Telkom Belum Mau Buyback Saham

Pilih Harga Dibawah Rp 10.000

Rabu, 21/08/2013

NERACA

Jakarta – Terus terkoreksinya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga akhir perdagangan kemarin, menjadi momentum tepat bagi para pelaku pasar untuk mengkoleksi saham-saham blue chip yang sudah terdiskon banyak. Namun beda halnya bagi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang justru belum berniat melakukan buyback saham.

Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengatakan, perseroan belum berniat untuk melakukan buyback sahamnya, meski saat ini harga saham telah terdiskon signifikan seiring merosotnya kinerja IHSG beberapa hari terakhir, “Kita belum ada rencana buyback,” katanya di Jakarta, Selasa (20/8).

Menurutnya, Telkom punya strategi sendiri untuk melakukan buyback saham. Paling tidak, ujarnya, ketika pihaknya melakukan buyback, harga saham Telkom berada di bawah Rp10.000.“Sekarang harga saham kita masih di atas Rp10.000. Saya punya angka psikologis. Paling tidak kalau sudah di bawah Rp10.000 direktur keuangan harus saya panggil itu. Kemarin kita turun 6%, tapi tidak bisa lakukan apa-apa karena ini pengaruh global, ada juga isu capital outflow, dan juga posisi dolar,” ungkap dia.

Sementara terkait stock split, Arief juga mengaku belum akan melakukan corporate action dalam waktu dekat. Karena aksi tersebut paling potensial dilakukan ketika kondisi market sedang dalam bullish.“Kita akan ikuti arus. Ketika timingnya tidak tepat maka tidak akan bagus, dan tidak direspon oleh market. Tapi bukan berarti ditunda. Kalau toh terjadi bearish kita juga tidak akan menunggu bulish sampaikembali ke angka IHSG 4.800 (sekarang sudah 4.200 kurang). Kalau pergerakannya sudah ke arah positif maka pasti kita lakukan, kan sudah disetujui tinggal eksekusi, tunggu timing. Yang lebih penting bukan angkanya tapi tren naik,” jelasnya.

Pada perdagangan kemarin, harga saham Telkom tercatat turun Rp200 atau (1,89%) ke Rp10.400. Sebagai informasi, PT Telkom Indonesia Tbk berencana melepas maksimal 49% saham PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel). Perseroan mulai merampingkan bisnis di luar telekomunikasi dengan melepas saham terhadap anak usaha yang tidak produktif,.

Arief Yahya pernah bilang, pelepasan sebagian saham ini karena bisnis menara telekomunikasi sebagai fasilitas pendukung (supporting facilities). Umumnya perusahaan menara di dunia merupakan perusahaan mandiri (independent company). Dia menuturkan, perseroan tengah mengkaji tiga opsi pelepasan saham Mitratel, yakni melalui penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO), penggabungan dengan sebuah perusahaan (merger), maupun akuisisi perusahaan menara. Untuk itu, Telkom sudah menunjuk penasehat keuangan (financial advisor). (bani)