Menperin Ingin Pertahankan Pertumbuhan Industri - Persaingan di Pasar Global Kian Ketat

NERACA

Jakarta – Menteri Perindustrian MS Hidayat mengaku akan terus mempertahankan pertumbuhan industri nasional. Pertumbuhan industri, lanjut Hidayat, harus dipertahankan agar peranannya pada Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional tetap signifikan sesuai dengan target yang telah ditetapkan sebesar 30% pada 2025.

“Perlu dilakukan upaya-upaya yang lebih strategis karena kondisi ekonomi global ke depan masih belum menggembirakan dan persaingan di pasar global akan semakin meningkat. Terkait dengan penggunaan energi, pemerintah telah mengeluarkan PP. No. 70 2009 tentang Konservasi Energi yang mengharuskan pengguna energi lebih besar atau sama dengan 6000 setara ton minyak (Ton Oil Equivalent /TOE) per tahun wajib melakukan konservasi energi,” kata Hidayat pada acara sidang anggota Dewan Energi Nasional (DEN) di Jakarta, Senin (15/7).

Penggunaan energi untuk industri nasional mempunyai peran yang sangat penting bahkan bisa dikatakan menjadi tulang punggung pertumbuhan industri secara keseluruhan. Hidayat mengungkap kalau sektor industri merupakan pengguna energi sebesar 49,4% dari konsumsi energi secara nasional.

“Energi mempunyai peranan yang sangat penting dan menjadi kebutuhan dasar dalam pembangunan industri. Oleh karena itu, pemenuhan energi untuk mencapai target pertumbuhan industri menjadi faktor yang sangat penting,” ujar Hidayat.

Hingga saat ini, menurut Hidayat, sumber energi utama di Indonesia masih berasal dari energi fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam yang ketersediaannya sudah makin menipis. Sementara itu, ketersediaan sumber energi baru terbarukan seperti biomassa, tenaga air skala kecil, tenaga surya, dan tenaga angin masih dalam persentase yang kecil sebesar 5%.

“Sektor industri merupakan pengguna energi terbesar yaitu sebesar 49,4% dari konsumsi energi secara nasional. Pada triwulan I 2013, pertumbuhan sektor industri pengolahan non migas mencapai 6,69% lebih tinggi dari pada pertumbuhan ekonomi yang hanya 6,02%,” paparnya.

Berdasarkan hasil kajian Kemenperin pada tahun lalu, ada 7 sektor industri yang dikategorikan sebagai industri padat energi yaitu industri pupuk, pulp & kertas, tekstil, semen, baja, keramik dan industri pengolahan kelapa sawit yang pada umumnya masih boros penggunaan energinya. Sebagai contoh penggunaan energi pada industri baja di Jepang adalah 350 kWh/ ton produk, India 600 kWh/ ton produk sementara di Indonesia 900 kWh/ ton produk.

Oleh karena itu, program efisiensi energi merupakan prioritas pengembangan industri sebagaimana telah dilakukan pada pengembangan kendaraan bermotor melalui teknologi low carbon emission seperti electric car, hybrid, fuel cell/petrol/diesel advance engine dan bio fuel yang akan mengurangi emisi sekaligus menghemat bahan bakar minyak.

Konservasi Energi

Di tempat berbeda, pakar teknik konversi energi dari Politeknik Negeri Bandung, Tjatur Udjianto, memaparkan industri nasional perlu melakukan audit energi berkala agar mampu menyusun strategi konservasi lingkungan yang lebih efektif. “Ini amanah dari PP 70/2009 tentang Konservasi Energi,” kata Tjatur.

Menurut Tjatur, selain menunjang pelestarian lingkungan, kebijakan pemerintah tersebut juga dapat mengurangi biaya produksi tanpa berpengaruh terhadap kualitas produksi. Dengan audit, bisa diketahui efektivitas perusahaan dalam hal penggunaan energi.

Di samping itu, audit energi juga merupakan metode untuk mengukur efisiensi penggunaan energi terhadap produktivitas yang dihasilkan. Sehingga, perusahaan yang telah memiliki data rasio konsumsi energi dapat melakukan perbaikan dan optimalisasi penggunaan energi.

Dengan program konservasi energi itu, kata Tjatur, sebenarnya perusahaan pun memperoleh manfaat ekonomi secara langsung. Perusahaan menjadi lebih kompetitif dengan berkurangnya biaya energi. “Dampak akhirnya, ketersediaan dan harga energi bagi industri menjadi stabil,” katanya.

Related posts