PLN Gandeng Anak Usaha Astra

Kelola Aset

Selasa, 27/08/2013

NERACA

Jakarta – Seiring dengan tumbuhnya konsumsi listrik turut serta meningkatkan aset dari PT PLN (Persero). Di sisi aset, khususnya aset transmisi yang berfungsi untuk menyalurkan listrik dari pembangkit ke distribusi meningkat rata-rata 2,9 % per tahun, yaitu dari Rp67,4 triliun pada tahun 2012 dan diprediksi menjadi Rp80 triliun pada tahun 2018. Guna mengelola aset tersebut, PT PLN menggandeng anak usaha Astra yaitu PT Astra Graphia Information Technology (AGIT).

Direktur PLN Jawa Bali, Ngurah Adnyana menyatakan dengan menggandeng Agit, maka PLN akan memanfaatkan teknologi informasi untuk mengelola asetnya melalui program Enterprise Asset Management (EAM) di bidang pembangkitan, transmisi, dan distribusi. Implementasi EAM disisi pembangkitan sudah berjalan di anak perusahaan PLN yaitu PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) dan PT Indonesia Power (IP) dan saat ini juga sedang dilaksanakan di Unit pembangkit di Sumatra dan Sulawesi.

“Manajeman aset untuk bidang transmisi siap diimplementasikan untuk tiga unit PLN, masing-masing di PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (P3B) Jawa-Bali, P3B Sumatera, dan PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat (Sulselrabar),” ujar Adnyana di Jakarta, Senin (26/8).

Ia mengatakan bahwa PLN berkomitmen memajukan industri dalam negeri. Caranya dengan memilih AGIT sebagai konsultan dalam mengelola aset. Pasalnya, menurut dia, PLN memilih dari luar. "Ini sebagai bukti bahwa kami mempunyai kemauan dalam memajukan industri dalam negeri. Dan untuk pengalaman, AGIT telah berpengalaman dibidangnya karena sudah bisa melebarkan sayapnya sampai Malaysia dan vietnam," katanya.

Sekedar informasi, kapasitas gardu induk (GI) pada tahun 2012 sebesar 76.328 Mega Volt Ampere (MVA) juga terus tumbuh rata-rata sebesar 13.4% pertahun sehingga pada tahun 2018 diperkirakan menjadi 162.457 MVA. Panjang jaringan transmisi bertambah sebesar 14 % per tahun dari 37,924 km pada tahun 2012 akan menjadi 83,106 km pada tahun 2018. Sedangkan biaya operasi dan pemeliharaan transmisi juga meningkat dari Rp2,35 triliun pada tahun 2012 dan akan menjadi Rp3.06 triliun pada tahun 2018.

Dengan aset transmisi dan biaya pemeliharaan yang besar dan terus bertambah serta tuntutan stakeholders untuk mengoperasikan dan memelihara sistem penyaluran secara handal efisien dan berkualitas, lanjut Adnyana, maka diperlukan implementasi manajemen aset yang dilengkapi dengan sistem informasi sehingga dapat memberikan informasi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asetportofolio, kondisi aset, investasi dan finance secara transparan sehingga dapat dievaluasi dan dianalisa secara komprehensif dengan pertimbangan manajemen risiko.

Ditambahkan Adnyana, implementasi EAM ini diharapkan mampu menyediakan sistem informasi yang dapat digunakan untuk memonitor kinerja peralatan transmisi yang terkait dengan biaya selama masa manfaatnya. Juga dapat dijadikan evaluasi bagi kinerja penyedia Jasa yang melakukan pemasangan maupun yang menangani aset tersebut selama masa manfaatnya, serta tersedianya proses bisnis yang terintegrasi dengan sistem informasi PM dan peran pegawai sesuai dengan jobdescription. “Penerapan EAM ini bertujuan untuk menghasilkan kinerja operasi ekselen dengan fokus pada optimasi pemanfaatan aset, efisiensi finansial dan mitigasi risiko,” tegas Adnyana.

Sejalan dengan PLN, Presiden Direktur AGIT, Michael A.R. Roring, menyatakan bahwa suksesnya implementasi EAM transmisi di PLN adalah tersedianya sistem informasi yang dapat menghasilkan standardisasi proses bisnis pemeliharaan dan integrasi sistem yang lebih efektif dan efisien. “Suksesnya impelementasi EAM ini adalah tersedianya sumber informasi bagi manajemen untuk pengambilan keputusan yang akurat dan cepat serta tersedianya mekanisme control dan monitoring sistem pemeliharaan yang lebih baik dan terukur,” ujar Michael.

Sementara itu, Senior Account Executive PT SAP Indonesia, Ardianto Surya Nugraha, mengungkapkan dengan membantu PLN mentransformasikan bisnisnya maka diharapkan PLN bisa menjadi world class enterprise, melalui kinerja yang sempurna , hasilnya adalah peningkatan pelayanan kepada masyarakat , dan ujungnya adalah turut mensejahterakan rakyat di berbagai lapisan baik secara pribadi maupun perusahaan. “Selama 16 tahun beroperasi di Indonesia, SAP selalu memberikan kontribusi terbaiknya bagi negeri ini,” ujar Ardianto.