Pelemahan Rupiah Mengancam Bisnis Kalbe Farma

NERACA

Jakarta – Terus melemahnya nilai kurs rupiah, tidak hanya membuat panik pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga kestabilan. Namun juga dampak negatif terhadap industri farmasi dalam negeri. Kondisi inilah yang dialami PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang menyatakan, tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar akan berdampak kepada keuangan perseroan dalam waktu tiga sampe empat bulan ke depan.

Direktur Keuangan PT Kalbe Farma Tbk, Vidjongtius mengatakan, bahan baku untuk pembuatan obat mayoritas dari luar negeri. Namun, saat ini cadangan bahan baku masih terbilang banyak dan perseroan juga mempunyai stok dolar AS, “Pergerakan nilai rupiah saat ini masih bergejolak tapi belum terganggu, mungkin tiga atau empat bulan lagi,\" katanya di Jakarta kemarin.

Dirinya berharap, nilai tukar rupiah tidak sampai di atas Rp10.000 agar pengeluaran belanja untuk bahan baku tidak membengkak. Pasalnya, selama ini hampir bahan baku farmasi dalam negeri masih impor. Perseroan juga menyakini, kondisi ekonomi makro Indonesia dapat lebih baik sehingga tidak membuat strategi khusus dalam menghadapi kelabilan rupiah ini.\"Kita terus monitor pergerakan Rupiah, kami yakin kinerja bisnis perseroan masih bisa berjalan dengan baik. Semoga setelah lebaran situasi mulai tenang, Rupiah bisa lebih baik,”paparnya.

Sebagai informasi, PT Kalbe Farma Tbk mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp444 miliar untuk triwulan I-2013. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 10,1% dibanding perolehan sebelumnya sebesar Rp403 miliar. Peningkatan tersebut, didorong oleh pertumbuhan penjualan sebesar 16,2% menjadi Rp3,490 triliun pada triwulan I-2013. dibandingkan sebelumnya sebesar Rp3,005 miliar.

Penjualan Tumbuh

Kata Vidjongtius, peningkatan penjualan tersebut juga didorong dari penjualan produk internal Kalbe yang menunjukkan pertumbuhan yang sehat, didorong oleh strategi pemasaran yang intensif dan terfokus, serta penetrasi distribusi yang kuat.

Menurutnya, pencapaian pada triwulan pertama tahun ini menjadi permulaan awal yang mantap untuk merealisasikan target pertumbuhan penjualan dan laba bersih 2013 sebesar 15-18%, jika dilihat dari kondisi makro ekonomi tetap kondusif. Selain itu, hal tersebut juga didukung upaya pengendalian biaya produksi secara berkelanjutan dan harga bahan baku yang relatif stabil. Di sisi lain, laba kotor tercatat tumbuh sebesar 14,7% dari Rp1,472 triliun pada triwulan I-2012, menjadi Rp1,688 triliun pada periode yang sama.

Sementara rasio laba kotor terhadap penjualan menunjukkan sedikit penurunan dari 49,0% menjadi 48,4% pada triwulan I-2013, antara lain sebagai dampak pelemahan nilai rupiah. Rasio laba kotor pada triwulan I-2013 meningkat jika dibandingkan dengan rasio pada periode 2012 sebesar 47,9%.

Selain itu, perseroan juga berencana menarik seluruh saham yang telah dibeli kembali (treasury stock) sekitar 3,90 miliar saham atau setara 7,7% dari modal disetor perseroan. Vidjongtius mengatakan, penarikan seluruh treasury stock itu telah memperoleh persetujuan dari para pemegang saham Perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Menurutnya, dengan mempertimbangkan posisi keuangan internal yang kuat, dan potensi pembiayaan eksternal, serta untuk memaksimalkan nilai bagi pemegang saham. Dirinya menyakini, penarikan treasury stock merupakan keputusan terbaik bagi perseroan dan pemegang saham.

Vidjongtius mengatakan, penarikan kembali tersebut tidak mempengaruhi posisi keuangan Perseroan sekarang. Perseroan akan mempertahankan tingkat laba bersih per saham dan tingkat rasio laba terhadap ekuitas dan laba terhadap aset yang optimal bagi pemegang saham. (bani)

Related posts