Penjualan Alat Berat United Tractors Anjlok 42%

NERACA

Jakarta- PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan penjualan alat berat hingga Juni 2013 sebanyak 2.452 unit atau turun 42,04% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 4.231 unit. Dari pencapaian tersebut, perseroan mencatatkan pangsa pasar penjualan alat berat semester pertama ini mencapai 41%.

Informasi tersebut disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan yang diterbitkan di Jakarta, Selasa (23/7). Disebutkan, penjualan alat berat perseroan untuk sektor pertambangan sekitar 48% hingga Juni 2013 dari periode sama tahun sebelumnya 60%, lalu disusul penjualan alat berat untuk sektor konstruksi mencapai 23%, di sektor agro tetap berada di level 21%, dan kontribusi penjualan alat berat untuk sektor kehutanan naik menjadi 8%.

Overbudden removal (rasio pengelupasan tanah) naik menjadi 414,5 juta ton dari periode sama tahun sebelumnya 407.3 juta ton. Sementara penjualan batu bara perseroan dari PMM dan TTA mencapai 2,16 juta ton hingga Juni 2013 dari periode sama tahun sebelumnya 3,04 juta ton.

Meskipun penjualan alat berat mencatatkan penurunan, Direktur Keuangan PT United Tractors Tbk, Gidion Hasan memprediksikan penjualan sepanjang 2013 akan relatif lebih baik, didorong harga batu bara. Untuk penjualan sparepart diprediksi akan mencapai 10%-15%. Hal itu dikarenakan pemilik alat berat lebih memilih penggantian daripada membeli alat berat baru. Sedangkan stripping ratio diperkirakan turun 5%. \"Harga batu bara belum naik jadi berpengaruh ke stripping ratio,\" kata Gidion.

Stripping ratio adalah perbandingan jumlah tanah kupasan penutup batu bara dalam satuan meter kubik padat (BCM) yang harus dibuang untuk menghasilkan 1 ton batu bara. Tahun ini UNTR akan menganggarkan belanja modal sekitar US$250 juta. Belanja modal tersebut turun dibandingkan belanja modal 2012 sekitar US$600 juta-US$700 juta karena asumsi harga komoditas yang belum terlalu baik pada 2013.Sebagian besar belanja modal perseroan akan digunakan untuk PT Pamapersada Nusantara.

Belum membaiknya sektor komoditas dinilai sebagian analis akan berimbas pada emiten alat berat. Analis dari CIMB Principal Asset Management Fadlul Imansyah misalnya, mengatakan masih terkoreksinya sektor komoditas berimbas pada sektor alat berat sehingga investor perlu mewaspadai kondisi ini ke depan. Pasalnya, sektor tersebut diproyeksikan masih negatif.

Sementara, analis saham dari Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, penurunan harga batubara tetap akan menimbulkan sentimen-sentimen negatif untuk emiten alat berat. Apabila harga batubara turun, akan timbul sentimen permintaan alat berat turun. Sehingga emiten alat berat akan terkena imbasnya, namun imbasnya secara tidak langsung. “Kalau dari sisi bisnis, saya optimis kinerja alat berat akan bagus.” jelasnya.

Faktor lainnya yang berpengaruh pada kinerja alat berat adalah faktor cuaca. Reza mencontohkan, apabila ada perusahaan tambang yang ingin membeli alat berat, namun ada pengaruh cuaca yang buruk, maka otomatis perusahaan tambang tersebut akan menunda pembelian.

Kemudian, sambung dia, ada juga faktor persaingan dengan perusahaan alat berat luar negeri. Terutama perusahaan dari Cina dan Korea. Persaingan emiten alat berat ini merupakan hal yang paling berpengaruh pada kinerja emiten alat berat. “Persaingan tersebut akan mempengaruhi demand pada emiten alat berat,” ujarnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Tekanan Makin Berat, Ekonomi Kian Melambat

Oleh: Djony Edward Sepanjang bulan Mei 2019 banyak sekali kabar buruk yang melanda ekonomi kita, setidaknya ada 9 indikator makro…

HARGA BAWANG MERAH ANJLOK

Pekerja menata karung berisi bawang merah di pusat perdagangan bawang komplek pasar Legi Parakan, Temanggung, Jawa Tengah Selasa (21/5/2019). Sejumlah…

AKIBAT BEBAN PENGELUARAN MASYARAKAT SEMAKIN BERAT - Pengamat: Tarif Baru Ojol Merugikan Konsumen

Jakarta-Pengamat transportasi mengungkapkan, perubahan tarif ojek online (Ojol) yang diberlakukan oleh Kementerian Perhubungan pada awal Mei 2019 ternyata berdampak merugikan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…