Banjir Kendal Rusak 90 Kapal Nelayan - Sektor Perikanan Tangkap

NERACA

Kendal – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengunjungi wilayah dampak bencana banjir bandang di Desa Rowosari, Kecamatan Rowosari, Kendal, Jawa Tengah. Setelah aliran air Sungai Kutho meluap sehingga mengahancurkan tanggul sungai, teridentifikasi 1.600 rumah di perkampungan nelayan itu rusak. Juga merusak 90 kapal nelayan yang biasa bersandar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tawang Kendal, 11 di antaranya tenggelam. Kerugian ditaksir mencapai Rp 1 miliar.

“Nelayan yang gak mampu melaut akan diberi bantuan. Tapi memang program ini tidak direncanakan. Sehinga kita nanti akan mencari bagaimana menyisihkan dana untuk ini. Sekarang kami sedang koordinasi sama Kemensos dan BNPB, juga kemungkinan dengan PU. Dan yang lainnya sedang dikumpulkan,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sharif C Sutardjo, di Kendal, Jawa Tengah, Rabu (17/7).

Kemudian, Sharif juga mengaku pihaknya tengah menghubungi Menkokesra untuk meminta bantuan mengenai pengeluaran yang tidak direncanakan ini. Sehinga nanti dapat ditemui bagaimana cara menyisihkan alokasi budgetnya. Karena memang peristiwa penanggulangan peristiwa ini sudah semestinya menyangkutkan berbagai macam pihak terkait seperti BNPN dan PU. “Sementara ini Pemda tengah mendata kerugian akibat banjir bandang. Dengan data tersebut, KKP akan menginventarisir untuk mengetahui apa saja yang bisa kita bantu,” katanya.

Mengenai pengembalian kapal yang hilang Sharif mengaku belum dapat memastikan. Pastinya kedatangannya ke Kendal untuk meninjau bagaimana mengangkat kapal-kapal yang tenggelam dan rusak untuk diperbaiki. Begitu juga dengan tanggul yang jebol dan yang ada dalam keadaan kritis. Menurutnya, KKP masih menunggu kabar koordinasi dari PU, Mensos, dan BNPB untuk pertangungjawabannya.

“Ini penting, siapa bantu apa. Kalau jelas nanti kita juga akan perbaiki rumah yang rusak kok. Mengenai target rentang waktu pemulihan saya juga belum tahu, tapi Insya Alllah minggu ini. Kan musti dengar laporan resmi dulu,” tegasnya.

Tapi sejauh ini pemerintah telah membuat prioritas. Sharif mengatakan dengan upaya Bupati Kendal dan bantuan KKP dengan memberi sembako untuk 250 kepala keluarga ini dapat dianggap sebagai langkah pertama. Rencana selanjutnya pemerintah akan merencanakan segera menggulirkan Program Peningkatan Kehidupan Nelayan (PKN) , Pengembangan Usaha Mina Perdesaan (PUMP), Sertifikat Hak Atas Tanah Nelayan (SHATN), Pengembangan Desa Pesisir Tangguh (PDPT), dan Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) di Kendal.

Di lain pihak, nelayan mengaku mengalami kerugian sebesar Rp 40 juta lebih termasuk kerusakan kapal dan kerugian tidak melayar. Sebabnya, sekarang sedang musim ramai. Laut sedang berlimpah udang, cumi, dan berbagai macam ikan. “Semenjak banjir tidak pernah melaut. Kerugiannya jelas sangat besar karena sekarang sedang musim ramai,” kata Sampun, nelayan setempat yang kapalnya tenggelam dan belum ditemukan.

Menurut Sampun bantuan sangat lama datang. Sudah hampir seminggu tidak ada dukungan apa-apa dari pemerintah. Sehingga itu ia terpaksa berhutang dengan saudara dan teman untuk membantu perekonomian keluarganya. “Kita hidup di laut, kalau tidak melaut ya tidak hidup. Di lepas di darat, bisa apa kita,” tegasnya.

“Kita tidak minta apa-apa, hanya bantuan perbaikan kapal dan pencarian kapal bagi yang belum ditemukan. Karena sehari kapal kita mampu menampung 2 ton jumlah tangkapan kok. Jika diuangkan bisa mencapau Rp 1 juta per hari, ya kita anggap itu cukup untuk memenuhi kebutuhan,” jelas Sampun.

Related posts