Pasar Anjlok, Investor Dituntut Jeli dan Cerdas

Menunggu Pemulihan Lebih Cepat

Kamis, 22/08/2013

NERACA

Jakarta – Meskipun dalam dua hari terakhir, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus terkoreksi, namun saat ini pelemahan tersebut mulai pulih seiring dengan kembali maraknya aksi beli investor lokal karena indeks BEI sudah terdiskon cukup murah.

Menurut Head of Equities & Research Bahana Securities Harry Su, kondisi terendah IHSG dinilai akan lebih baik jika terlihat lebih cepat. Hal ini dikarenakan, jika IHSG menunjukan titik terendahnya lebih awal akan ada waktu lebih banyak untuk pemulihan IHSG, “Selain itu, secara teknikal IHSG dinilai akan berada diposisi 3.800,”katanya di Jakarta, Rabu (21/8).

Dia menjelaskan, jika IHSG mengalami penurunan ke titik terendah lebih cepat, maka pemulihan juga akan lebih cepat terjadi. Akhir Agustus menjadi saat yang bagus untuk IHSG turun ke level terendah dengan asumsi pada September mulai ada pemulihan, “Jika banyak yang menilai Juli merupakan titik terendah, saya memprediksi pada Oktober dan setelah itu akan ada pemulihan ke target kita di level 4.750,”tandas Harry.

Selain, jika outflow terus-menerus terjadi akan membuat IHSG berada ke level 3.800. berdasarkan data Bahana sejak Mei-Agustus, tercatat dana yang keluar dari pasar modal mencapai Rp29,7 triliun. Karena itu, dirinya menghimbau pelaku pasar agar tidak langsung menjual saham yang dimiliki, “Jangan langsung jual semua saham karena kepanikan kondisi saat ini, tetapi harus dipilah terlebih dahulu mana saham yang cukup bagus untuk disimpan,”ujar dia.

Chief Economist & Director for Investor Relation Bahana Securities, Budi Hikmat menyatakan, kejatuhan IHSG disebabkan gabungan dari sentimen musiman dan siklikal fundamental yang terjadi karena merespon defisit neraca berjalan. Menurut dia, meskipun yield naik hingga 9%, investor disarankan untuk lebih banyak lagi melakukan aksi beli.

Sektor Komoditas

Sementara itu, Harry menjelaskan, komoditas dan saham menjadi wadah dana asing yang masuk ke Indonesia. Namun karena saat ini sektor komoditas cenderung turun, maka disarankan investor berhati-hati terutama untuk sektor CPO dan Batubara. Selain itu, berdasarkan data Bahana dengan kondisi pasar bursa saat ini, 5 sektor masih bagus untuk dibeli yaitu property, consumer, cement, banks, dan utilities. Saham yang jelek untuk dikoleksi adalah sektor poultry, auto & H.E, plantations, dan coal, “Kalo dilihat berdasarkan peringkat, hanya 2 sektor yang overweight yaitu telcos dan consumer, underweight ada 3 yaitu metal mining, coal mining dan plantations. Sementara yang stagnan adalah property, poultry, cement, banks, construction&infrastructure, oil&gas, dan auto&H.E”, jelas dia.

Pelemahan rupiah yang terjadi terhadap dolar Amerika Serikat berdampak buruk kepada emiten yang memiliki utang dalam bentuk dolar. Dampak lain yang juga menghantam pasar saham akibat turunnya nilai tukaar rupiah terhadap dolar adalah laba per saham atau (Earning Per Share/EPS) ikut turun.

Naiknya suku acuan bunga (BI Rate) sebesar 1% juga berdampak menurunkan EPS emiten sebesar 0,7%, “Setiap rupiah yang terdepresi 1%, maka akan mengikis EPS pasar sebesar 1,1%. Dampak terbesar terlihat pada saham Indosat (ISAT) yang memiliki utang besar sehingga setiap pelemahan 1% rupiah, berpengaruh terhadap net profit ISAT sebesar 17,9%,”paparnya.

Dia juga menjelaskan bahwa saham-saham komoditas membuat pertumbuhan EPS makin merost dibandingkan negara lain. Berdasarkan datanya, Indonesia berada diposisi ke-6 setelah Cina, Thailand, Hongkong, Filipina, dan India dengan hanya mengalami pertumbuhan EPS sebesar 5,6%. Namun, jika komoditas dikeluarkan dari keseluruhan EPS, maka Indonesia berada diposisi ke-2 setelah Filipina dengan pertumbuhan EPS 17%.“IHSG turun hingga peringkat 12 untuk kawasan Asia akibat rupiah yang terdepresiasi dan menjadi kedua terburuk setelah India (SENSEX)”, ujar dia.

Namun jika melihat bursa lain, masih ada dua bursa terendah yaitu Rusia dan Brazil. Hal ini juga terjadi akibat dolar Amerika yang kembali ke negara asalnya karena Amerika memang sudah bangkit lagi.

Dinilai Wajar

Sebelumnya, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa, Samsul Hidayat pernah bilang, penurunan indeks dinilai wajar seiring masih kuatnya penawaran dan permintaan transaksi di pasar modal,”Monitoring terus dilakukan untuk perkembangan pasar saham. Regulator pasar hanya memastikan pasar terselenggara sesuai dengan aturan. Penurunan IHSG saat ini masih wajar, masih ada kekuatan 'supply and demand' di pasar saham,”tegas Samsul Hidayat.

Dia menjelaskan, pihak bursa saat ini terus melakukan monitoring di perdagangan saham, dan menjalankan sesuai dengan "Standar Operating Procedure" (SOP) yang dimiliki otoritas pasar modal, “Bursa tidak boleh mempengaruhi pasar. Namun di titik tertentu Bursa dapat menahan transaksi saham (hold), kondisi itu untuk memberikan kesempatan kepada investor untuk berpikir ulang dalam melakukan transaksi selanjutnya," ucapnya.

Selain iu, pihak bursa juga belum melihat adanya aksi transaksi melalui mekanisme "short selling" yang menyalahi aturan. Sebagai informasi, short selling" adalah suatu cara yang digunakan dalam penjualan saham di mana investor meminjam dana untuk menjual saham yang belum dimiliki dengan harga tinggi dengan harapan akan membeli kembali dan mengembalikan pijaman saham pada saat saham turun. (nurul)