Awal Pekan Ini, Pelemahan IHSG Belum Beranjak

NERACA

Jakarta – Transaksi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan kemarin ditutup melemah akibat aksi ambil untung investor. Padahal diakhir perdagangan, saham-saham bank kelas berat berusaha menopang indeks tetap positif namun gagal. Alhasil, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 15,243 poin (0,33%) ke level 4.658,874. Sementara Indeks LQ45 turun 1,924 poin (0,25%) ke level 777,155.

Kata analis Trust Securities, Reza Pritambada, pelemahan indeks masih dipicu aksi jual investor dan maraknya pelepasan saham oleh unvestor asing, “Pelaku pasar saham asing kembali mengambil posisi lepas saham, hal itu menjadi salah satu pelemahan IHSG BEI,”ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia menambahkan, dari pola yang ada masih memungkinkan indeks BEI bergerak dalam tahap terbatas. Diharapkan dapat bergerak positif pada pekan depan. Sementara analis Sinarmas Sekuritas, Christandi Rheza Mihardja menambahkan, dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap defisit neraca berjalan dan pelemahan rupiah masih akan memberikan tekanan terhadap indeks BEI.

Karena itu, dirinya memperkirakan indeks BEI Senin awal pekan akan bergerak di kisaran 4.616-4.690 poin. Perdagangan saham akan dipengaruhi oleh data penjualan ritel Jepang dan data konsumer AS. Dia merekomendasikan, beberapa saham yang dapat diperhatikan secara teknikal yakni Bank Central Asia (BBCA), Bank Negara Indonesia (BBNI), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Malindo Feedmill (MAIN).

Pada perdagangan kemarin, aksi jual banyak dilakukan investor asing, sementara investor domestik masih membeli saham secara selektif. Sentimen positif yang datang dari pasar global terlibas jatuhnya bursa-bursa Asia. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 92.487 kali pada volume 3,22 miliar lembar saham senilai Rp 3,533 triliun. Sebanyak 74 saham naik, sisanya 157 saham turun, dan 118 saham stagnan.

Bursa saham Hong Kong berhasil menanjak ke zona hijau di tengah pelemahan bursa-bursa regional. Sedangkan pasar saham Jepang anjlok sangat dalam menyusul menguat nilai tukar yen terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Inti Bangun (IBST) naik Rp 300 ke Rp 4.300, United Tractor (UNTR) naik Rp 250 ke Rp 16.400, Solusi Tunas (SUPR) naik Rp 250 ke Rp 7.600, dan Sarana Menara (TOWR) naik Rp 150 ke Rp 3.975.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mitra Adiperkasa (MAPI) turun Rp 600 ke Rp 5.900, Bukit Asam (PTBA) naik Rp 550 ke Rp 10.850, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 300 ke Rp 43.900, dan Lippo Cikarang (LPCK) naik Rp 250 ke Rp 7.150.

Pada perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah tipis 3,816 poin (0,08%) ke level 4.670,301. Sementara Indeks LQ45 naik tipis 0,422 poin (0,05%) ke level 779,501. Beberapa saham bank kelas berat masih menguat, mencoba menahan indeks di zona hijau. Sayangnya aksi ambil untung di saham-saham komoditas konstruksi membuat indeks harus turun tipis.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 53.655 kali pada volume 1,763 miliar lembar saham senilai Rp 1,799 triliun. Sebanyak 83 saham naik, sisanya 123 saham turun, dan 106 saham stagnan.

Bursa-bursa regional mulai balik arah ke zona hijau, kecuali bursa saham Jepang yang anjlok cukup dalam gara-gara menguat nilai tukar yen terhadap dolar Amerikak Serikat (AS).

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 350 ke Rp 25.900, Inti Bangun (IBST) naik Rp 300 ke Rp 4.300, United Tractor (UNTR) naik Rp 200 ke Rp 16.350, dan Sarana Menara (TOWR) naik Rp 175 ke Rp 3.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mitra Adiperkasa (MAPI) turun Rp 450 ke Rp 6.050, Astra Agro (AALI) turun Rp 450 ke Rp 15.550, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 400 ke Rp 83.000, dan Chandra Asri (TPIA) turun Rp 250 ke Rp 2.600.

Sebaliknya, diawal perdagangan indeks BEI dibuka naik 5,58 poin atau 0,12% ke posisi 4.679,70 menyusul ekspektasi positif laporan keuangan emiten semester I 2013. Sementara itu indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 1,43 poin (0,18%) ke level 780,51.

Kata analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, faktor yang dapat menjadi katalis positif bagi indeks BEI salah satunya yakni laporan keuangan emiten semester I 2013, “Indeks BEI diperkirakan bergerak di kisaran 4.600-4.730 poin,”ujarnya.

Meski demikian, lanjut dia, pergerakan indeks BEI masih dibayangi sentimen negatif dari tekanan nilai tukar rupiah yang masih bergejolak. Selain itu, lanjut dia, kekhawatiran akan rencana The Fed mengurangi stimulus pada September mendatang seiring dengan penjualan rumah baru AS di bulan Juni mencapai level tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Sementara itu, Mandiri Sekuritas dalam kajian hariannya menyebutkan pelemahan rupiah masih terus terjadi dan dapat membuat IHSG tertekan dalam dua hari terakhir. Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 21,01 poin (0,10%) ke level 21.879,09, indeks Nikkei-225 turun 273,84 poin (1,88%) ke level 14.289,09, dan Straits Times menguat 4,52 poin (0,14%) ke posisi 3.240,20. (bani)

Related posts