Indo Kordsa Serap Capex US$ 16 Juta

Jumat, 02/08/2013

Salah satu produsen ban dan benang, PT Indo Kordsa Tbk (BRAM) telah menghabiskan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$16 juta atau sekitar 20% di semester pertama tahun ini dari total capex 2013 sebesar US$80 juta yang digunakan untuk pembangunan pabrik dan perbaikan mesin.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (1/8).

Direktur Keuangan PT Indo Kordsa Tbk, Frans Budi Pranata mengatakan, perseroan telah menyediakan dana capex sebesar US$80 juta atau setara dengan Rp588,42 miliar untuk tahun buku 2013, “Sumber pendanaan tersebut berasal dari pinjaman perbankan dan kas internal,”ujarnya.

Diketahui perseroan mendapatkan dana capex sekitar 80% dari Exim Bank dan sisanya 20% berasal dari kas internal perseroan. Selain itu, untuk menciptakan efisiensi produksi dan mendukung pengembangan bisnisnya, perseroan akan mengembangkan sistem informasi teknologi yang disebut Enterprise Resource Planning (ERP).

Kemudian hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) menyetujui pengangkatan Nuri Rufik Duzgorenz menjadi Direktur Utama menggantikan Ali Caliskan. Pergantian dilakukan, karena Ali Caliskan masuk ke dalam jajaran komisaris perseroan dan Nuri mendapat promosi dari sejumlah kalangan karena memiliki kinerja yang bagus.

Diharapkan, dengan pergantian Direktur Utama kinerja perseroan dapat ditingkatkan dan menjadi lebih baik lagi. Sehingga akhir tahun 2013 perseroan dapat mencapai target yang telah ditetapkan baik dalam laba dan pendapatan. Sementara itu rencana perseroan untuk memperluas pabrik yang ada di Citeureup, Bogor, Jawa Barat dipastikan dapat menambah kapasitas produksi kain ban hingga 42.000 ton per tahun.

Kapasitas Produksi

Saat ini, kapasitas produksi Kordsa sebesar 41.000 ton per tahun. Selain itu, kapasitas produksi benang poliester juga akan bertambah menjadi 46.000 ton per tahun dari produksi saat ini 42.000 ton per tahun.“Hingga awal Juni lalu perluasan pabrik mencapai 12,5% dan ditargetkan hingga akhir tahun 2013 proyek tersebut mencapai 70% untuk dapat beroperasi pada Agustus 2014. Dana yang dibutuhkan untuk perluasan pabrik sekitar US$83 juta. Utilisasi kami juga sudah penuh sehingga butuh tambahan kapasitas,”kata Sekretaris Korporat Indo Kordsa Tbk Deassy Aryanti.

Diakuinya, pasar Asia Pasifik menyumbang 60% dari total penjualan perseroan dan masih mencatatkan pertumbuhan konsumsi ban yang positif. Ini berbeda dengan pasar Eropa dan Amerika Serikat yang kurang bergairah.

Sebelumnya, perseroan memodifikasi mesin produksinya untuk memperbesar kapasitas produksi dan hasilnya akan dilihat pada tahun ini. Misalnya untuk produksi kain ban berbahan poliester, mereka menargetkan naik 33% dari tahun lalu menjadi 24.000 ton per tahun. Perseroan ptimistis hingga akhir tahun 2013 dapat mencatatkan pertumbuhan penjualan hingga 20% dari kinerja 2012 yang sebesar US$174,1 juta.

Perseroan juga berharap kinerja dari anak usaha yang ada di Thailand, yakni Thai Indo Kordsa dapat membaik setelah pada awal 2012 lalu produksi kain ban terganggu akibat adanya bencana banjir. Selain karena pabrik di Thailand terganggu, penjualan kain ban Thai Indo Kordsa di tahun 2012 anjlok menjadi tinggal US$5,6 juta dari tahun sebelumnya mencapai US$ 13,4 juta.

Hasilnya, penjualan perseroan di tahun 2012 turun 20% dibanding tahun 2011 yang mencapai US$216,9 juta. Selain itu, perseroan juga menaikan harga jual dari produk ban dan kain ban yang berlaku sejak tahun ini agar dapat menaikan pendapatan perusahaan. Kenaikkan harga jual ini diklaim untuk mengimbangi meningkatnya ongkos produksi di 2013. (nurul)