Marhaban Ya Ramadhan, Selamat Datang Harga yang Melambung - Oleh: Maulana Syamsuri, Novelis

Sejumlah 15,5 juta keluarga miskin yang selama ini berwajah cemberut kini tampak ceria dan tersenyum. Sebab keluarga miskin itu akan segera menerima gelontoran duit sebesar Rp.9,8 triliun yang akan diperuntukkan sebagai kompensasi kenaikan harga BBM. Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) itu untuk bulan Juni, Juli, Agustus dan September 2013, masing-masing Rp150.000,- perbulan. Kompensasi yang dibagikan lewat jalur BLSM itu akan disalurkan lewat kantor pos.

Keluarga miskin itu boleh bernafas lega selama 4 bulan mendatang. Tapi masih jutaan warga yang tergolong miskin lainnya yang justru merasakan dampak yang amat berat. Mereka adalah karyawan toko, pelayan restoran, buruh bangunan, kuli pelabuhan, sopir angkot, buruh perusahaan kecil, buruh serabutan, karyawan home industri, serta pensiunan BUMN non bonafide dan banyak lagi.

Sejumlah warga miskin mendapat BLSM akibat pemerintah menaikkan harga jual BBM, premium dari Rp.4.500,- menjadi Rp.6.500,-. dan solar menjadi Rp.5.500.- Tidak dapat dibantah, bahwa kenaikan harga BBM akan berdampak sangat besar terhadap naiknya berbagai komoditi barang dan jasa.

Kenaikan BBM dipastikan berdampak inflasi terutama pada sektor transportasi Tidak hanya transportasi darat, tapi juga angkutan laut dan udara, tidak terkecuali angkutan sungai, danau, penyeberangan (ASDP). Yang akan sangat dirasakan oleh masyarakat adalah kenaikan tarip angkutan kota, angkutan antar kota, angkutan antar kota antar propinsi serta tarip kereta api.

Khusus di Kotamadya Medan, para pemilik angkutan kota jauh-jauh hari sudah memasang tarip baru, yakni Rp.3.800.- serta Rp.2.500.- untuk pelajar. Harga bahan pokok seperti sembako, telur, sayur mayur, daging, bawang, cabai, ikan, buah-buahan, sejak beberapa minggu yang lalu sudah merambat naik berkisar antara 20 persen hingga 30 persen.

Pola Pikir Intelektual

Beberapa kalangan intelektual negeri ini justru mendesak agar Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono, sesegera mungkin mengumumkan kenaikan harga BBM. Mereka berpendapat semakin ditunda, semakin tinggi ketidak pastian pasar dan semakin tinggi penyelewengan dan penimbunan BBM. Momentum yang sudah ada sebaiknya jangan disia-siakan.

Kebijakan menaikkan BBM sudah sepenuhnya di tangan pemerintah. Sementara paket kompensasi yang diisyaratkan SBY untuk mengambil kebijakan sudah di tangan pemerintah dan DPR sudah mengesyahkan Anggaran Belanja Negara Perubahan (APBN-P 2013). Pengesahan ini setelah melalui perdebatan alot di parlemen.

Kepala pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM Yogyakarta A.Tony Prasetianto berpendapat, pemerintah tinggal mengeksekusi kebijakan kenaikan harga BBM bersubsudi. Pemerintah harus merebut sentimen positif dari pasar yang selama ini cenderung negatif. Bila tetap ditunda, akan ada anggapan,bahwa pemerintah tidak becus mengelola fiskal.

Tahun Ajaran Baru

4 Fraksi di DPR, yakni PDI-P, Gerindra, PKS, Hanura, menolak rencana kenaikan harga BBM, berpendapat sama dengan wong cilik alias kelas bawah yang jumlahnya sangat besar justru berharap penerapan harga baru BBM jangan terlalu tergesa-gesa. Sebab saat ini rakyat kecil merasa terbebani oleh berbagai hal, antara lain bagi yang beragama Islam sedang menyambut datangnya bulan Ramadan.

Spanduk bertuliskan “Marhaban Ya Ramadan” mulai terpajang diberbagai tempat. Mesjid-masjid mulai dibersihkan dan dicat. Nyanyian berirama Islami mulai diperdengarkan menggantikan lagu-lagu dangdut, atau lagu-lagu berirama pop.

Yang lazim terjadi adalah setiap datangnya bulan suci Ramadan selalu diwarnai dengan naiknya harga barang kebutuhan sehari-hari.

Disamping datangnya bulan puasa, bulan Juli merupakan tahun ajaran baru. Warga banyak terfokus pada biaya pendaftaran bagi murid-murid baru, baik tingkat SD, SMP, SMA maupun sederajat. Tidak hanya uang pendaftaran, tapi juga diperlukan biaya yang sangat besar untuk pakaian seragam, buku-buku pelajaran dan biaya transportasi. Tidak jarang ada keluarga yang harus membiayai anak-anaknya sekaligus di tingkat SD, SMP,dan SMA. Banyak pula orang tua yang harus membiayai anaknya masuk perguruan tinggi yang biayanya tidak sedikit.

Kini, rakyat kecil sedang merasakan himpitan yang bertubi-tubi dan tumpang tindih. Yakni biaya kenaikan harga-harga dengan datangnya bulan puasa, lalu menyusul biaya pendidikan anak-anak. Belum tuntas kedua himpitan itu, muncul isu yang pasti akan terjadi adalah kenaikan harga BBM yang dipastikan memicu kenaikan harga-harga kebutuhan hidup sehari-hari.

Dengan pertimbangan itulah wong cilik berharap kenaikan harga BBM agar dapat ditunda dulu, hingga bulan-bulan mendatang. Rakyat kecil menyadari, bahwa kenaikan harga BBM akan memicu inflasi dan inflasi akan berakibat menurunnya daya beli masyarakat. Tidak dapat dibantah, bahwa inflasi akan menyebabkan warga miskin akan bertambah jumlahnya.

BLSM yang dipelesetkan orang menjadi “balsem” diharapkan benar-benar tepat sasaran. Harian Kompas dalam ruang opininya menurunkan karikatur tentang Dana Kompensasi BBM, yang menggambarkan peti uang berisi BLSM banyak diintai tikus-tikus. Karikatur ini mengisyaratkan, bahwa penyaluran kompensasi BBM sangat sarat dengan korupsi, penyelewengan dan hal-hal fiktif.

Pengalaman priode silam dalam penyaluran Bantuan Langsung Tunai di kantor pos, para penerima BLT bukanlah orang miskin. Mereka datang dengan sepeda motor baru, dengan menggenggam HP berharga mahal, jam tangan bagus, hiasan emas melekat pada dirinya dan penampilan keren sehingga mencerminkan, bahwa penerima BLT bukanlah orang miskin!

Yang diharapkan wong cilik, penyaluran BLSM harus benar-benar transparan, tepat sasaran, bukan diberikan kepada orang yang mampu. Selain itu juga diharapkan semoga yang akan datang BLSM agar dapat diberikan lewat sekolah-sekolah untuk bantuan buku dan seragam sekolah gratis, sehingga beban orang tua menjadi ringan. Selain itu, diharapkan kepada Bulog untuk segera melaksanakan operasi pasar, menjual kebutuhan bahan pokok dengan harga murah menjelang bulan Ramadan.

Pemeritntah sebenarnya menyadari, bahwa kenaikan harga BBM dituntut pengorbanan rakyat. Berilah rakyat kecil setetes harapan, yakni mengendalikan harga sandang pangan dan pemerintahpun harus punya jurus menekan tarif angkutan, sebab tarif angkutan yang tinggi akan memicu kenaikan berbagai produk, yang pada akhirnya mengundang inflasi. (analisadaily.com)

Related posts