Mundurnya IPO Air Asia Dinilai Tepat

Mewaspadai Terkoreksi

Kamis, 15/08/2013

NERACA

Jakarta- Kabar ditundanya pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) perusahaan penerbangan PT Air Asia Indonesia hingga tahun depan mendapat tanggapan dari pelaku pasar modal. Selain rawan koreksi, kondisi pasar modal yang belum kondusif disebut-sebut memang menjadi hal yang perlu diantisipasi oleh perusahaan tersebut untuk melaksanakan IPO.“Sebagai penerbangan murah, Air Asia Indonesia memiliki likuiditas yang tinggi, namun rawan koreksi karena tidak memiliki karakter khusus untuk menghadang sentimen pasar. Ditambah juga adanya tekanan IHSG yang melemah.” katanya di Jakarta, Rabu (14/8).

Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi dua hari terakhir ini dan setitik lagi menyentuh level 4.700 pada perdagangan Rabu (14/8), menurut dia, hanya merupakan aksi spekulasi. Terlebih sentimen yang ada masih sangat minim dan belum dapat mendukung penguatan IHSG secara positif ke depan.

Selain segala bentuk regulasi seperti kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dan BI Rate telah diumumkan sebelumnya, perkembangan bursa regional saat ini juga belum mendukung. “Indeks Nikkei memang menguat, tetapi tidak begitu agresif. Pada dasarnya, tingkat volatilitas Nikkei pun sekarang ini sedang rendah dan apresiasi pelaku pasar terhadap bursa Asia di bawah rata-rata fluktuasi.” tuturnya.

Selain Nikkei, sambung dia, Hang Seng Index (HSI) juga berpotensi terjadinya koreksi yang cukup besar karena instrumen yang diperdagangkan HSI sudah berada di atas rata-rata atau overvalued sehingga sangat rawan profit taking dan berdampak negatif terhadap bursa Indonesia. “Ini juga yang harus diperhatikan oleh pelaku pasar dan emiten yang akan melaksanakan IPO.” ucapnya.

Dalam kondisi pasar saat ini, Lucky menilai, prospek saham industri penerbangan juga masih kurang menarik karena sebagai bahan bakar utamanya, harga minyak dunia sudah tinggi. Bahkan mencapai US$106 per barel dan masih berpotensi mengalami kenaikan. “Kondisi ini sama seperti Februari tahun 2012 dan yang menjadi catatan angka tersebut masih berpotensi mengalami kenaikan yang lebih tinggi sehingga perlu diantisipasi.” paparnya.

Pada perdagangan pekan ini, dia memproyeksikan, beberapa harga saham penerbangan seperti PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT Indonesia Air Transport Tbk (IATA) masih akan mengalami pelemahan. Hal ini dikarenakan volume perdagangan yang terjadi masih sangat terbatas dan munculnya sentimen harga minyak, plus adanya tekanan dari melemahnya IHSG.

Dengan harga wajar garuda yang saat ini berada di level 500 dengan harga tertingginya Rp530 dan terendah di harga Rp470, saham GIAA memiliki target support 480. Sementara untuk saham ditargetkan berada pada level harga Rp105, dari harga wajarnya saat ini Rp119 dengan harga tertingginya Rp133 dan terendahnya Rp93.

Sekadar informasi, kabar ditundanya penawaran saham Air Asia Indonesia dikemukakan oleh Chief Executive Officer (CEO) AirAsia group, Tan Sri Tony Fernandes. Padahal, Air Asia Indonesia rencananya akan menawarkan sahamnya pada kuartal ketiga tahun ini untuk meraup dana segar senilai US$200 juta. “Kami mungkin cari kesempatan (IPO) kuartal keempat atau di kuartal I tahun 2014,” kata Fernandes di Kuala Kumpur. (lia)