WIKA Garap Proyek Saudi Senilai Rp 11,9 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sedang dalam penjajakan untuk proyek pembangunan tujuh tower hotel di sekitar Masjidil Haram, Arab Saudi senilai Rp 11,9 triliun. Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Tbk Natal Argawan mengatakan, nilai investasi untuk satu tower hotel sebesar Rp 1,7 triliun dan jika mendapatkan kontrak untuk 7 tower tersebut, perseroan memiliki nilai proyek Rp 11,9 triliun.

Namun, karena masih dalam proses, perseroan belum bisa terlalu banyak memberikan keterangan resmi mengenai tower hotel ini. Saat ini perseroan sedang mengirim perwakilan untuk melanjuti penjajakan mengenai proyek ini. “Perwakilan dari perseroan, yaitu Direktur Operasional IV Wijaya Karya Destiawan Seomardjono sudah berangkat ke Arab Saudi. Hingga saat ini belum ada partner karena belum fixed, jadi belum ada kontrak dan hingga saat ini masih proses negosiasi dulu,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Disebutkan, proyek tujuh tower hotel ini berkapasitas 7 ribu kamar, satu hotel memiliki kamar sebanyak 1.000 unit. Dalam pembangunan proyek ini, perseroan juga akan menggandeng perusahaan lokal di sana. Namun, dia enggan menjelaskan lebih rinci karena proyek tersebut belum dimenangi oleh WIKA dan masih tahapan penjajakan.

Selain itu, hingga semester pertama tahun ini WIKA berhasil menyabet nilai kontrak mencapai Rp 9 triliun dengan proyek terbaru dan terbesarnya yaitu EPC PLTG Arun sebesar Rp1,3 triliun. Perseroan pada tahun ini memang menargetkan kontrak baru mencapai Rp 20,76 triliun. Jika tower hotel di Arab Saudi didapatkan WIKA, secara kuantitas, perseroan mendapatkan nilai kontrak mencapai Rp 20,9 triliun.

Hingga semester pertama tahun ini, perseroan berhasil mencatat kontrak baru Rp 9 triliun. Perolehan kontrak ini naik 12,5% dari periode sebelumnya yang mencapai Rp 8 triliun.

Menurut Natal, kontrak Rp 9 triliun semester I In line dengan target perseroan hingga akhir tahun 2013 sebesar Rp 20 triliun. Sementara carry over kontrak dari tahun 2012 sebesar Rp 18 triliun. \"Carry over tahun tahun lalu 18 triliun jadi totalnya Rp 38 triliun,\" tambahnya.

Perseroan optimis disisa paruh kedua tahun ini, dapat memperoleh kontrak baru sebesar Rp 18 triliun di 2013. Kontrak terbesar berasal dari perolehan proyek gedung yang mencapai Rp 3 triliun. Kemudian diikuti tender pengadaan power plant dan MRT, sedangkan perolehan proyek pemerintah terbanyak masuk setelah semester II.\"Rp 3 triliun berasal dari proyek gedung. Kontribusi terbesar hampir 30%. Itu di support oleh Wika Gedung. Luar negeri baru dapat di Brunai untuk overpass bersama kontraktor Jepang. Itu masuk semester 1. PLTG Arun. Dapet 1,3 triliun. Itu kontrak EPC,\" terangnya.

Untuk penyerapan belanja modal atau capital expenditure (capex) baru mencapai 10% dari yang dianggarkan sebesar Rp 1,7 triliun. Ia menegaskan sejauh ini belum ada revisi alokasi capex meskipun penyerapan baru mencapai 10%.\"Ada beberapa belum bisa terealisir, seperti Pelabuhan Belawan baru dikerjakan semester II. IPP investasi listrik baru tender, lalu land bank (property) masih cari. Pembangunan kantor pusat (WIKA) masih tunggu izin. Akuisisi Sarana Karya masih tunggu PP. Semester II masih dilesaikan,\" sebutnya. (nurul)

Related posts