Industri Logam Dasar Tumbuh 12,74%

Semester I-2013

Rabu, 21/08/2013

NERACA

Jakarta - Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Sekjen Kemenperin) Ansari Bukhari mengatakan pertumbuhan sektor industri logam dasar, besi, dan baja mengalami kenaikan signifikan pada semester I-2013 yaitu 12,74%, lebih tinggi dari pertumbuhan kumulatif industri pengolahan nonmigas yaitu 6,58 %.

"Pertumbuhan sektor industri logam dasar, besi dan baja yang tinggi tersebut ditopang oleh tingginya investasi di sektor industri serta konsumsi dalam negeri, sehingga memberikan optimisme di tengah melemahnya pasar ekspor," kata Ansari Bukhari di Jakarta, Selasa.

Menurut Ansari, investasi dan konsumsi dalam negeri yang tinggi itu menunjukkan perekonomian Indonesia masih tetap tumbuh dengan industri sebagai penggeraknya meskipun pasar ekspor di negara-negara mitra utama masih lemah.

Ansari mengatakan negara-negara maju memiliki industri logam yang maju dan modern, khususnya industri besi baja. Besi baja merupakan material utama pembangunan infrastruktur, gedung, bangunan hingga jalan dan jembatan. "Itu merupakan keuntungan sekaligus tantangan bagi industri baja nasional kita yang memiliki pangsa pasar besar baik di domestik maupun internasional," tuturnya.

Menurut Ansari, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur terus meningkatkan daya saing industri dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2013 melalui program hilirisasi industri mineral. "Dengan program hilirisasi tersebut, diharapkan investasi di bidang pengolahan berbasis mineral dan logam di Indonesia dapat mempercepat peningkatan daya saing industri logam nasional," ujarnya.

Ansari juga mengatakan peluang industri logam nasional memiliki peluang yang besar untuk berkembang, baik dari sisi pasar maupun bahan baku. "Jumlah penduduk Indonesia yang besar dan prospek pembangunan properti serta konstruksi yang terus berkembang perlu dimanfaatkan industri logam nasional sebagai peluang pasar," kata Ansari.

Selain itu, Ansari mengatakan potensi bahan baku dalam negeri yang melimpah dan belum dimanfaatkan optimal juga merupakan peluang yang baik bagi industri logam nasional untuk meningkatkan daya saing produk.

Terkait dengan potensi yang besar itu, Ansari menyebutkan sejumlah industri logam nasional telah memanfaatkan peluang itu untuk melakukan perluasan. Salah satunya adalah PT Meratus Jaya Iron & Steel, perusahaan patungan PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang, yang produksinya di Batu Licin, Kalimantan Selatan mampu mengolah 315.000 ton bijih besi menjadi besi spons.

Menurut Ansari, PT Meratus Jaya Iron & Steel merupakan salah satu mega proyek besi baja nasional yang sedang berjalan dan sangat memerlukan bahan baku mineral lokal serta dapat mengurangi ketergantungan industri baja nasional terhadap bahan baku impor.

"Pemerintah, dalam hal ini Kemenperin, akan terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif agar dunia usaha tetap bergairah melakukan investasi di Indonesia," tuturnya.

Realisasi Turun

Sebelumnya, akibat mekanisme impor tentang verifikasi bahan baku besi bekas, pertumbuhan industri logam dasar besi dan baja hingga akhir 2012 hanya mencapai 4%. Kondisi ini, turun dari realisasi 2011 yang mencapai 13%

Menurut Direktur Eksekutif asosiasi industri besi dan baja Indonesia (IISIA) Edward Pinem pada tahun 2012, sektor industri logam dasar besi dan baja tumbuh 13 % dan memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan industri manufaktur yang mencapai 6,8 %.

Dengan mekanisme impor mengenai verifikasi bahan baku besi bekas scrap, katanya, pertumbuhannya mencapai empat persen dan mempengaruhi realisasi pertumbuhan industri manufaktur yang mencapai 6,7 % sampai akhir tahun ini. Ia menambahkan, mekanisme impor terkait verifikasi bahan baku besi bekas scrap untuk memastikan kualitas bahan baku scrap.

Menurutnya, mekanisme impor scrap bermula ketika Direktorat Jenderal Bea Cukai dan Kementerian Lingkungan Hidup menahan ribuan peti kemas berisi scrap impor sejak awal 2012 karena diindikasikan mengandung bahan beracun berbahaya (B3). Akibat penahanan scrap impor yang merupakan salah satu bahan baku industri baja, produksi baja nasional 2012 diproyeksi turun 30 % dibanding realisasi tahun lalu sebesar 9 juta ton.

Jika mekanisme impor tentang verifikasi bahan baku besi bekas scrap sudah berjalan, kata Panggah, diharapkan pertumbuhan industri logam dasar, besi dan baja mencapai 5 %. Verifikasi impor bahan baku besi bekas scrap memerlukan sosiasliasi kepada pelaku usaha di sektor baja. Dengan aturan tersebut, diharapkan tidak ada lagi penahanan scrap seperti awal tahun ini.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia, dari total kebutuhan scrap nasional, hanya 30 % yang dapat bisa dipenuhi dari dalam negeri. Sebagian besar sisanya masih mengandalkan pasokan impor dari Afrika Selatan, Amerika Serikat, Singapura dan Australia.