Apa yang Bisa Kita Petik dari Krisis Mesir? - Oleh: Dr. Maringan Panjaitan, M.Si, Wakil Rektor III UHN Medan

Dunia kembali prihatin dengan apa yang terjadi di negara Mesir. Gerakan people rakyat yang dilancarkan oleh masyarakat Mesir justru menimbulkan korban jiwa. Kemarin pendukung Mursi 42 orang tewas hanya karena konflik perebutan kekuasaan. Untuk kesekian kalinya sebuah negara diperhadapkan pada pertarungan kekuasaan dengan melibatkan masyarakat secara massal. Apa dibalik gerakan people power ini? Benarkah ini memberikan arah perubahan yang lebih baik dengan cara mengorbankan nyawa masyarakat?

Gerakan people power yang dilakukan oleh masyarakat Mesir mampu menumbangkan Presiden Mohammed Mursi dari jabatannya. Padahal, Mursi yang merupakan pentolan Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai salah kekuatan politik (political power) di negeri Mesir punya basis yang kuat dan mengakar di masyarakat. Bahkan Mursi terpilih secara demokratis pada tahun 2011 melalui pemilu yang legitimed setelah rezim Hosni Mubarak tumbang. Inilah pemilu pertama yang paling demokratis di Mesir pasca musim semi Arab (Arab springs).

Mesir merupakan negara kedua yang menumbangkan Presidennya setelah terlebih dahulu Tunisia menumbangkan Presiden Ben Ali. Inilah musim semi Arab (Arab Springs) pertama dan kedua yang ditandai oleh makin menguatnya politik rakyat. Gelombang demokratisasi dengan satu tuntutan, perubahan telah memaksa para penguasa negara-negara Arab bertumbangan.

Moamar Khadafy yang dulu sangat kuat juga tumbang ditangan rakyatnya. Tidak ada yang bisa melakukan prediksi Khadafy bakan tumbang ditangan rakyatnya, sekalipun mendapat sokongan dari negara Amerika Serikat. Tsunami politik rakyat yang menuntut kehidupan yang lebih demokratis makin tidak terbendung di negara-negara Liga Arab.

Apa makna di balik fenomena gerakan people power di negara Mesir terhadap masa depan sebuah demokrasi? Benarkah Mursi tumbang karena proses penguatan negara demokrasi? Apakah Mursi gagal mengelola demokrasi sehingga menurut versi rakyatnya Mursi tidak banyak melakukan perubahan di negararanya.

Perubahan yang diharapkan adalah penguatan ekonomi rakyat, terciptanya pelayanan publik yang lebih prima, pemerintahan yang aspiratif dan membaiknya infrastruktur pembangunan. Semua ini tidak bisa terealisasi mengakibatkan masyarakat kehilangan kesabarannya.

Kondisi politik yang tidak stabil karena Mursi sibuk dalam mengadopsi berbagai kepentingan bisa kita pahami. Gejolak politik (turbulensi) yang terjadi membuat program pembangunan bukan lagi skala perioritas. Mursi lebih banyak mengamankan kekuasaannya (power security) dengan membangun berbagai konsensus bagi lawan politiknya. Akibatnya, kepentingan rakyat yang seharusnya diperjuangkan dalam proses politik (political process) tidak kunjung terwujud. Inilah yang memicu munculnya protes dari rakyat secara spontan. Rakyat turun ke jalan dan meminta Mursi untuk rela turun dari tahtanya yang menurut mereka sudah gagal.

Ironisnya lagi, tuntutan rakyat supaya Mursi mundur diback up oleh pimpinan militer dan oposisi yang sejak awal tidak menginginkan Mursi untuk berkuasa. Apa dibalik dukungan militer ini masih menjadi tanda tanya besar. Apakah kaum oposisi dan militer memanfaatkan momentum ini hanya karena perebutan kekuasaan semata? Benarkah pemerintah transisi yang dibentuk akan mampu mempersiapkan pemerintahan yang lebih demokratis dalam rangka membuat masa depan Mesir lebih baik?

Harapan Masyarakat Mesir

Harapan masyarakat Mesir hanya satu, perubahan yang lebih cepat atau adanya keseriusan pemerintah dalam mengurusi negara supaya rakyat Mesir bisa hidup lebih baik. Rakyat Mesir mengharapkan reformasi ekonomi bagi negaranya untuk mengangkan Mesir dari kemiskinan.

Memang Mesir punya potensi sumber daya alam yang sangat bagus. Panorama alam menjanjikan untuk menjadi negara pengekspor minyak dan destinasi wisata mengingat negara Mesir kaya dengan peradaban yang sangat kuno dulu. Di negara Mesir banyak dijumpai situs-situs sejarah yang bisa memikat daya tarik wisatawan dunia. Menjadi tujuan wisata dunia sangat memungkinkan di negara Mesir. Tetapi itu bisa terwujud apabila negara ini dalam stabilitas yang tinggi. Tentu dibutuhkan stabilitas keamanan bagi negara Mesir agar menjadi destinasi wisata dunia.

Pasca tumbangnya Presiden Mursi ditangan rakyatnya dan oposisi, serta Ketua Mahkamah Konstitusi tertinggi Mesir Adly Mansour ditunjuk sebagai pelaksana pemerintahan transisi yang dianggap sebagai peta jalan (road map), apa pelajaran yang bisa kita petik dari kasus ini dalam konteks pengembangan dan pembangunan kualitas demokrasi di negara kita? Jawabnya kekuasaan tidak boleh disalahgunakan (abusied of power), sekecil apapun.

Segala bentuk praktik penyalahgunaan kekuasaan akan berujung pada tumbangnya pemerintahan. Saat ini masyarakat mulai sadar dan kritis dan akan melakukan perlawanan pada pemerintahan yang zalim dan culas. Masyarakat makin menyadari bahwa merekalah sebenarnya pemilik kedaulatan. Kekuasaan yang dikelola oleh elite politik hanyalah semacam kontrak yang diberikan oleh masyarakat. Maka, segenap politisi, elite politik harus menggunakan semaksimal mungkin menggunakan kekuasaan untuk kepentingan rakyat yang lebih besar.

Kemiskinan, korupsi, minimnya infrastruktur, krisis pelayanan publik harus dianggap sebagai dosa besar sebagai wujud dari gagalnya demokrasi dan pemerintahan. Jika angka kemiskinan dan angka korupsi masih sangat tinggi, inilah bukti sahih dan paling nyata bahwa kekuasaan sudah disalahgunakan sebagaimana yang dikatakan oleh Lord Acton bahwa kekuasaan cenderung korup.

Keberhasilan kekuasaan selalu diukur sejauh mana angka kemiskinan dan korupsi dapat berkurang secara signifikan. Maka segala upaya harus dilakukan oleh penguasa bagaimana menghadirkan kesejahteraan atau peningkatan kualitas hidup masyarakat bagi peningkatan keseajahteraan rakay atau perbaikan kualitas hidup masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan melihat bahwa negara serius diurus oleh politisi.

Masalahnya, apakah begitu sulit menghadirkan kebaikan dan kesejahteraan bagi rakyat jika politisi punya political will yang tinggi? Tentu tidak. Pencapaian kesejahteraan masyarakat sangatlah mudah kalau melihat rakyat adalah pemilik kedaulatan.

Kegagalan politisi negeri ini adalah karena terlalu menonjolkan kepentingan dirinya sendiri. Akibatnya semua sumber daya negara mereka kuasai dan perilaku korup mereka begitu membudaya. Belajar dari kasus negara Mesir, maka sudah saatnya politisi jangan menyalahgunakan kekuasaan sekecil apapun karena ini bisa memicu kemarahan rakyat yang semakin hari semakin kritis dan sadar betapa mereka menyadari bahwa merekalah pemilik kedaulatan.

Pelajaran dari negara Mesir adalah pelajaran yang sangat berharga dimana penyalahgunaan kekuasaan akan tunduk pada nilai keadilan yang diperjuangkan oleh masyarakat. (analisadaily.com)

Related posts