Produksi Garam dan Gula Perusahaan BUMN Anjlok - Akibat Anomali Cuaca

NERACA

Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menyatakan bahwa dengan kondisi cuaca yang tidak menentu telah menyebabkan beberapa produksi gula dan garam tidak mampu menggenjot produksi komoditas tersebut secara maksimal akibat stok panen yang tipis.

Menurut Dahlan, salah satu contoh kasusnya adalah kinerja dari PT Garam (Persero) yang masih kurang memuaskan lantaran produksi garam menurun. \"Saat ini kinerja PT Garam masih jelek. Lihat saja hujan terus sehingga tidak bisa panen garam. Tiga bulan ini tidak bisa produksi, tapi karena cuaca ya mau bagaimana lagi,\" ungkap Dahlan di Jakarta, Senin (22/7).

Di sisi lain, dia menuturkan, sejumlah pabrik gula milik perusahaan pelat merah juga harus menanggung derita karena pertumbuhan pendapatan yang jauh dari harapan. \"Kalau pabrik gula masih bagus tapi tidak sebagus yang direncanakan. Petani tidak bisa tebang tebu, sulit dan mahalnya biaya pengangkutan, tebunya basah bercampur lumpur dan tingkat manisnya juga menurun,\" urai Dahlan.

Alhasil, lanjut dia, laporan keuangan produsen gula pelat merah tidak lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. \"Pertumbuhannya melorot 30%,\" tuturnya. Sebelumnya, diakui oleh Anggota Dewan Gula Indonesia Arum Sabil yang memperkirakan bahwa produksi gula pada 2013 akan menurun. Ia pun pesimistis rencana pemerintah untuk bisa swasembada gula pada 2014 akan terelasisasi. \"Saya justru melihat tahun ini akan di bawah tahun kemarin,\" ujarnya.

Pada 2012, ia mengungkapkan, produksi gula mencapai 25 juta ton namun tahun ini diperkirakan hanya berada pada kisaran 2,2 juta-2,3 juta ton. Tingginya angka panen tebu pada 2012 disebabkan faktor cuaca yang bagus pada periode penanaman di 2011. Menurut Arum, masa pertumbuhan vegetatif yang mencakup akar, batang, dan daun dinaungi iklim basah. \"Sebelum masuk ke kemarau waktu pertumbuhan vegetatif 2011 itu ada iklim basah, hujan yg terus menerus. Nah, masuk musim giling 2012 disitu langsung masuk musim kemarau sehingga produksi tebu tinggi, rendemennya bagus,\" katanya.

Namun, setelah musim giling 2012, tiba musim kemarau yang kurang bagus untuk pertumbuhan vegetatif pada tahun ini. \"Saya melihat pertumbuhan vegetatif 2012 yang dipanen 2013 berdampak untuk saat ini, sehingga saya perkirakan untuk tebu juga akan turun,\" ucapnya.

Berkaca dari kondisi tersebut, ditambah faktor kapasitas terpasang pabrik gula, luas lahan, dan rata-rata rendemen maka swasembada gula 2014 pun akan sulit tercapai. Saat ini, Arum mengatakan, kapasitas terpasang pabrik gula di Indonesia sekitar 213 ribu ton cane per hari sementara luas areal 451 ribu hektare. \"Kalau ingin swasembada kuncinya lahan yang skrng 451 ribu hektare tingkatkan menjadi 750 ribu hektare. Kapasitas terpasang ditingkatkan menjadi 500 ribu. Produksi tebu dari rata-rata 80 ton per hektare naikkan menjadi 100 ton per hektare,\" ujarnya.

Adapun, rata-rata kandungan kadar gula di dalam batang tebu (rendemen) harus di atas 10%. Saat ini, rata-rata rendemen masih di angka 8%. Untuk itu ia meminta Kemenarian Badan Usaha Milik Negara untuk melakukan revitalisasi pabrik gula. \"Kuncinya bukan pada HPP gula. Sekarng klo HPP gula Rp8500 tapi rendemennya di bawah 7%, biaya produksi petani per kilo bisa di atas Rp10 ribu. Tapi kalau rendemennya 10%, produksi petani bisa di bawah 8 ribu,\" tuturnya.

Namun, apabila semua hal tersebut sudah dilakukan, ia memperkirakan, swasembada gula baru bisa terjadi 2-3 tahun kedepan. Dalam artian, sesudah 2014. Pada periode tersebut produksi gula sudah mencapai 7,5 juta ton per haktare. Cukup memenuhi kebutuhan nasional yang tidak mencapai 5 juta ton per tahun.

Tekanan Krisis

Jika hujan tak kunjung berhenti maka Indonesia diperkirakan bakal mengalami krisis garam pada September. Wakil Ketua Yayasan Pemberdayaan Garam Rakyat, Sidih Asmono mengatakan, para petani garam tidak dapat memproduksi garam akibat hujan di musim kemarau. Dia menceritakan, petani garam biasanya sudah mulai berproduksi pada bulan Mei dan Juli masuk musim panen tahap pertama. Kemudian disusul panen raya garam pada Agustus mendatang. Sementara itu, kata dia, harga garam saat ini terus merangkak naik.

\"Mulai bergerak naik, satu bulan sebelumnya dari berkisar Rp 350 sekarang mulai bergerak mendekati Rp 470 sampai Rp 500 rupiah. bagi petani ini merupakan satu hal yang baik untuk meningkatkan pendapatannya. Namun, di satu sisi juga ketersediaan garam dalam dua bulan ke depan akan banyak terserap, sehingga September itu kritis. Mudah-mudahan musimnya berpihak pada kita untuk memasuki musim yang lebih kering,\" ungkapnya.

Related posts