Koreksi Pasar Diyakini Tidak Pengaruhi Minat IPO

NERACA

Jakarta-PT Mandiri Sekuritas meyakini jalur alternatif pembiayaan di pasar modal melalui mekanisme penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) masih menarik di tahun ini. Manajemen perusahaan mengaku telah mengantongi mandat untuk merealisasikan rencana IPO atas empat perusahaan.\"Kami akan menangani tiga sampai empat perusahaan lagi. Kita harapkan terealisasi hingga akhir tahun ini,\" kata Direktur Capital Market Mandiri Sekuritas, Laksono Widodo di Jakarta, Selasa (9/7).

Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, menurut dia, pasar modal Indonesia sejauh ini telah menunjukkan kinerja yang positif. Selain itu, kebutuhan pembiayaan untuk pengembangan usaha perusahaan pada saat ini masih cukup tinggi. Oleh karena itu, sejumlah perusahaan masih percaya untuk melepas sahamnya ke publik di lantai bursa.

Dia mengatakan, perusahaan yang akan ditangani Mandiri Sekuritas antara lain bergerak di bidang manufaktur, agribisnis dan perdagangan. Pihaknya berharap dalam pelepasan sahamnya, perusahaan tersebut akan mendapatkan respon yang positif dari para investor.

Hingga akhir tahun ini, Mandiri Sekuritas menargetkan untuk melakukan proses 10 penawaran perdana saham dan 20 penawaran obligasi. Dari penawaran obligasi, perusahaan ditaksir memperoleh dana sebesar Rp71,4 triliun dan penawaran perdana saham sebesar Rp16,9 triliun.

Sejumlah kalangan dan analis menilai, dengan kondisi makro ekonomi saat ini dan proyeksi terjadinya kenaikan inflasi secara signifikan di tahun ini akan mempengaruhi kinerja pasar saham dan obligasi. Terlebih hal tersebut diikuti dengan pelemahan rupiah yang diprediksi masih akan berlanjut.

Potensi Bubble

Pengamat ekonomi, Yanuar Rizky misalnya, dirinya menilai bahwa di tengah pelemahan rupiah dan inflasi yang tinggi akibat dampak kenaikkan BBM akan terjadi potensi bubble di pasar saham dan obligasi pada semester ke 2 tahun ini. Oleh karena itu, menurut dia, investor harus selalu waspada terhadap pelemahan rupiah ini. “Pasar uang itu walaupun di recovery akan seperti itu lagi, karena itu investor harus waspadai hal ini,” ucapnya.

Soal penarikan dana masyarakat dari deposito ke obligasi, lanjut dia, tidak akan terjadi apa-apa. Pasalnya, pasar obligasi masih di situ-situ saja dan tidak berubah. Sementara itu, pengamat pasar obligasi dari Lembaga Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa mengatakan, ancaman inflasi dan terjadinya penarikan dana asing (capital outflow) yang ditengarai adanya rencana pemberhentian stimulus The Fed juga akan berdampak bagi kinerja obligasi ke depan.

Oleh karena itu, sambung dia, pemerintah atau Bank Indonesia harus mulai mengantisipasi agar harga obligasi tetap stabil dan tidak terlalu bergejolak sehingga dapat menarik pemodal maupun investor bermain di pasar obligasi.

Dia menilai, jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai sinyal lesunya pasar saham akibat sentimen ketidakpastian, secara umum seharusnya dapat membawa berkah bagi pasar obligasi. Namun, akibat ketidakpastian kebijakan pemerintah, hal yang terjadi justru sebaliknya. \"Data historis membuktikan bahwa memburuknya pasar saham, akan menjadi berkah bagi pasar obligasi, namun dengan asumsi kalau tidak ada ketidakpastian soal kebijakan pemerintah, sementara tahun ini pasar obligasi tertekan ketidakpastian plus kenaikan BI rate.\" jelasnya. (lia)

Related posts