Borneo Lumbung Energi Dituding Rugikan Investor

NERACA

Jakarta- Sebagai perusahaan terbuka, PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) seharusnya dapat melaksanakan komitmennya untuk menyampaikan laporan keuangan tahunan perseroan. Terlebih saat ini sudah masuk semester kedua 2013. “Adanya permasalahan utang piutang atau kerugian, tidak seharusnya menjadi alasan emiten untuk menunda laporan keuangannya.” kata analis saham Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Senin (1/7).

Menurutnya, dalam kondisi apa pun BORN seharusnya tidak menunda laporan keuangan tahunannya karena pelaku pasar menunggu keberlangsungan usaha perseroan untuk mengukur kinerja sahamnya ke depan. “Kalau dihitung, potensi kerugian pelaku pasar besar sekali, ditambah adanya isu perseroan terkait kisruh pemegang saham antara pihak Grup Bakrie dan Bumi Plc.” jelasnya.

Lepas dari itu, dia menilai, pemisahan antara Grup Bakrie dengan Bumi Plc merupakan langkah terbaik. Dengan pemisahan tersebut, BORN yang akan sepenuhnya berada di Bumi Plc juga akan dapat fokus terhadap kinerja perseroan.“Periode sebelum ke Bakrie, pada Maret 2012 misalnya, saham BORN berada di kisaran harga 860-880 karena pelaku pasar menilai BORN merupakan perusahaan tambang yang juga memiliki kalori batubara yang tinggi. Namun, begitu tahu ada aksi korporasi dengan Grup Bakrie, saham BORN langsung terjun bebas mencapai 500.” paparnya.

Seperti diketahui, BORN batal menggelar RUPS Tahunan dan paparan publik pada Jumat (28/6) menyusul laporan keuangan tahun buku 2012 yang belum juga dirilis. Sebagai sanksinya, otoritas bursa efek pun memberikan peringatan tertulis III dan tambahan denda sebesar Rp150 juta kepada perseroan yang molor hingga 91 hari untuk menyampaikan laporan keuangan auditan per 31 Desember 2012.

Atas dasar itu, PT Bursa Efek Indonesia juga melakukan penghentian sementara perdagangan efek di pasar reguler dan pasar tunai sejak 1 Juli 2013. Sanksi tersebut juga dikenakan kepada perseroan yang belum melakukan pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian Laporan Keuangan.

Presiden Direktur Borneo Alexander Ramlie mengatakan perseroan belum dapat merilis laporan keuangan dikarenakan belum selesainya penghitungan serta pencatatan kerugian dari kepemilikan efektif BORN di Bumi Plc sebesar 23,8%. “Kepemilikan kami di Bumi Plc itu 23,8%. Memang laporan keuangan BORN belum keluar, tapi secepatnya kami sedang selesaikan. Ini memang terkait beberapa isu dengan pencatatan Bumi Plc,”jelasnya.

Menurutnya, transaksi pemisahan antara Grup Bakrie dengan Bumi Plc hanya tinggal menunggu kesiapan dokumentasi legal. Pihaknya memperkirakan pemisahan tersebut direalisasikan dalam satu bulan ke depan. “Persetujuan antara kita dengan Grup Bakrie hopefully bisa dilakukan pekan depan sehingga bisa kami umumkan.” ujarnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Laba Bersih Medco Energi Tumbuh 29,68%

NERACA Jakarta - Kuartal pertama 2019, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). membukukan pertumbuhan laba bersih US$ 28,05 juta atau…

Energi Mulai Produksi Gas di Blok Bentu

NERACA Jakarta — Di kuartal kedua tahun ini, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) memastikan akan memulai produksi gas dari…

Saham Alfa Energi Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta – Lantaran telah terjadi aktivitas saham di luar kebiasaan, perdagangan saham PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) masuk…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…