Gaikindo Belum Revisi Target Penjualan - Sektor Otomotif

NERACA

Jakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bakal mendongkrak inflasi dan tingkat suku bunga kredit. Namun, para pelaku bisnis otomotif masih optimis kondisi ini tak banyak berdampak pada target penjualan mobil tahun ini.

Jongkie D. Sugiarto, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) bilang, Gaikindo belum merevisi target penjualan mobil yang dipatok 1,1 juta unit pada 2013. Widyawati Soedigdo, General Manager Corporate Planning & Public Relation PT Toyota Astra Motor (TAM) yakin, seperti pengalaman sebelumnya, kenaikan harga BBM kali ini juga tak bakal berpengaruh besar bagi penjualan mobil.

Terlebih lagi, kondisi makro ekonomi Indonesia kini tengah bagus. \"Kalaupun terjadi kenaikan suku bunga kredit, itu hanya jangka pendek,\" ujar Widyawati, kemarin. Makanya, kata Widyawati, Toyota belum berniat merevisi target penjualan mobilnya. Bahkan, TAM optimis mampu meraup lebih dari 36% dari total pangsa pasar mobil nasional di tahun ini.

Paulina Sari, Public Relations Proton Edar Indoensia (PEI) juga bilang PEI tetap mematok penjualan 2.880 unit hingga akhir tahun ini. \"Target itu sudah memperhitungkan kondisi market pada tahun ini, termasuk kenaikan harga BBM,\" tuturnya.

Davy J Tuilan, Direktur Penjualan PT Suzuki Indomobil Sales bilang, jika suku bunga tak melambung, penjualan mobil tak terpengaruh. \"Selama suku bunga dan inflasi di bawah 7%, permintaan mobil tidak turun,\" katanya.

Namun sebagian besar pemain produsen mobil memprediksi, dampak harga BBM tidak akan awet lebih dari tiga bulan. Tapi, siapa yang bisa memastikan? Lihat saja, angka penjualan mobil setelah pemerintah menaikkan harga BBM lebih dari 80% di tahun 2005. Tahun berikutnya penjualan mobil hanya tercatat 318.883 unit mobil atau anjlok 40,27% dari tahun sebelumnya. Penurunan penjualan mobil juga pernah terjadi selama beberapa bulan setelah kenaikan harga BBM pada tahun 2008.

Joko Trisanyoto, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM), menuturkan, kenaikan harga BBM bukan satusatunya faktor yang wajib diantisipasi pebisnis otomotif. Mereka juga mencermati tren harga komoditas yang melandai, yang bisa berujung pada penurunan daya beli masyarakat. Situasi keamanan serta stabilitas politik juga diperhitungkan para pebisnis kendaraan bermotor. “Kurangnya kenyamanan dalam keamanan dan politik, bisa menahan masyarakat untuk membeli sesuatu,” tutur Joko.

Dari berbagai ancaman yang mengepung, ucap Joko, paling efektif memicu kemerosotan penjualan mobil adalah tingkat pertumbuhan ekonomi dan laju infl asi. Joko mencontohkan, penjualan mobil pernah jatuh sekitar tahun 2006 karena kenaikan harga BBM yang ujung-ujungnya menciptakan inflasi tinggi serta jebloknya pertumbuhan ekonomi.

Tak heran, bila pengelola perusahaan otomotif kini mencermati dampak kenaikan harga BBM terhadap pertumbuhan ekonomi dan lonjakan infl asi. “Kalau cuma bensin naik dan tak ada dampak ke pertumbuhan ekonomi dan inflasi, saya kira efek ke pasar mobil tidak akan lama,” tutur Joko.

Beberapa pemain sudah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM. Namun, tidak satu pun pemain otomotif yang merevisi target penjualan. Menurut perkiraan Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Amelia Tjandra, kenaikan harga BBM memang berdampak terhadap penjualan mobil. Tetapi, dampak kenaikan harga BBM tahun ini diprediksi singkat. “Menurut hitungan kami, mungkin cuma tiga bulan. Setelah itu normal kembali,” ujar Amelia.

Tak Jelas

Hartanto Sukmono, Direktur Marketing KIA Mobil Indonesia, menambahkan, kecemasan lain yang menggayuti industri mobil adalah kebijakan pemerintah yang tak tentu arah dan eksekusinya yang lambat. “Kami berharap tidak ada kebijakan yang menggantung terlalu lama. Contohnya, ya, soal harga bersubsidi ini,” ujar Hartanto.

Hartanto memperkirakan, pertumbuhan ekonomi di tahun ini serta kenaikan pendapatan per kapita bisa menyeimbangkan kenaikan harga BBM. “Kuartal 1 penjualan hampir 300.000 unit. Jika dikalikan empat kuartal jumlahnya 1,2 juta unit. Kalau apes, penjualan turun, 1,1 juta unit tetap tercapai,” kata dia.

Tahun lalu, penjualan mobil mencapai 1,16 juta unit. Di Tahun ini, Gaikindo menargetkan, jumlah mobil yang terjual setidaknya sama dengan angka tahun lalu. Selama kuartal pertama tahun ini penjualan mobil 295.909 unit.

Pengamat otomotif Soehari Sargo menduga, dampak harga BBM tak akan besar ke pasar mobil. Tapi, penjualan tahun ini tetap bisa terpangkas hingga 100.000 unit.

BERITA TERKAIT

IIF Target Salurkan Pembiayaan Infrastruktur Rp10 Triliun

  NERACA   Jakarta – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menargetkan bisa menyalurkan pembiayaan untuk infrastruktur mencapai Rp10 triliun. Hal…

Indonesia Harus Perkuat Sektor Riil Sikapi Krisis Turki

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian tengah berupaya memperkuat sektor riil untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan di dalam negeri akibat krisis…

S&P Revisi Outlook Modernland Jadi Negatif

NERACA Jakarat – Meskipun mencatat perolehan laba bersih pada semester I-2018 meningkat 31,11% menjadi sebesar Rp 181,48 miliar, namun hal…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

KKP-WWF Inisiasi Pengelolaan Udang Windu Berkelanjutan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus fokus mendorong pengelolaan sumberdaya perikanan budidaya secara bertanggungjawab. Hal ini guna…

Ribetnya Regulasi Hambat Teknologi Sektor Pertanian Nasional Tidak Berkembang

NERACA Bogor – Sebagai negara agraris Indonesia seharusnya menjadi negara lumbung pangan dunia. Namun karena minimnya sentuhan teknologi sektor pertanian…

INSA Minta Dukungan Pemerintah Majukan Pelayaran

NERACA Jakarta – Indonesian National Shipowners Association (INSA) minta dukungan pemerintah untuk mendorong daya saing serta membuka peluang pasar bagi…