Defensif atau Ofensif? - HARGA-HARGA MENCEKIK

HARGA-HARGA MENCEKIK

Defensif atau Ofensif?

Sudah jamak, menjelang dalamnya Ramadhan, lebih-lebih mendekati Lebaran Idul Fitri, harga-harga barang kebutuhan terus merangkak naik. Ada dua pilihan yang harus dilakukan. Defensif (bertahan) atau ofensif (menyerang). Bertahan, artinya melakukan upaya penghematan agar seluruh kebutuhan hidupnya tercukupi. Atau menyerang dengan berbagai cara bagaimana meningkatkan pendapatan.

Tentu langkah kedua yang lebih baik dilakukan. Dengan mencari peluang pendapatan, tentu segala masalah yang berkaitan dengan kenaikan harga akan dapat teratasi dan seluruh kebutuhan tercukupi. Sebaliknya, jika bertahan dengan melakukan penghematan, tentu ada harga yang harus dikorbankan. Sejumlah program dan jadwal ditunda. Nasihat itulah yang diungkapkan motivator Tung Desem Waringin dalam testimoninya yang dikirimkan kepada para penggemarnya.

Salvian Kumara, salah seorang murid Tum Desem mengungkapkan, dalam menghadap masalah, termasuk kenaikan harga-harga yang makin melambung, ada lima hal yang harus diperhatikan.

Pertama, jangan panik dan tetap dalam kontrol emosi. Dengan demikian , kita dapat tetap berpikir dengan jernih, tanpa emosi.

Kedua, berpikir positif dan kreatif, bahwa masalah yang dihadapi tentu akan menjadikan kita makin dewasa.

Ketiga, jangan sampai putus asa menghadapi masalah tersebut, tapi tetap dihadapi dengan penuh semangat. Sebab, dengan kreatif, pasti akan ada jalan yang bisa dilakukan.

Keempat, jangan lupa berdoa agar dalam menghadapi masalah itu selalu diberi jalan didimudahkan langkahnya.

Kelima, kita harus fokus dalam mencari solusi. Solusi itu bukan mencari siapa yang salah dan bertanggung jawab, tapi 100% seluruhnya harus kita yang menyelesaikannya, bukan orang lain.

Sementara itu, pakar perencana keuangan Sylviana Maya Damayanti mengungkapkan, kebanyakan orang masih berpikir bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan minyak bumi sehingga sudah seharusnya BBM dapat dibeli dengan harga murah. Padahal, kata dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB ini, kini cadangan minyak bumi di Indonesia juga semakin menipis.

Yang bijak, menurut dia, adalah membuah perencanaan keuangan. Pertama, adalah melakukan Cek Kesehatan Keuangan. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat cash flow dan menghitung selisih pendapatan dan pengeluaran. \"Apabila hasilnya positif, maka kondisi keuangan kita sehat sedangkan apabila negatif atau nol, kita harus mengecek kembali pengeluaran mana yang harus dikurangi atau mencari pemasukan tambahan,\" ujar Maya.

Langkah berikutnya, membuat tujuan keuangan jangka pendek (1-2 tahun), jangka menengah (3-5 tahun), dan jangka panjang (lebih dari 5 tahun). Perencanaan keuangan ini harus disusun sesuai dengan prioritas. Bila terjadi kenaikan harga seperti sekarang ini seorang perencana keuangan harus bisa dengan bijak membedakan antara barang yang merupakan needs (dibutuhkan) dan wants (diinginkan). \"Misalnya kita menginginkan laptop A namun sebenarnya dengan laptop B yang harganya lebih murah kebutuhan kita sudah dapat terpenuhi, maka pilihlah laptop B,\" jelas Maya.

Langkah berikutnya, membuat rasio alokasi pemasukan. Idealnya, 30% untuk investasi, 30% untuk menabung, dan sisanya untuk pemenuhan kebutuhan atau apabila memiliki hutang rasionya dapat menjadi 30% untuk membayar hutang, 30% untuk investasi, dan sisanya untuk pengeluaran sehari-hari. (saksono)

Related posts