Minat Investor Domestik Belum Besar - Cenderung Karena Dibujuk

NERACA

Jakarta-Masyarakat Indonesia dinilai masih belum terbiasa untuk berinvestasi. Investor yang berminat membeli produk investasi kebanyakan karena bujukan. Karena itu, investor domestik di Indonesia masih terbilang cukup minim dibanding potensinya. “Di Indonesia, investasi belum menjadi kebiasaan. Kebanyakan nasabah yang masuk berdasarkan bujukan-bujukan dari officer-nya.” kata Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Abiprayadi di Jakarta, Rabu (24/7).

Menurut dia, saat ini sebesar 95% masyarakat Indonesia masih menyimpan uangnya di perbankan, jauh ketinggalan dari India yang 33% penyimpanan uang masyarakat berada di sekuritas, dan 35% ada di Financial Advisor, sedangkan perbankan hanya 30% saja.

Di India, sambung dia, yang memiliki jumlah penduduk sedikitnya 1,2 miliar orang sudah terlebih dulu mengenal soal reksa dana sejak 10-15 tahun yang lalu dari pada Indonesia. Karena itu, untuk bisa mengembangkan investor Indonesia lebih besar lagi, peranan literasi keuangan menjadi sangat penting agar kemampuan masyarakat mengenai keuangan meningkat.

Selain itu, kata dia, perlu dilakukkannya penetrasi sekaligus meningkatkan pangsa pasar dari perusahaan sekuritas sendiri. “Saat melakukan edukasi di Aceh, minat mereka untuk mengetahui pasar modal sangat besar. Tapi belum ada AB (Anggota Bursa, red) di sana.” ujarnya.

Dia menjelaskan, bagi investor pemula dapat berinvestasi secara bertahap dan menentukan tujuannya berinvestasi. Namun, dia menyarankan agar investasi dalam jangka panjang sehingga tidak terpengaruh fluktuasi pasar dan dapat memberikan imbal hasil yang menarik.

Sementara untuk saham, pilihlah sektor-sektor yang tahan banting. Artinya, dalam keadaan apa pun sektor-sektor ini akan selalu dibutuhkan dan dicari banyak orang, seperti sektor konsumer dan infrastruktur. “Kalau lihat sejarah investasi, cari yang paling tahan banting seperti konsumer karena kita selalu butuh makan, mandi, tetap makan mie instan, cari sektor konsumer yang jadi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.

Selain itu, sektor infrastruktur juga perlu diincar karena setiap tahun Indonesia pasti butuh pembangunan. “Kita kan pasti ada membangun jalan tol misalnya, bandara, pelabuhan, semua perusahaan infrastruktur pasti dibutuhkan,” ucapnya.

Selain saham, pilihan lain adalah reksa dana saham untuk yang masih berusia muda dengan investasi jangka panjang dan reksa dana pendapatan tetap untuk investor jangka pendek. “Return reksa dana saham yang rata-rata 20% per tahun dan reksa dana pendapatan tetap sekitar 8% per tahun bisa jadi pilihan juga untuk investor muda dan tua,” jelasnya. (lia)

Related posts