Aneh, Buy Back Tower Bersama Habiskan Rp 1,44 Triliun

NERACA

Jakarta – Keputusan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) melakukan buy back (pembelian saham di pasar) senilai Rp 1,44 triliun dengan alasan untuk menjaga fundamental harga saham persseroan berada di level Rp 6.000 per lembar menuai kecurigaan dari pelaku pasar.

Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Isaka Yoga mengatakan, aksi korporasi Tower Bersama dengan melakukan buy back saham di pasar dinilai besar dan ganjil,“Ini menimbulkan pertanyaan besar, saya tidak yakin TBIG lakukan buyback hanya untuk lakukan penyelamatan fundamental sahamnya. Apalagi resiko yang cukup besar akan terjadi jika harga sahamnya tidak kunjung naik atau kenaikannya hanya bersifat sementara,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Rabu (24/7).

Menurut dia, buyback saham bukanlah jalan terakhir yang harus dipilih emiten untuk selamatkan sahamnya. Karena bisa saja emiten tersebut melakukan buyback untuk kemudian menjual kembali sahamnya saat harganya tinggi, “Memang secara teoritis, dengan melakukan buyback, suplai sahamnya di pasar menjadi lebih sedikit sehingga harganya akan terkerek. Namun, ini cukup berisiko dengan kondisi pasar saat ini yang banyak disentuh oleh sentimen negatif dan dari global yang banyak membuat saham di BEI turun cukup banyak,”tandasnya.

Menurut dia, perseroan sebaiknya memanfaatkan dana sebesar Rp 1,44 triliun untuk membangun tower baru atau kerjasama dengan pihak lain yang membuat yang membuat aksi korporasi tersebut membantu menaikan sahamnya ketimbang melakukan buyback saham yang dinilai efektifitasnya belum optimal.

Sementara Kepala riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, setiap perusahaan dalam melakukan buyback memiliki perbedaan tujuan. Hanya saja, buyback yang dilakukan TBIG seharusnya dilakukan secara bertahap agar pasar bisa kasih sentimen positif dan kasih kepercayaan dengan membeli diatas pasaran,\"Kalau TBIG seharga itu, wajar saja, karena ini dilakukan untuk menjaga kestabilan sahamnya dan mereka pasti juga ingin melihat harga sahamnya baik,\" ujarnya.

Tidak hanya itu, aksi buyback yang dilakukan oleh TBIG tentunya harus diketahui publik berapa harga masuknya. Menurutnya, kalau dilihat nominalnya Rp 1,44 triliun itu relatif. Selain itu dia mengatakan, Perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebenarnya juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kestabilan pasar saham.

Reza mencatat, pergerakan harga saham emiten TBIG cukup stabil dan mengalami kenaikan di juli - november tahun 2012 lalu, hingga penurunan market kemarin akibat dampat kenaikkan BBM sejauh ini tidak ada masalah.

Tidak Jamin Fundamental

Kepala Riset PT Buana Capital, Alfred Nainggolan mengatakan, aksi korporasi buy back dilakukan karena harga saham suatu emiten yang beredar di pasar tidak menjaminkan fundamental perseroan. “Karena harga sahamnya terlalu murah, dengan adanya inisiatif melakukan buy back akan muncul tambahan demand sahamnya di bursa,”paparnya.

Menurut dia, untuk saham TBIG secara historis dikategorikan tidak likuid. Dari sisi volume yang ditransaksikan masih sangat kecil sehingga pelaku pasar melihat likuiditas sahamnya rendah. Karena itu, manajemen perseroan bermaksud menciptakan permintaan dengan masuk ke pasar melakukan pembelian terhadap beberapa sahamnya yang beredar.“Sangat perlu bagi TBIG, kapitalisasi pasarnya yang besar Rp26 triliun seharusnya mencerminkan kredibilitas yang bagus. Dan dalam kondisi pasar yang bearish saat ini cocok untuk buy back.” jelasnya.

Secara teori pun, sambung dia, aksi buy back menunjukkan TBIG confident terhadap kinerjanya ke depan. Karena adanya potensi tersebut sehingga pelaku pasar akan menilai positif pada saham emiten di pasar. Meski demikian, dalam pelaksanaan buy back ada mekanisme yang harus dipersiapkan perseroan terkait jumlah dana dan volume yang dibeli. “Selagi dana yang ada masih ada bisa saja, tapi nilai dan lembar sahamnya tidak boleh lebih dari 10%.” paparnya.

Sebagai informasi, Sekretaris Perusahaan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk Helmy Yusman Santoso mengatakan, hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) telah menyetujui buy back meskipun tidak semuanya menyetujui namun telah kuorum. Sebanyak-banyaknya 5% dari jumlah modal yang ditempatkan akan di beli kembali oleh perseroan. Saat ini jumlah saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 239.800.000 lembar.

Dia menambahkan, tujuan buyback saham untuk menjaga harga saham perseroan. Besaran dana yang telah disiapkan perseroan untuk pembelian kembali saham tersebut sebesar Rp 1,44 triliun yang bersumber dari kas internal, ““Dana tersebut sudah termasuk untuk biaya transaksi, biaya pedagang perantara dan biaya lainnya sehubungan dengan transaksi pembelian kembali saham perseroan,”paparnya.

Asal tahu saja, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk juga akan membeli sahamnya jika PT Indosat Tbk (ISAT) jadi melakukan penjualan sahamnya di TBIG. Pembelian saham yang akan dilepas Indosat nantinya harus sesuai dengan harga yang ditetapkan perseroan.“Kami siap saja jika Indosat lepas saham TBIG dengan harga yang ditetapkan perseroan”, ungkap dia. nurul/sylke/lia/bani

Related posts