Ulah Rent Seeker vs Kemiskinan

Sejarah negeri ini memperlihatkan fakta bahwa kemiskinan tidak muncul begitu saja tetapi terjadi secara sistematis seiring dengan meningkatnya korupsi yang marak belakangan ini. Kondisi sebagian rakyat yang berkubang dalam kemiskinan, sangat kontras dengan pejabat eksekutif dan legislatif.

Pemangku jabatan publik juga tak mau kalah dalam menghisap uang negara. Sejumlah mantan/ pejabat yang diadili dan dipenjara hanyalah puncak dari “gunung es” di negeri ini. Para pemburu rente (rent seeker) yang telah menjelma menjadi koruptor penghisap darah rakyat sejak lama, jumlahnya terasa makin mengkhawatirkan.

Korupsi tidak lagi menjadi lakon pejabat lanjut usia karena kalangan muda kini masuk dalam lingkaran itu. Lihatlah praktik yang dilakukan Gayus Tambunan atau Muhammad Nazaruddin, yang masih berusia muda. Bagaimana sesungguhnya korupsi menggurita dapat memiskinkan masyarakat?

Begitu pula melimpahnya sumber daya alam dapat menghambat pemakaian faktor produksi pada sektor yang paling produktif karena pemerintah tidak lagi fokus mengembangkan sektor unggulan. Sebaliknya, keterbatasan sumber daya alam mendorong orang lebih kreatif dan inovatif. Keterbatasan sumber daya alam memaksa negara untuk mencari, menggali, dan mengembangkan potensi dan berinvestasi pada sektor yang memberikan return yang tinggi.

Istilah perburuan rente mengacu pada pengejaran keuntungan ekonomi tanpa harus menciptaan nilai tambah. Menurut aliran pemikiran ini, negara yang kaya sumber daya alam sulit mengalami pertumbuhan ekonomi akibat eksploitasi kelompok berkuasa yang memiliki akses terhadap sumber produksi. Kelompok ini adalah pemburu rente ekonomi yang selalu mengincar sektor-sektor produktif dan menggunakan kekuasannya untuk mentransfer kekayaan negara.

Akibatnya, modal dengan cepat tergerus dan pemerintah mengalami kesulitan membiayai perekonomian negara. Negara terpaksa menaikan tarif pajak untuk mendanai pengeluaran negara. Namun, pajak yang tinggi akan mengurangi return dari modal yang digunakan dan akhirnya tabungan akan menurun. Kondisi ini akan makin menggerus modal dan berujung pada penurunan ekonomi nasional.

Pertumbuhan ekonomi makin tertekan ketika modal yang tersisa dialokasikan pada sektor-sektor yang kurang produktif, seperti sektor primer (pertanian). Ketika aktivitas pemburuan rente yang dilakukan oleh pejabat publik makin marak maka pendapatan agregat makin menurun.

Akibatnya, sumber daya yang tadinya digunakan dalam produksi tersedot untuk membiayai impor dan negara dengan cepat kekurangan modal. Ketidakmampuan negara menggerakkan roda perekonomian segera berimbas pada kesejahteraan warganya. Bila argumen tersebut dipakai untuk merasionalisasi apa yang terjadi,maka menjadi jelas keterpurukan Indonesia sebagian besar karena ulah dari para pemburu rente yang telah bermetamorfosis menjadi koruptor

BERITA TERKAIT

BPS : Rokok Pengaruhi Garis Kemiskinan

      NERACA   Jakarta - Kepala Subdirektorat Statistik Kerawanan Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Ahmad Avenzora mengatakan rokok…

Tahun Politik dan Kemiskinan

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019 nampaknya isu tentang…

Mensos Yakin PKH Kurangi 1% Kemiskinan

      NERACA   Yogyakarta - Menteri Sosial Idrus Marham meyakini Program Keluarga Harapan (PKH) akan kembali menurunkan 1…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Berebut Tahta Nomor Dua

  Oleh: Stanislaus Riyanta, Kandidat Doktor Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi UI Menuju pelaksanaan Pilpres 2019, koalisi yang sudah mengkristal…

Ganjil-Genap sebagai Warisan Asian Games 2018

  Oleh :  Bayu Herlambang, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia   Sebagai dampak perhelatan Asian Games 2018 kebijakan…

Ikhtiar Melihat Indonesia-Tiongkok Secara Benar

Oleh: Edy M Yakub Melihat dan mendengar adalah dua kata yang berbeda dan perbedaan keduanya juga mengandung makna yang sangat…