Waskita Karya Catatkan Kontrak Baru Rp6 Triliun

NERACA

Jakarta-PT Waskita Karya Tbk (WSKT) mencatatkan kontrak baru sebesar Rp6 triliun atau naik 9% pada semester pertama 2013 dibanding periode yang sama tahun lalu Rp5,5 triliun. Targetnya, sepanjang tahun ini perseroan dapat mengantongi kontrak Rp14,8 triliun, naik 23,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,7 triliun.

Direktur Utama Waskita Karya, M Choliq mengatakan, selain mencatatkan kenaikan kontrak, perseroan mencatatkan kenaikan penjualan semester pertama pada tahun ini. “Penjualan di semester satu 2013, sebesar Rp3,01 triliun dari sebelumnya hanya Rp2,7 triliun,” katanya di Jakarta, Selasa (23/7).

Dengan pencapaian tersebut, sambung dia, perseroan mampu mencetak laba bersih di semester pertama tahun 2013 sebesar Rp56,6 miliar atau tumbuh 53,3% dari sebelumnya sebesar Rp36,9 miliar. Hingga akhir tahun ini perseroan menargetkan laba bersih menjadi Rp363 miliar atau naik 30% dari laba bersih tahun lalu sebesar Rp254 miliar.

Pihaknya mencatat, pada semester pertama 2013, proyek yang digarap perseroan terbagi menjadi dua, yaitu proyek Join Operation (JO) dan Non JO. Proyek Non JO yang berada di wilayah Jakarta diantaranya, Royal Olive senilai Rp139,35 miliar, gedung arsip data elektronik di Rempoa Rp68,18 miliar, kedua proyek dari Kemendagri senilai Rp65 miliar, proyek Jembatan Kapuk Indah mencapai Rp238,18 miliar dan wilayah luar pulau Jawa seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera, Riau, Bangkabelitung, Banten dan wilayah-wailayah lainnya.

Sementara untuk proyek JO, perseroan bekerja sama dengan perusahaan kontruksi swasta. Perseroan mengikuti lima proyek Joint Operator (JO) seperti pembangunan terminal tiga pier dua di Angkasa Pura II dengan nilai Rp1,62 triliun. “Lalu dermaga petikemas Semarang (perpanjangan) senilai Rp69,65 miliar, rehab dan rekon bangunan Sabo Dam Merapi Rp104, 07 miliar, jalan ruas Sicicin-Malalak Rp53,52 miliar dan pengendalian sedimen BWKG S. Janeberang bag tengah paket C senilai Rp23,47,” kata Corporate Secretary dan Investor Ralation Waskita Karya, Munib Lusianto.

Belanja Modal

Tahun ini perseroan juga tengah mengincar proyek pengendalian banjir jakarta, jalan tol lanjutan Bawen-Solo, Jatim, dan proyek bendungan. Total belanja modal (capital expenditure/capex) yang dianggarkan perseroan tahun ini yaitu mencapai Rp400 miliar yang bersumber dari kas internal. Komposisi penggunaannya, Rp100 miliar untuk modal pengadaan peralatan dan Rp150 miliar untuk pengembangan bisnis properti.

Selain bisnis di jalan tol dan pembangunan pabrik beton, manajemen perseroan juga mengaku tengah melirik bisnis energi atau power plant. Rencananya bisnis energi ini akan dibangun di Sumatera Barat dan Bengkulu dengan kerjasama pemerintah daerah. Pembangunan power plant ini memiliki kapasitas 5 megawatt dengan nilai investasi Rp 150 miliar.

Untuk nvestasi di bisnis energi power plant ini, perseroan mengaku masih akan melihat kondisi perkembangan ke depannya, “Kita tidak mau besar investasi ini, karena masih baru. Namun ke depan seiring dengan kemajuan, maka bisnis ini akan terus dikembangkan,” ungkapnya.

Selama ini, perseroan sudah aktif mengerjakan proyek power plant atau Engineering, Procurement and Construction (EPC) milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Genyem Papua dengan kapasitas 5 megawatt, PLTU Malino di Sulawesi dan PLTU Rotte. (lia)

Related posts