Produksi Gas RI Gagal Capai Target - Perawatan Kilang Jadi Alasan

NERACA

Jakarta -Ditargetkan produksi gas nasional dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) pada semeter I/2013 sebesar 7.175 miliar british thermal unit per hari (bbtud), akan tetapi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas bumi (SKK Migas) melansir laporan yang menyebutkan produksi di semester I/2013 hanya mencapai 6.998 bbtud. Hal tersebut diungkapkan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini di Jakarta, Rabu (23/7).

Menurut dia, belum tercapainya target disebabkan adanya beberapa kendala dan perbaikan perawatan pada kilang-kilang migas, sehingga membuat kegiatan operasi migas sedikit terhenti. \"Tapi ada turn around (pemeliharaan) Tangguh, turn around-nya Total sehingga kompresi kecil,\" ungkapnya.

Namun, Rudi yakin produksi gas nasional yang ditetapkan dalam APBN-P 2013 bisa tercapai. \"Namun, kami optimis sampai akhir 2013 bakal melebihi target APBN,\" tuturnya.

Kepala Divisi Pemanfaatan Gas SKK Migas, Popi Ahmad Nafis menyatakan, penurunan produksi gas disebabkan pemeliharaan kilang LNG Tangguh, Papua, lalu kilang Bontang, Kaltim, dan kerusakan trafo listrik di Cilegon, Banten. Namun hal tersebut akan dibantu oleh lapangan migas lain, sehingga produksi dapat sesuai dengan target. \"Namun, ke depan ada sejumlah lapangan yang akan menambah produksinya,\" tegasnya.

Lapangan tersebut diantaranya adalah, lapangan South Mahakam yang dikelola Total E&P Indonesie dengan tingkat produksi sebesar 115 juta kaki kubik per hari (mmscfd), lapangan Musi Timur dari PT Pertamina EP 20 mmscfd, Epic Sengkang 12 mmscfd, dan Ruby dari Pearl Oil Sebuku 6,7 mmscfd.

Lebih lanjut dikatakan Rudi, pihaknya memperkirakan cadangan gas yang dimiliki Indonesia sebesar 112 triliun kaki kubik (tcf) bakal habis 44 tahun lagi. Saat ini Indonesia hanya memiliki 1,7% dari total cadangan gas bumi dunia. \"Gas cukup positif cadangan terus meningkat 112 tcf, berumur 44 tahun ada kesempatan mencari pengganti,\" katanya.

Namun selain gas, lanjut dia, yang cukup kritis saat ini adalah cadangan minyak Indonesia yang hanya tersedia 12 tahun. Untuk itu, Rudi mengaku pihaknya telah mengintruksikan seluruh kontraktor migas untuk menggencarkan kegiatan eksplorasi guna meningkatkan cadangan minyak dan gas. \"Kita minta cari cadangan gas baru. Untuk itu makanya harus dieksplorasi secara masif. Untuk menambah cadangan-cadangan baru itu,\" ungkapnya.

Terkait dengan rencana kenaikan harga gas hulu, Rudi membantah jika pihaknya berencana untuk menaikkan harga gas bumi. Kenaikan dikatakan hanya opsi jika ingin mendapat alokasi gas lebih banyak maka harus harganya harus berubah mendekati keekonomian.

Ia mengatakan, harga rata-rata gas domestik saat ini sekitar US$5 per mmbtu. Sedangkan harga rata-rata gas internasional saat ini sekitar US$15 per mmbtu dan harga keekonomian gas berbeda-beda tergantung letak lapangan gas yang satu dengan lapangan gas lainnya. \"Kami memformulaikan kuota ekspor dan domestik dari suatu lapangan untuk mencapai harga keekonomiannya,\" kata Rudi.

Dia menuturkan selama ini secara tidak langsung gas tersebut telah disubsidi dengan mengurangi harga di hulu. Dengan harga yang terbilang belum mendekati nilai keekonomian tersebut, menyulitkan untuk menambahkan alokasi gas ke dalam negeri pasalnya lokasi lapangan gas saat ini ada di wilayah laut dalam. \"Tidak ada gas yang dinaikan SKK Migas, tapi logikanya kalau mau cadangan bertambah, alokasi ditambah maka harga gas harus baik mendekati keekonomiannya,\" ungkap Rudi.

Menurutnya dengan kondisi sumber gas yang sudah bergeser ke laut dalam, maka membutuhkan peralatan yang lebih canggin dan investasi yang besar dengan resiko yang besar pula. \"Karena sekarang lapangan gas adanya di laut dalam, makanya perlu peralatan yang lebih canggih dan investasi lebih besar. Wajar kalau harga gas saat ini tidak semurah dulu,\" tukasnya.

Kapasitas Produksi

Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo menyatakan, pemerintah tengah berupaya memaksimalkan kapasitas produksi gas dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi bahan bakar minyak (BBM). \"Kami berkomitmen bahwa keperluan gas untuk domestik harus dipenuhi. Gas ini akan digeber untuk menggantikan konsumsi BBM yang terus meningkat,\" kata Wamen.

Menurut Wamen, saat ini Perusahaan Listrik Negara (PLN) harus membayar Rp 6 miliar dalam setahun untuk biaya konsumsi enam juta kiloliter BBM yang digunakan dalam produksi listrik dengan daya sebesar 1.500 megawatt.

Sehingga, menurut Wamen Susilo Siswoutomo, upaya untuk mengganti mesin pembangkit listrik yang menggunakan BBM dengan pembangkit listrik tenaga alternatif harus dilakukan secara massal. \"PLN yang selama ini memakai genset diesel harus diganti dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau pembangkit mikro hidro, BBM ke BBG, ini harus masif,\" kata Wamen ESDM.

Susilo mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) sepanjang Pantura hingga Surabaya pada 2014. \"Supaya truk-truk itu bisa pakai BBG, tidak pakai solar,\" katanya.

Related posts