Pasar Modal Indonesia Dinilai Dangkal - Minim Investor Ritel

NERACA

Jakarta- Perusahaan pemeringkat internasional, Moody’s Investor Services menilai pasar modal Indonesia masih cukup ‘dangkal’ karena masih terbatasnya jumlah investor ritel Indonesia di pasar surat berharga pemerintah. Selain itu, ketidakpastian kebijakan pemerintah juga ikut mempengaruhi sentimen di negatif di pasar.“Ketidakpastian regulasi dan kebijakan dapat terus mempengaruhi sentimen menjelang pemilihan umum 2014 mendatang,” jelas tim analis Moody’s, Christian de Guzman yang merupakan Vice President-Senior Analyst Sovereign Risk Group dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu (10/7).

Bahkan, untuk saat ini Moody\'s menempatkan prospek surat utang yang akan diterbitkan pemerintah berdominasi dolar Amerika Serikat (AS) di level stabil. Hal tersebut didasarkan pada penilaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai lebih rendah dibandingkan pertumbuhan produk domestik bruto. “Kenaikan inflasi, pengetatan kebijakan serta harga yang lebih rendah untuk ekspor komoditas Indonesia dapat membebani pertumbuhan ekonomi domestik pada 2013.” jelasnya.

Menurut Christian dan koleganya Bart Jan Sebastian Oosterveld (MD-Sovereign Risk Group), tren pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah tidak jauh berbeda dengan negara-negara lainnya dan masih tetap terjaga. Hal tersebut didorong pengelolaan anggaran fiskal yang hati-hati, defisit anggaran di tingkat yang rendah serta pengurangan beban utang pemerintah selama beberapa tahun terakhir (jika dibandingkan dengan pertumbuhan terhadap PDB).

Upaya tersebut, menurut dia, membuat rasio fiskal dan utang Indonesia menjadi tempat favorit bagi perusahaan berskala besar untuk menempatkan dana investasinya. Namun, di sisi lain Moody\'s melihat arus modal investor asing yang terus keluar dari Indonesia memberikan kontribusi pelemahan nilai tukar rupiah.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada pernah mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah masih dibayangi aksi lepas oleh pelaku pasar uang. Di sisi lain, lanjut dia, pelemahan rupiah juga dipicu imbas melemahnya mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. \"Apreasiasi dolar AS itu paska pengumuman data pasar tenaga kerja AS yang membaik sejak sehingga memunculkan kembali spekulasi penarikan stimulus The Fed,\" katanya

Nilai rupiah mengalami penurunan kembali, setelah pasar merespons negatif rilis perdagangan balance AS yang defisit karena tingginya impor setelah dipersepsikan adanya kenaikan permintaan terhadap barang-barang konsumer dan peralatan bisnis.

Di sisi lain, belum adanya kejelasan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), imbas rilis defisit neraca perdagangan Indonesia yang mencapai sebesar US$ 1,61 miliar karena penurunan ekspor dan imbas pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena aksi jual asing menambah sentimen negatif terhadap rupiah.\"Hal itulah yang membuat nilai Rupiah masih di zona melemah pada mata uang dolar Amerika,\" ucapnya.

(lia)

Related posts