Skema Utang BRMS US$336 Juta Belum Jelas

NERACA

Jakarta- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengaku masih akan mendiskusikan langkah yang akan diambil perseroan untuk melunasi utang senilai US$336 juta. “Manajemen sedang mengkaji dan mengajukan opsi kepada pihak kreditur. Apakah nantinya akan kembali diperpanjang atau mengambil opsi refinancing.” kata Komisaris Utama BRMS, Ari Hudaya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, utang tersebut merupakan tagihan atas pinjaman yang diperoleh dari Credit Suisse. Jika mengambil opsi refinancing, lanjut dia, kemungkinan akan dilakukan roll over utang tersebut ke kreditur lain. Namun, perseroan juga dapat melakukan pembayaran dengan dividen dari Newmont Nusa Tenggara (NNT).

Investor Relation BRMS, Herwin Hidayat mengatakan, perseroan masih belum melakukan transaksi cicilan untuk sisa tunggakan utang sebesar US$336 juta. Selain itu, perseroan mendapatkan perpanjangan waktu hingga September. “Belum ada transaksi apapun, karena kami mendapat extension hingga September nanti,” jelasnya.

Namun, pada Juni tahun ini, Herwin menegaskan, perseroan telah membayarkan utang senilai US$100 juta dari total utang US$436,41 juta yang menjadi kewajiban perseroan. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, perseroan telah secara resmi menerima pengunduran Samin Tan dan mengangkat Suseno Kramadibrata menjadi direktur utama yang dinilai kompeten di bidang pertambangan.

“Suseno sendiri sudah 25 tahun melintang di dunia pertambangan dan pernah bekerja di Adaro sebelum menjadi CEO Bumi Resources Mineral dan akhirnya menjadi Direktur,\\\" jelasnya.

Selain itu, perseroan juga mengangkat Fuad Helmy sebagai direktur di perusahaan tambang milik Grup Bakrie itu. Dirinya pun menegaskan, pengunduran Samin Tan merupakan hak pribadi sehingga perseroan tidak dapat menahan yang bersangkutan untuk tetap berada di peseroan. “Pemegang saham menyetujui pengunduran diri tersebut. Pengunduran diri itu hak mereka,” ucapnya.

Dengan pergantian direksi tersebut, lanjut dia, diharapkan dapat mengoptimalisasi berbagai aset perseroan, terutama yang berada di luar negeri seperti di Afrika. Termasuk menghadapi kondisi politik Afrika yang sedang berubah seperti di Mauritania.

Selain itu, aset-aset di dalam negeri pun seperti di Gorontalo dan Citra Palu masih dalam tahap eksplorasi dan diharapkan bisa masuk dalam tahap eksploitasi pada dua tahun mendatang. Targetnya, tambang emas di Bone Belango, Gorontalo yang dikelola PT Gorontalo Minerals dapat berproduksi di 2016.

Tambang emas Gorontalo Minerals diestimasi memiliki sumber daya hasil eksplorasi berdasarkan standar Join Ore Reserves Committee (JORC) sebesar 292 juta ton bijih dengan kandungan 0,5% tembaga dan 0,47 gram per ton emas. Luas konsesi lahan tambang Gorontalo Minerals mencapai 56.070 hektare.

Related posts