Hindari Risiko, Kurangi Porsi Saham Ritel - Dampak Inflasi dan Pelemahan Rupiah

NERACA

Jakarta-Berbeda dengan tahun sebelumnya, kinerja saham-saham ritel dinilai juga akan terkena dampak dari kenaikan inflasi dan BI rate. Terlebih dengan nilai tukar rupiah yang semakin melemah. “Turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar akan berimbas pada emiten-emiten ritel yang memiliki eksposur dalam bentuk mata uang dolar, baik berupa utang maupun beban pembelian.” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (16/7).

Menurut dia, selain terkena dampak dari pelemahan bursa regional, sentimen internal Indonesia saat ini kurang mendukung kinerja emiten di sektor tersebut. Terjadinya kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu kenaikan inflasi akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Selain itu, adanya kenaikan BI rate juga akan memicu lonjakan suku bunga kredit. Alhasil, juga akan berimbas pada penyaluran kredit modal kerja bagi perusahaan dan kredit konsumer yang banyak digunakan oleh masyarakat.

Memang, sebelum kejatuhan pasar, kinerja sejumlah saham ritel jauh di atas kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sejak akhir Desember 2012 hingga 20 Mei 2013, pada saat kinerja IHSG mampu berikan return 20,81%, beberapa saham ritel berkapitalisasi besar secara rata-rata mampu mencetak return sebesar 72,65%. Terlebih selama periode tersebut, rilis kinerja keuangan tahun 2012 dan kuartal pertama 2013 dari para emiten tersebut memberikan rasa optimisme kepada pelaku pasar.

Catat saja, LPPF misalnya yang mencatatkan pertumbuhan 416,67%, TRIO 80%, MPPA 62,61%, MAPI 39,85%, RALS 25,41%, AMRT 14,29%, ERAA 11,02%, ACES 10,98%, dan HERO yang mengalami penurunan sebesar 6,94% dikarenakan laba bersih kuartal pertama 2013 turun 21,8% dan adanya rencana right issue perseroan.

Namun, pada periode berikutnya, selama periode 20 Mei hingga 15 Juli 2013 saat IHSG dilanda aksi jual dan melemah -11,11%, hanya ada dua saham ritel yang mampu bertahan, yaitu MPPA dengan pencapaian return 22,99% dan AMRT yang dapat mencapai return 5%. Sementara, saham-saham ritel lainnya mengalami pelemahan terdalam, antara lain ERAA yang turun 27,48%, kemudian diikuti oleh MAPI yang turun sebesar 24,73%, ACES -18,68%, HERO -18,01%, RALS -16,34%, TRIO -16,11%, dan LPPF -15,77%.

Oleh karena itu, dalam kondisi pasar saat ini Reza menyarankan pelaku pasar untuk mengurangi porsi pada saham-saham ritel. “Rekomendasi trading sell dengan memanfaatkan adanya apresiasi harga (jika terjadi) untuk kurangi posisi,” jelasnya.

Namun, sambung dia, pelaku pasar bisa mempertimbangkan saham di sektor tersebut hingga sentimen negatif di pasar mulai mereda. Apalagi dengan masuknya musim rilis laporan keuangan yang diharapkan dapat memperbaiki laju sahamnya.(lia)

BERITA TERKAIT

Hindari Pikiran Sempit Atasi Defisit

Oleh: Sarwani Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat akan perubahan cuaca yang sangat dinamis dengan potensi datangnya gejala El…

Trans Power Bagi Dividen Rp 26,6 Per Saham

NERACA Jakarta – Sukses mencetak pencapaian kinerja keuangan yang apik sepanjang tahun lalu, mendorong PT Trans Power Marine Tbk (TPMA)…

Danai Belanja Modal - Bima Sakti Lepas 625 Juta Saham Ke Publik

NERACA Jakarta – Di saat bisnis properti masih tertekan, rupanya belum menyurutkan rencana PT Bima Sakti Pertiwi untuk go public.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Wintermar Raih Kontrak US$ 75,8 Juta

Perusahaan pelayaran PT Wintermar Offshore Marine Tbk. (WINS) mengantongi kontrak berjalan senilai US$75,8 juta atau sekitar Rp 1,09 triliun dengan…

Bayar Utang Eksisting - TBIG Bakal Rilis Global Bond US$850 Juta

  NERACA Jakarta –Danai pelunasan utang yang jatuh tempo, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menerbitkan obligasi dalam denominasi dollar…

Kalbe Farma Tebar Dividen Rp 1,22 Triliun

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) membagikan dividen tunai kepada pemegang saham sebesar Rp1,22 triliun atau Rp26 per saham untuk tahun…