Awas, Yakuza Merambah Indonesia - Richard Susilo, Komisaris Japanese Language School

Richard Susilo

Komisaris Japanese Language School

Awas, Yakuza Merambah Indonesia

Siapa yang tidak tahu apa itu Yakuza? Yakuza secara harfiah artinya angka 8-9-3, yaitu kombinasi angka terburuk dalam permainan kartu hanafuda. Tapi, yazuka dalam arti luas saat ini adalah istilah tradisional untuk menyebut gangster yang ada di Jepang.

Aktivitas yakuza identik dengan kegiatan kejahatan atau dunia hitam. Misalnya pencucian uang, pemerasan, perdagangan orang dan prostitusi, perjudian, perdagangan ilegal, asuransi dan investasi palsu, pemerasan, penyelundupan, yang berujung pada pembunuhan Mereka juga pandai berkolabrasi dengan pejabat dan politisi untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Musuh yakuza tentu saja adalah polisi dan masyarakat, juga pengusaha.

Apa hubungannya dengan Indonesia? Richard Susilo, pemilik Japanese Language School yang ada di Gading Serpong, Tangerang Selatan, dan di Renon, Bali, mengingatkan, saat ini yakuza sudah masuk ke Indonesia. “Saya ingatkan, kita semua agar waspada dengan aksi kejahatan orang yakuza di Indonesia,” kata Richard di sela-sela peluncuran buku karangannya yang berjudul ‘Yakuza Indonesia’, akhir pekan lalu di toko Gramedia, Pondok Indah, Jaksel. Sebelumnya, Richard juga telah meluncurkan situsnya khusus tentang yakuza, yaitu http:/yakuza.in/ awal tahun ini.

Masuk di Indonesia, para yakuza berkedok sebagai investor, karenanya, walaupun preman, mereka lebih banyak berhubungan dengan orang kaya yang punya duit banyak. Sebab, tujuan dari kegiatan kelompok gangster itu adalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dengan segala cara. Karena itu, dia yakin tak mungkin yakuza nongkrong di Tanjung Priok.

Peringatan Richard juga berdasarkan laporan dari majalah mingguan Jepang Asahi Geino yang menyebutkan bahwa tahun 2013 akan ada banyak yakuza yang merambah ke luar negeri, termasuk Indonesia. Sebab, peluang bisnis hitam di negerinya sendiri sudah semakin terbatas, karena Pemerintah Jepang sendiri sudah mengesahkan Botaiho atau Undang-undang Anti-sindikat Kejahatan Terorganisasi Jepang yang sasarannya adalah mempersempit gerak yakuza (UU Anti-yakuza).

Yang paling mudah dilakukan kelompok yakuza ke Indonesia adalah pencucian uang kotor mereka melalui transaksi perdagangan dan investasi, termasuk bermain di bursa saham. Mereka juga merambah ke sektor properti, konstruksi, konsultasi bisnis, perjudian, dan percetakan. Yang penting bagaimana uang yen masuk jadi rupiah, disimpan di bank dan memperoleh bunga tinggi. Kalau di Jepang bunga simpanan hanya sekitar 1%, di Indonesia, bunga simpanan atgau deposito cukup tinggi dibandingkan di negerinya sendiri.

Mereka dengan gampang mereka membawa masuk uang 100 juta yen masuk ke Indonesia secara tunai agar tak mudah terdeteksi. Sebab, 100 juta yen banyaknya satu bendel uang 10 ribu yen. Di Jepang sendiri, mereka juga menwarkan proyek investasi di Indonesia dengan iming-iming imbalan yang tinggi. Tapi proyek investasi itu ternyata bodong.

Pengamat Yakuza

Lalu, siapa sebenarnya Richard Susilo itu, selain pemilik Japanese Language School (JLS)? Dia adalah wartawan Indonesia yang sejak 1991 tinggal di Tokyo bersama keluarganya. JLS sendiri di bawah naungan PT Pandan College yang didirikan pada 16 April 2007. Lulusan MBA dari America Business Management itu orangnya gaul. Karena itu dia aktif menjadi komandan sejumlah organisasi profesi di Jepang. “Tapi, pertama kali tiba di Jepang pada 1 Oktober 1983 saat itu nilai 1yen sama dengan Rp 1,” kata Richard dalam bukunya.

Di antaranya, pernah menjadi koordinator Forum Ekonomi Indonesia – Jepang (JIEF) hingga 2004 dan menjadi pemred Majalah Ekonomi Jepang – Indonesia (JIEF). Direktur Japan Spa Associaton (JSPA). Sebagai wartawan, dia pernah tergabung di Persatuan Wartawan Jepang (Kinsha Klub), dan Klub Wartawan Asing Jepang (FCCJ). Pernah pula menjadi penyiar Radio Jepang NHK (1997-2003). Richard juga menjadi kolumnis di sejumlah media Jepang, berbagasa Inggris maupun bahasa Jepang. Antara lain, The Japan Times, Asahi Evening News, dan FujiSankei Business-i.

“Selama 20 tahun dengan naluri kewartawanannya, saya meneliti seluk-beluk tentang yakuza, hingga menerbitkan situs dan buku khusus tentang yakuza,” kata pria kelahiran Jakarta pada 1961 ini. Hal itu dilakukan melalui berbagai pengamatan langsung baik liputan, wawancara, maupun riset. Sebelumnya dia berhasil menerbitkan buku berbahasa Jepang, yaitu Indonesiajin Gaikokan no me kara mita Nihon (Melihat Jepang dari Kacamata Diplomat Indonesia) pada 2007).

Dia beruntung saat datang ke Jepang, pemerintah di sana sudah mulai membatasi gerakan yakuza dengan diterbitkannya UU Anti-yakuza dan hingga Oktober 202 telah direvisi untuk ke-34 kalinya. UU itu memuat 21 larangan bagi yakuza, termasuk larangan membuka rekening bank, masuk restoran, klub malam, pemandian umum, dan larangan masyarakat bergaul dengan mereka. Tempat-tempat umum itu bahkan memasang rambu-rambu larang masuk bagi orang yang bertato. Tato adalah ciri khas tokoh dan anggota yakuza.

Ada dua kali pengalaman yang tak terlupakan karena sempat terancam jiwanya. Yaitu saat mewawancarai istri orang yakuza yang ternyata perempuan asal Pontianak. Yang kedua, sopir taksi yang membawanya disetop mobil orang yakuza, pistol sudah ditodongkan ke dahi. Untung kemahirannya berbahasa Jepang ikut menyelamatkan jiwanya.

“Tidak sulit belajar bahasa Jepang, yang penting konsentrasi dan fokus belajar, saya sendiri MBA dari Amerika,” kata Richard kepada Neraca. Sebelum menutup perbincangan, dia mengungkapkan, ada kesamaan kultur antara Jepang dan Indonesia, yaitu adanya budaya ketimuran, yaitu budaya sungkan. (saksono)

Related posts