seiring dengan tekanan yang terjadi di pasar uang domestik dan juga bursa di kawasan Asia," kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung.

Dia menuturkan, pelemahan bursa di kawasan Asia itu salah satunya didorong dari konflik di negara Suriah. Memanasnya konflik di Suriah itu juga mengakibatkan harga minyak menguat 0,5%. Meski demikian, dia menambahkan saham-saham berbasis komoditas tampaknya dapat menjadi penahan pelemahan indeks BEI dan karena itu, diawal dirinya memperkirakan saham sektor itu dapat kembali menguat akibat pelemahan kurs rupiah.

Sementara analis PT AM Capital Securities, Viviet S Putri mengatakan, saham-saham sektor pertanian seperti minyak sawit mentah (CPO) cenderung bergerak positif seiring dengan kebijakan pemerintah untuk menurunkan pajak kepada industri yang berorientasi ekspor, “Secara teknikal, tren penurunan (bearish) pada sektor konstruksi dan properti muncul, bersamaan dengan itu muncul tren penguatan (bullish) di sektor CPO, hal itu menjadi tanda awal rotasi sektor," ujar dia.

Meski demikian, Viviet menyarankan kepada pelaku pasar untuk tetap waspada, dikarenakan pergerakan saham-saham di bursa dalam negeri masih memiliki volatilitas yang tinggi. Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 84,53 poin (0,38%) ke level 21.920,79, indeks Nikkei-225 turun 42,65 poin (0,31%) ke level 13.593,86, dan Straits Times melemah 9,27 poin (0,32%) ke posisi 3.074,46. (bani)