Gula-gula Metropolitan, Medan Magnet Kaum Urban

Sabtu, 31/08/2013

Pasca mudik Lebaran adalah kesempatan emas orang-orang pedesaan datang ke kota-kota besar untuk mencari penghidupan. Ibarat ada gula ada semut. Kota besar merupakan medan magnet yang dapat menarik tidak hanya kaum urban, tapi juga kaum investor.

NERACA

Kaum urban yang datang ke kota-kota besar dan metropolitan, seperti Jakarta, biasanya berdasarkan informasi dari para saudara, kerabat, juga sahabat yang pulang kampung. Biasanya mereka menawarkan sejumlah pekerjaan baik yang harus dengan pengalaman (skilled) maupun tak perlu pengalaman (unskilled) yang penting mau bekerja, serta dalam bentuk peluang usaha baru.

Dari tahun ke tahun, jumlah kaum urban yang datang ke Jakarta fluktiatif. Kadang turun, karena medan magnet juga ada di kawasan kota satelit, seperti Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor, juga Kerawang. Bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, tak mungkin membuat tembok atau pagar yang tinggi untuk mencegah kehadiran para kaum urban.

Apalagi, pembangunan kota Jakarta juga merupakan andil para kaum urban. Sebab, Jakartta membutuhkan banyak pekerja, untuk level pembantu rumah tangga (PRT) sekalipun. \"Tidak mungkin membangun pagar tinggi di Jakarta. Siapapun bebas datang ke Jakarta, yang penting, jangan sampai ada yang melanggar peraturan. Semua ada aturannya,\" ujar Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama.

Menurut Ahok, sapaan akrab Wagub Basuki, Jakarta juga membutuhkan tenaga kerja baru. Dia mencontohkan, banyak pembantu rumah tangga yang datang kembali ke Jakarta membawa teman yang satu profesi. Tidak masalah karena kebutuhannya memang ada. Pemprov pun tak bisa mengontrol apakah gaji mereka tetap jauh berada di bawah kebutuhan hidup layak (KHL) Rp 1,98 juta/bulan, apalagi upah minimum provinsi (UMP) sebesar Rp 2,2 juta/bulan.

“Yang penting mereka ditampung dan tinggal di rumah majikannya. Yang masalah itu kalau datang jadi pengemis, atau sewa-sewa lapak pedagang di pinggir jalan raya. Itu baru masalah,\" ujar mantan bupati Belitung Timur ini.

Pada tahun 2000 sampai 2004, jumlah pendatang baru di Jakarta mencapai 200.000 orang pada setiap arus balik. Tahun demi tahun terun menurun jumlahnya, karena para pendatng juga menyebar ke daerah sekitar Jakarta. Pada 2010, mereka yang datang ke Jakarta tinggal 59,2 ribu orang. Lalu, tahun berikutnya turun lagi menjadi 51,87 ribu orang.

Di Tahun 2012, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta mencatat adanya pendatang baru sebanyak 47.832 orang dari perkiraan 46.155 orang. Sedangkan pada arus mudik Lebaran 2013 ini, berdasarkan survei Dinas Dukcapil DKI, diprediksi jumlah pendatang baru yang masuk mencapai 51.000 orang. Data diambil dari titik-titik masuk-keluar penumpang, seperti terminal, stasiun, pelabuhan, bandara, dan gerbang tol.

\"Dari jumlah itu, 15.000 orang masih ragu-ragu untuk menetap di Jakarta. Bisa saja mereka kembali ke daerah asal atau mencari kerja di daerah sekitar Jakarta,\" kata Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta Purba Hutapea. Menurut Purba, pertumbuhan pendatang baru terus menurun, hingga 1,4%, di bawah daerah sekitar yang mencapai 4,5%.

Manusia Gerobak dan Cangkul

Termasuk kelompok yang bermasalah adalah kelompok kaum gerobak yang biasa muncul di saat Ramadhan. Mereka berkelompok-kelompok. Satu gerobak biasanya merupakan satu keluarga, ada bapak, ibu, dan anak-anaknya. Mereka hidup, tidur dan menaruh barang kebutuhan hidupnya di dalam gerobak.

Biasanya, gerobak-gerobak itu dipakai para pemulung dan pembeli barang bekas yang berkeliling ke kampung-kampung. Mereka tinggal di rumah bos pengumpul barang bekas. Kelompok ini biasanya didominasi kelompok Madura.

Sedangkan kaum gerobak musiman itu tak hanya kelompok Madura. Mereka datang bergelombang dari daerah pedesaan di kawasan Pantura di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Ada juga yang berkumpul di sejumlah ruas jalanan dan jembatan dengan membawa sekop dan cangkul. Mereka siap jika sewaktu-waktu ada yang mempekerjakannya di proyek-proyek padat karya seperti membangun jalan, jadi tukang gali lobang jalanan untuk memasang kabel listrik, serat optik.

Mereka antara lain biasa dijumpai di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari sebelum memperoleh rezeki, mereka disantuni pada broker maupun mengharapkan belas kasihan dari para pengendara yang melintas di sana. Ada broker? Lihat saja, di antara mereka ada yang memegang telepon seluler (ponsel) yang mengendarai sepeda motor.(saksono)