BEI Pastikan Tidak Revisi Target Obligasi - Ditengah Ancaman Inflasi

NERACA

Jakarta – Meskipun tahun ini ancaman inflasi membanyangi industri pasar modal sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, namun tidak mengurangi keyakinan pelaku pasar terhadap prospek pasar obligasi, “Kendati inflasi akan tinggi karena harga BBM naik. Namun kebutuhan dana ekspansi bagi perusahaan juga akan tetap tinggi,\"kata Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia, Hoesen di Jakarta, Senin (24/6).

Oleh karena itu, dirinya menyakini, pasar obligasi masih tetap bagus. Terlebih, kupon obligasi akan menyesuaikan dengan besaran inflasi karena investor atau calon pembeli akan meminta imbal hasil (yield) lebih tinggi dari angka inflasi.

Hoesen mengungkapkan penerbitan obligasi yang tercatat di BEI saat ini sekitar Rp29 triliun. Jika ditambah dengan yang sedang dalam proses maka total penerbitan obligasi korporasi di semester I tahun 2013 mencapai Rp40 triliun, “Sekarang yang di-\'pipeline\' ada lumayan banyak,\" jelasnya.

Maka dengan sisa waktu enam bulan ke depan, dirinya optimis penerbitan obligasi korporasi akan menyamai bahkan melampaui nilai penerbitan tahun 2012 yang sebesar Rp69,3 triliun.

Sebelumnya Direktur Utama PT Bahana Securities Eko Yuliantoro memproyeksikan penerbitan obligasi pada tahun 2013 masih cukup positif sepanjang inflasi domestik dapat terkendali.\"Prospek obligasi masih bagus namun secara makro inflasi yang tidak terkendali akan berdampak negatif terhadap penerbitannya (obligasi),\" ujarnya.

Dia mengharapkan pemerintah dapat menjaga kestabilan inflasi sehingga dapat diprediksi oleh kalangan investor obligasi. Inflasi yang terkendali maka tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) akan tetap berada di level rendah sehingga akan mendorong perusahaan menerbitkan surat utang.

Analis obligasi dari Lembaga Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa pernah bilang, ancaman keluarnya aliran dana asing (capital outflow) tidak hanya berdampak buruk bagi pasar saham, namun juga akan mempengaruhi performa pasar obligasi di tahun ini. Sementara dari sisi supply, penerbitan obligasi saat ini dipengaruhi kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, terlebih apabila terjadi kenaikan inflasi secara signifikan. “Dari sisi penerbit, dengan kenaikan yield atau kupon, biasanya diikuti oleh turunnya target penerbitan obligasi dari emiten yang bersangkutan, karena pertimbangan cost of fund yang lebih tinggi.”ungkapnya.

Menurutnya, dengan kenaikan inflasi tentu investor akan meminta kupon yang lebih tinggi dari sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan deposito masih akan lebih tinggi bunga obligasi sehingga dari sisi permintaan sebenarnya tidak akan ada masalah. Selain ancaman inflasi, lanjut dia, capital outflow karena rencana pemberhentian stimulus The Fed juga akan berdampak bagi kinerja obligasi ke depan. (bani)

Related posts