Minim Informasi, Tren Saham UMA Terus Meningkat - Ada 49 Saham di Semester Pertama

NERACA

Jakarta – Setiap tahunnya tren saham yang masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) atau unusual market activity (UMA) cenderung naik. Tercatat tahun ini pada semester pertama 2013, jumlah saham yang masuk UMA mencapai 49 saham pada semester pertama 2013 dari periode sama sebelumnya 40 saham.

Pengamat pasar modal, John Veter mengatakan, saham masuk UMA tidak dapat diprediksikan. Meski demikian, peningkatan saham masuk UMA pada semester pertama 2013 ini karena banyak aksi korporasi yang dilakukan oleh emiten, “Selain itu, adanya harapan dan isu mengenai suatu emiten yang akan melakukan aksi korporasi membuat saham tersebut bergerak tidak wajar,”ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, saat ini banyak aksi korporasi seperti rights issue. Selain itu, pelaku pasar juga melakukan aksi jual beli di pasar negosiasi. Hal itu membuat pelaku pasar mengambil peluang dari transaksi dan ada harapan terjadinya aksi korporasi.

Dia menambahkan, selain rights issue yang cukup marak dilakukan, aksi korporasi lain seperti pembagian saham bonus dan akuisisi juga turut mempengaruhi pergerakan saham. Salah satu saham tersebut seperti saham PT Dyviacom Intrabumi Tbk (DNET). Saham ini masuk UMA pada 19 April 2013.

Hal itu karena pergerakan saham DNET di luar kebiasaan dibandingkan periode lalu. Pada awal Januari 2013, saham DNET hanya berada di level Rp240 per saham. Lalu saham ini terus beranjak naik, dan mencapai level Rp580 pada 19 APril 2013. Sebelumnya PT Dyviacom Intrabumi Tbk melakukan perubahan kegiatan usaha dari usaha teknologi informasi menjadi perusahaan investasi. Untuk mendukung perubahan kegiatan usaha itu, perseroan melakukan penawaran umum terbatas/PUT atau rights issue.

Sebelumnya, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Uriep Budhi Prasetyo pernah bilang, tingkat kepatuhan anggota bursa semakin membaik sehingga peringatan terhadap saham yang bergerak tidak wajar dapat terdeteksi lebih cepat, “Meningkatnya kepatuhan Anggota Bursa memungkinkan BEI dapat secara langsung mengetahui adanya saham yang bergerak tidak wajar atau masuk dalam kategori UMA,\"tandasnya.

Dia menambahkan, adanya \"Single Investor Indentity\" (SID) memberikan kemudahan pihak Bursa mengawasi pelaku pasar saham yang \"nakal\" dalam melakukan transaksi. Sebagai informasi, sebelumnya \'alert\' hanya di level AB. Sekarang, sudah ada di level investor.

Kata Uriep, saham yang masuk kategori UMA juga dapat berasal dari emiten yang kurang memberikan informasi ke publik sehingga hanya beberapa investor yang mengetahui rencana suatu perusahaan, “Jadi pergerakan saham tidak wajar sangat dipengaruhi tiga sisi, yakni dari AB, investor dan emiten itu sendiri,”ujarnya.

Tercatat saham PT Bank Ekonomi Raharja Tbk (BAEK) bahkan dua kali masuk UMA pada semester pertama 2013. Saham BAEK masuk UMA pada 29 Mei 2013 dan 23 Januari 2013. Saham BAEK masuk UMA karena terjadi peningkatan harga dan aktifitas saham BAEK yang di luar kebiasaan dibandingkan periode sebelumnya.

UMA adalah aktifitas perdagangan dan pergerakan harga suatu efek yang tidak biasa pada suatu kurun waktu tertentu di bursa yang menurut penilaian bursa dapat berpotensi menganggu terselenggaranya perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien. Pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran di pasar modal. (bani)

Related posts