Buruknya Perilaku Berkendara di Jalanan

VIRUS PARA PEMUDIK

Sabtu, 03/08/2013

VIRUS PARA PEMUDIK

Buruknya Perilaku Berkendara di Jalanan

Ada satu virus akut yang kini menjangkiti para pemakai kendaraan di jalan raya, khususnya di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Yaitu berperilaku buruk. Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Keamanan dan Keselamatan Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Irvan Prawira mengawatirkan buruknya perilaku berlalu lintas di jalan raya itu akan menyebar ke semua kota tujuan mudik Lebaran. Jika hal itu terjadi, rusaklah tatanan kehidupan di jalan raya.

Yang terjadi setiap hari adalah berbagai pelanggaran berlalu lintas. Seperti, menerobos lambu merah, melewati garis batas berhenti, melintasi jalur khusus busway, melawan arus, naik ke trotoar, memodifikasi piranti kendaraan dengan yang tidak standar, jumlah penumpang melebihi batas yang diizinkan, parkir sembarangan di jalur terlarang, hingga membahayakan keselamatan orang lain.

\"Pengalaman saya ketika pergi ke Yogya, di sana kalau lampu merahnya belum hijau, masyarakatnya tetap menunggu sampai hijau. Beda dengan di Jakarta, baru lampu kuning saja klakson sudah dibunyikan,\" kata Irvan dalam diskusi bertajuk \"Ngantuk Berkendara=Maut\", di sebuah hotel di Jakarta yang diselenggarakan klub biker Independent Bikers Club (IBC), awal pekan (29/7) ini.

Irvan mengingatkan para pemudik untuk tidak menyebarkan virus itu ke kota tujuan. \"Nah buat yang tinggal di Jakarta terus mudik ke kampung halamannya jangan bawa perilaku seperti itu ke kota Anda, apalagi yang mudik ke Yogya. Contoh perilaku pengendara di sana,\" ujarnya.

Menurut Irvan, virus perilaku buruk di jalan raya itu dipicu dan memicu kemacetan lalu lintas. Atas nama macet, orang dibolehkan melanggar atau istilah dalam kamus polisi adalah segresi. Yang terang, virus itu akan menimbulkan masalah lalu lintas. Ada dua potensi masalah, yaitu kemacetan dan kecelakaan lalu lintas (laka lantas).

Sekjen Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Hari Sasono menambahkan, virus itu juga berupa pemakaian sparepart yang tidak standar. Misalnya lampu depan diganti warna, lampu rem belakang diganti yang bening hingga menyilaukan pengendara di belakangnya, serta tidak memakai helm pengaman yang standar.

Menurut Hari, ada tiga faktor penyebab kecelakaan di jalan raya. Pertama, faktor manusia, yaitu menyangkut pengetahuan berkendara, teknik berkendara, kondisi fisik, kondisi emosi, dan etika berkendara. Kedua, faktor lingkungan yang meliputi kondisi jalan, kondisi cuaca, maupun rambu-rambu. Ketiga, kendaraan. Perawatan yang tidak teratur dan modifikasi yang tidak tepat akan memicu tidak nyamannya berkendara. Hal itu juga dapat membahayakan keselamatan diri dan orang lain.

“Lebih dari 90% faktor manusia sebagai penyebab kecelakaan, seperti kelelahan, mengantuk, badan tidak fit, beban tugas, maupun pengaruh lingkungan, termasuk tingginya polusi udara dan kemacetan,” kata Hari di tempat yang sama.

Safety Riding

Sementara itu, Ketua Umum Road Safety Association (RSA) Edo Rusyanto yang memandu diskusi itu mengungkapkan, mayoritas kecelakaan lalu lintas dialami oleh sepeda motor. Pengendara sepeda motor juga menjadi korban terbanyak dari setiap kecelakaan itu. “Kami prihatin, masih banyak pengendara yang seenaknya sendiri tanpa mengindahkan keselamatan diri dan orang lain, kesadaran berlalu lintas masih rendah,” ujarnya.

Itu sebabnya, kini RSA bersama komponen klub bikers gencar melakukan berbagai kampanye berkendara yang aman (safety riding). Bentuk kampanye menjelang mudik Lebaran yang dilakukan RSA antara lain menggelar aksi simpati bertajuk ‘Mudik itu Pulang Kampung, Bukan Masuk Rumah Sakit’ di Masjid Al Munawar, Perdatam, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Bersama kelompok blogger, RSA mengadakan aksi ‘Berbagi Road Safety’ di Festival Hijaber di FX Senayan.

IBC sendiri beberapa kali menggelar kegiatan ‘Safety Riding Goes to School-SRGS) di beberapa SMA dan SMK di Jakarta. Demikian juga AISI, mengadakan kampanye safety riding di sejumlah kalangan, sekolah, kelompok masyarakat, dan tukang ojek.

Itu sebabnya, diskusi pun mendukung upaya mobilisasi mudik para biker (pengendara sepeda motor) melalui program mudik bersama seperti yang diadakan sejumlah instansi baik pemerintah maupun swasta. (saksono)