WIKA Segera Selesaikan Proyek Mal di Libya

NERACA

Jakarta - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) makin memantapkan kinerjanya di luar negeri menyusul kepercayaan dari Pemerintah Libya untuk melanjutkan pembangunan proyek pusat belanja di negara tersebut.

Menurut Direktur Operasi WIKA Destiawan Soerwardjono, permintaan tersebut sejalan dengan apresiasi yang diberikan Pemerintah Libya kepada manajemen.

“Namun, Selama masih ada konflik dan pemerintahannya belum permanen kami belum akan ke Libya. Kami berharap akhir tahun ini bisa selesai konflik dis sehingga kami bisa melanjutkan pekerjaan membangun mal disana,\" ungkap dia.

Lucky Bayu Purnomo, Praktisi Pasar Modal menyatakan bahwa secara fundamental prospek WIKA masih cukup baik karena sektor yang dijalaninya merupakan sektor kebutuhan dasar. Seperti sektor lainnya, konsumer dan infrastruktur serta properti.

“Yang saat ini dilakukan WIKA akan memberi dampak fundamental yang baik namun dalam jangka pendek sahamnya akan rentan terkoreksi,\" ujar dia.

Dia mengakui, sentimen pasar dalam jangka pendek negatif dan rawan koreksi namun dalam jangka panjang sekitar 1-5 tahun dia memprediksi nilai buku WIKA masih cukup baik. “Walau ditekan pasar, sahamnya masih bertahan di tengah guncangan pasar. Pendapatan WIKA bisa melebihi target pendapatan tahun ini, karena kinerja perseroan disisa tahun ini aksi korporasinya akan berimbas terhadap pendapatan perseroan,\" ujarnya.

Sejak tahun 2011 lalu, WIKA menghentikan pembangunan proyek pusat belanja senilai US$ 11,5 juta atau sekitar Rp 104,4 miliar di Libya. Konflik yang tak kunjung reda menyebabkan WIKA kesulitan untuk menyelesaikan proyek tersebut hingga menghentikan proyek tersebut dan mengevakuasi pekerjanya untuk kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, WIKA menggandeng perusahaan lokal Libya, Solar Sahara Investment dengan mempekerjakan sekitar 500 orang, di mana 200 diantara pekerjanya adalah orang Indonesia.

Pada Juli tahun ini, perseroan akan menggarap proyek di Timor Leste dan Brunei Darussalam. “Di Timor Leste WIKA mengerjakan jembatan dan jalan tol senilai Rp 2 triliun, sedangkan di Brunei US$ 32 juta untuk bangun apartemen dan jalan layang,\" ungkap dia.

Pada 2013, WIKA menargetkan memperoleh kontrak senilai Rp 38,87 triliun, atau naik sebesar 21,15% dari target tahun 2012. Perolehan kontrak ini termasuk carry over dari 2012 sebesar Rp 18,12 triliun. Komposisi perolehan kontrak ini masih didominasi oleh induk perusahaan, dengan komposisi anak perusahaan yang berkontribusi 30%.

Dia menambahkan, perseroan sangat berminat untuk menggarap proyek infrastruktur di luar negeri karena potensi di luar negeri besar untuk infrastruktur khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Saat ini, perseroan sudah menggarap beberapa proyek di luar negeri, seperti membangun apartemen yang berada di Konstantinopel, salah satu kota besar di Aljazair. Selain itu ada pembangunan gedung perkantoran di Irak dan Myanmar

Dalam memperoleh proyek tersebut, perseroan memiliki enam strategi, yakni mempersiapkan pola management service, menggandeng lokal kontraktor dan juga mitra dari negara Jepang, Korea, dan Eropa. Selain itu, WIKA akan membentuk joint venture, Indonesia Incorporated atau gabungan BUMN, pembukaan kantor perwakilan, dan produk unggulan.

“Untuk garap proyek itu, kita bermitra dengan Jepang, Perancis, Italia, dan Amerika. Mereka lihat WIKA ini setaraf dan memenuhi persyaratan sebagai calon partner,\" terangnya.

Sebelumnya, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mendorong agar BUMN dapat menjadi perusahaan-perusahaan kelas dunia. WIKA juga akan menjajaki sejumlah potensi proyek pembangunan di luar negeri dengan membidik ekspansi ke sejumlah negara di kawasan Amerika Latin.

“Awal bulan Mei ada business council meeting, kami ingin melihat ada potensi apa. Sehingga kita juga mungkin bisa membawa mitra untuk investasi di Indonesia,\" ucap dia.

Sejumlah negara yang tengah dijajaki di kawasan Amerika Latin adalah Kolombia, Bogota dan Peru. Namun demikian, dia menyatakan proses yang dilakukan masih bersifat penjajakan. Selain negara-negara di kawasan tersebut, WIKA juga mengincar Afrika Selatan untuk proyek pembangunan gedung parlemen.

“Kita ditawarkan membangun gedung parlemen di Afrika Selatan. Kita sedang lihat proses kerja sama seperti apa. Potensinya cukup besar, namun masih menjajaki,\" ujar dia.

Untuk target proyek baru yang diincar perseroan, WIKA menetapkan porsi proyek luar negeri mencapai 5% dari keseluruhan target perolehan kontrak baru sepanjang tahun ini. Adapun target kontrak perseroan tahun ini mencapai Rp 38,87 triliun, terdiri atas kontrak baru senilai Rp 20,76 triliun dan sisanya Rp 18,12 triliun merupakan kontrak dari tahun sebelumnya.

Related posts