OJK Diminta Selektif Terhadap Calon Emiten

NERACA

Jakarta – Tingkat kedisiplinan anggota bursa tiap tahun belum menunjukkan perubahan yang berarti. Pasalnya, belum lama ini ada tujuh emiten yang disuspensi oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran telah dalam menyampaikan laporan keuangan dan ini menjadi indikasi emiten tersebuut tidak baik dan terlewatkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) begitu saja.

Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo mengatakan, niatan seseorang untuk mendaftarkan perusahaannya di bursa bermacam-macam. “Ada yang memang ingin perusahaannya terus berkembang sebagai perusahaan label terbuka, ada yang hanya ingin meraup dana saja untuk usahanya tanpa memikirkan investornya,”ujarnya kepada Neraca di Jakarta kemarin.

Oleh karena itu, untuk menghindari niatan tidak baik emiten yang listing di pasar modal, OJK sebagai pengawas pasar modal diminta untuk lebih selektif dalam memberikan izin perusahaan yang akan go public. Alasannya, saat ini banyak perusahaan yang listing di pasar modal tetapi tidka memperhatikan investornya.

Lanjutnya, kasus ini banyak terjadi karena peran OJK sebagai pengawas kurang antisipatif. Dalam proses sebelum listing calon emiten akan berurusan dengan OJK untuk mendapat pernyataan pra-efektif, di saat inilah peran pengawasan OJK sangat perlu diterapkan dengan melihat seperti apa calon emiten dan kinerjanya, “Pelaku pasar melihat kejadian seperti ini adalah resiko pasar, padahal analis telah melihat terlebih dahulu memang ada itikad tidak baik dari pengusahanya”, ujar dia.

Mengenai keefektifan denda yang diberikan BEI terhadap emiten nakal atau telah menyampaikan laporan keuangannya, kata Satrio menjadi hal yang relatif karena memang emiten ada yang usahanya bagus ada yang kemungkinan bangkrut.“Jika emiten tersebut telat memberi laporan keuangan dan dikenakan denda Rp 1 juta per hari belum tentu memberatkan jika perusahaan tersebut besar dan usahanya bagus. Namun jika perusahaan kecil yang juga usahanya sudah tidak ada, mungin hanya akan pasrah saja menerima denda yang bisa jadi sangat memberatkan mereka”, jelas dia.

Sebelumnya analis dari AMCapital Securities, Viviet S Putri mengakui, beberapa emiten yang disuspensi BEI memang memiliki masalah keuangan dalam bisnisnya, karenanya emiten tersebut telat memberikan laporan keuangan auditan.

Namun, memang ada emiten yang kurang terbuka dalam aksi korporasinya. Dia mencontohkan seperti PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) yang sedang mengalami kesulitan kinerja, seperti hutang dan pembelian kapal di saat yang tidak tepat. Namun emiten ini termasuk emiten yang cukup terbuka dengan aksi korporasinya.

Dia juga menganggap yang telah diterapkan BEI sebagai regulator seperti memberi suspensi, teguran serta denda bagi emiten yang tidak patuh hingga saat ini cukup baik. Namun menurut dia jika teguran, suspensi dan denda tidak cukup memberi efek jera, maka BEI dapat melakukan delisting terhadap emiten tersebut dengan memaksanya melakukan buyback terhadap saham investornya.

Sebagai informasi, awal pekan kemarin BEI melakukan suspensi terhadap tujuh emiten yang telat berikan laporan keuangan auditan per 31 Desember 2013. Emiten tersebut adalah PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN), PT Steady Safe Tbk (SAFE), PT Davomas Abadi Tbk (DAVO), PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), PT Dayaindo Resources International Tbk (KARK), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB), dan PT Zebra Nusantara Tbk (ZBRA). (nurul)

Related posts