free hit counter

Produksi Perikanan Masih Andalkan Sektor Budidaya

Rabu, 17/07/2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan meningkatkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di industri perikanan. Melalui kerjasama dengan kelompok-kelompok terklasifikasi sebagai usaha yang memanfaatkan laut dan ikan sebagai sumber utamanya. Rencananya, langkah ini akan diresmikan sebelum tahun 2014.

“Realisasinya sudah berjalan, tapi belum resmi. Nanti Bapak Menteri akan meluncurkan secara terbuka. Dengan begitu, semoga semakin banyak kelompok usaha yang akan bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam program PDB satelit KKP ini,” kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) KKP Anang Noegroho pada acara buka bersama di kantor KKP, Senin (15/7).

Anang melanjutkan, klasifikasi usaha yang menjadi perhatian untuk bekerjasama terbagi dalam empat jenis kelompok usaha. Di antaranya kelompok perikanan tangkap, kelompok perikanan budidaya, kelompok pengolahan seperti manufaktur, dan kelompok jasa tirta. Untuk mendorong pertumbuhan melalui usaha subsektor KKP, besar kemungkinan kelompok-kelompok itu akan meingkatkan PDB nasional. “Jadi kita kumpulkan dari klasifikasi di lapangan yang ada. Sampai saat ini teridentifikasi empat kelompok yang menjadi fokus utama,” ujar dia.

Berdasarkan data tahun 2011, kelompok perikanan budidaya dan kelompok perikanan tangkap masih berperan sebagai sektor primer PDB satelit KKP. Secara rinci pertumbuhan kontribusi perikanan budidaya menyumbang sebanyak Rp 117.153.211 (37,9%), perikanan tangkap sebanyak Rp 110.607.989 (35,8%), industri besar dan sedang Rp 12.402.977 (4%), industri mikro dan kecil Rp 7.300.722 (2,4%), perdagangan hasil perikanan Rp 49.775.394 (16,1%), perdagangan hasil pengolahan perikanan Rp 11.122.795 (3,6%) dan jasa wisata tirta Rp 369.373 (0,1%).

“Kalau dilihat, sektor perikanan budidaya merupakan sektor yang memiliki peranan paling penting dan menjadi penggerak utama dalam perekonomian bidang Kelautan dan Perikanan. Dan sejauh ini Pusdatin KKP mengidentifikasikan secara keseluruhan program PDB satelit ini telah membentuk kapital sebesar Rp 380 triliun. Dengan tren pertumbuhan per tahunnya bisa mencapai 7%. Artinya, ada potensi besar dalam PDB satelit,” tutur Anang.

Masih terkait dengan sektor perikanan budidaya, sebelumnya, Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Balitbang KKP) Achmad Poernomo mengaku KKP akan mendorong industri ikan hias di pasar internasional. Rencananya dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun ke depan, Indonesia akan bisa menyaingi Singapura. “Tugas kita sekarang merebut pasar dari Singapura,” kata Achmad pada acara Safari Ramadhan KKP di Balai Litbang Budidaya Ikan Hias Depok, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Padahal, menurut Achmad, Singapura tidak memiliki kekayaan biota laut. Namun, sebagai negara jasa mereka telah membeli ikan hias dari luar negeri seperti Indonesia dan Malaysia kemudian membudidayakannya. Dengan begitu mereka berhasil menguasai pasar ikan hias di tingkat internasional. “Kita akui selama ini pasar ikan hias internasional di kuasai Singapura, karena mereka memang punya fasilitasnya,” kata Achmad.

Permasalahan dalam industri ikan hias, terletak pada pembudidayaannya. Achmad mengaku kita harus berhasil memberikan kesehatan dan jaminan hidup terhadap komoditi ini. Selain itu ukurannya pun juga harus seragam, misalnya item jenis tertentu dihargai $ 1 per ekor dengan ukuran tiga inchi, maka semua yang seharga itu harus memiliki ukuran yang sama. Jadi kesulitan industri ikan hias memang terletak dari penjagaan kualitasnya. Karena ikan yang dikirim ke luar negeri tujuannya untuk bisa hidup selama beberapa bulan dan tetap berkulitas bagus. ”Jangan begitu ditaro sana (luar negeri) eh ikannya mati. Nah, kelebihan Singapura yang tidak kita miliki mereka bisa mengatasi itu,” ungkap Achmad.

Ahmad menjelaskan, sebetulnya industri ini memiliki potensi yang menggiurkan dengan pemasukan melalui ekspor senilai ratusan ribu dollar per tahunnya. Sambutan eksportir juga terbilang bagus, KKP setiap tahun ikut pameran ikan hias Jerman dan Singapura. Untuk dalam negeri juga ada pameran tahunan di Jakarta.

Topik Terkait

Jasa manufaktur pada budidaya ikan