Analis : Pasar IPO Tidak Bisa Dikontrol

NERACA

Jakarta – Banyaknya penawaran saham perdana yang melesat dari target karena di picu fluktuasi indeks di Bursa Efek Indonesia menjadi pemicu sepinya peminat investor membeli saham-saham perdana.

Direktur Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Isaka Yoga mengatakan, pelaksanaan IPO saat ini menjadi tantangan karena ditengah fluktuasi indeks BEI. Menurutnya, IPO seperti seni karena tidak memiliki kepastian sehingga dibutuhkan 2 hal, yaitu kesiapan penjamin emisinya jika dana hasil IPO tidak mendapat dana sesuai target dan kesiapan emiten tersebut dalam menyiapkan perusahaannya untuk menjadi perusahaan publik.“IPO tidak bisa dikontrol oleh emiten dan penjamin emisi karena semuanya tergantung pasar. Jika ada perusahaan yang akan melakukan IPO, tidak perlu mengurungkan niatnya. Karena IPO dibutuhkan untuk kebutuhan jangka panjang sedangkan IHSG kondisinya jangka pendek dan tidak terbaca”, ujarnya di Jakarta kemarin.

Meskipun demikian, dia memprediksi hingga akhir tahun kondisi pasar akan tetap sama, dia meyakinkan bahwa dengan kesiapan penjamin emisi dan calon emiten IPO akan berhasil dan tidak merugikan emiten.“Jika terjadi dana hasil IPO jauh dari target, emiten tidak perlu khawatir karena ada penjamin emisi. Misalnya, jika targetkan Rp 300 miliar, pasti akan dapat jumlah tersebut karena ada penjamin emisi yang harus memenuhi tercapainya target tersebut”, jelas dia.

Karenanya dibutuhkan penjamin emisi yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas tinggi. “Penjamin emisi memiliki analis-analis yang dapat membaca kondisi pasar, sehingga disini dapat terlihat bagaimana kemampuan analis0analis tersebut dalam mewakili perusahaannya untuk membaca situasi pasar yang tidak dapat ditebak”, ujar dia.

Sementara itu, dia juga menjelaskan bahwa dana asing sifatnya memang sementara, penarikan dana asing karena mereka melihat di negara lain pasarnya lebih menguntungkan. “Memang penarikan dana asing mempengaruhi ekonomi kita maka kita butuk investor domestik yang lebih loyal terhadap pasar negaranya sendiri,”ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Utama AAA Sekuritas, Andri Rukminto pernah mengungkapkan, pelaksanaan IPO di tengah kondisi pasar saat ini berpengaruh terhadap jumlah penawaran saham dan harga saham yang ditawarkan. “Permintaan saat ini memang belum terlalu bagus sehingga bisa menurunkan size dan harga saham.” ucapnya.

Selain menyiasati jumlah dan harga saham yang dilepas, sambung dia, dalam melaksanakan IPO, perusahaan juga dapat menerbitkan waran saat IPO untuk menarik investor. “Kondisi penawaran juga menjadi pertimbangan. Kami juga baru berani melanjutkan rencana IPO ketika penawaran investor sudah 85% dari jumlah total saham yang dilepas. Jika sudah sampai segitu, maka prosesnya berlanjut,” jelasnya. (nurul)

BERITA TERKAIT

Pemprov Banten Gelar Pasar Murah Stabilkan Harga Bahan Pokok

Pemprov Banten Gelar Pasar Murah Stabilkan Harga Bahan Pokok  NERACA Serang - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melalui Dinas Perindustrian dan…

Permintaan Pasar Meningkat - Produksi Batu Bara Golden Energy Tumbuh 45%

NERACA Jakarta – Kuartal pertama 2019, PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT) membukukan pertumbuhan produksi batu bara 45%. “Produksi batu…

BBPOM Palembang Turunkan Tim Awasi Pasar Bedug

BBPOM Palembang Turunkan Tim Awasi Pasar Bedug NERACA Palembang - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Palembang, Sumatera Selatan menurunkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…