Aksi Jual Berlanjut, IHSG Makin Merana

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok 85,912 poin (1,90%) ke level 4.429,460. Sementara Indeks LQ45 jatuh 12,016 poin (1,63%) ke level 724,27. Tekanan jual investor asing seiring dengan jatuhnya bursa-bursa di Asia menjadi pemicunya indeks BEI terus tertekan, “Minimnya sentimen positif di pasar saham kembali menekan indeks BEI, pelemahan juga terjadi di kawasan Asia,\" kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta, Senin (24/6).

Dia menambahkan, laju positif bursa saham AS pada akhir pekan lalu belum membuat potensi IHSG BEI kembali menguat (rebound) untuk jangka panjang. Meski demikian, pelemahan sudah mulai terbatas. Lanjutnya, harga saham di BEI saat ini sudah memasuki area jenuh jual (oversold) sehingga ruang penguatan masih ada.

Sementara analis Panin Sekuritas, purwoko Sartono menambahkan, kembali melemahnya IHSG menyusul kekhawatiran melambatnya ekonomi China sehingga bursa regional Asia serempak melemah.

Dari dalam negeri, lanjut dia, kenaikan BBM tentu akan berpengaruh terhadap inflasi, namun disisi lain akan mampu meredam defisit APBN dan neraca perdagangan. Berikutnya, indeks BEI Selasa diproyeksikan masih akan terkoreksi karena aksi jual investor masih lanjut dengan posisi indeks berada di level 4.425.

Pada perdagangan kemarin, investor asing kembali melepas saham dengan transaksi penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 679,69 miliar di seluruh pasar. Aksi jual ini dipicu oleh rencana The Federal Reserve yang akan mulai mengurangi program stimulusnya mulai tahun ini. Selain itu, ada juga kekhawatiran akan krisis likuiditas di China.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 157.918 kali pada volume 3,922 miliar lembar saham senilai Rp 5,393 triliun. Sebanyak 60 saham naik, sisanya 228 saham turun, dan 66 saham stagnan. Pasar saham China dan Hong Kong anjlok sangat dalam gara-gara kekhawatiran adanya krisis likuiditas gara-gara bank menyetop pemberian kredit menyusul suku bunga yang naik dalam dua pekan terakhir.

Koreksi dahsyat yang terjadi di pasar saham China membuat bursa-bursa regional lainnya tersungkur. Seluruhnya kompak ditutup di zona merah di awal pekan ini. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Inovisi (INVS) naik Rp 700 ke Rp 6.750, Lionmesh (LMSH) naik Rp 500 ke Rp 10.000, Acset (ACST) naik Rp 325 ke Rp 2.825, dan Indofood CBP (ICBP) naik Rp 250 ke Rp 10.750.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mayora (MYOR) turun Rp 2.150 ke Rp 28.500, Sarana Menara (TOWR) turun Rp 1.500 ke Rp 24.500, Indocement (INTP) turun Rp 950 ke Rp 21.450, dan Unilever (UNVR) turun Rp 850 ke Rp 26.400.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup turun 14,602 poin (0,32%) ke level 4.500,770. Sementara Indeks LQ45 naik tipis 0,618 poin (0,08%) ke level 736,881. Aksi beli investor domestik sempat menahan IHSG di zona hijau. Sayangnya, tekanan jual kembali datang dengan derasnya sehingga membuat indeks harus lengser dari teritori positif.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 84.769 kali pada volume 1,981 miliar lembar saham senilai Rp 2,551 triliun. Sebanyak 76 saham naik, sisanya 161 saham turun, dan 75 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Inovisi (INVS) naik Rp 750 ke Rp 6.800, United Tractor (UNTR) naik Rp 350 ke Rp 17.050, Acset (ACST) naik Rp 325 ke Rp 2.825, dan Fastfood (FAST) naik Rp 300 ke Rp 13.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Sarana Menara (TOWR) turun Rp 1.500 ke Rp 24.500, Mayora (MYOR) turun Rp 650 ke Rp 30.000, Dian Swastatika (DSSA) turun Rp 500 ke Rp 14.500, dan Matahari (LPPF) turun Rp 450 ke Rp 10.450.

Diawal perdagangan, justru indeks BEI dibuka menguat 8,87 poin atau 0,20% ke posisi 4.524,24, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 2,24 poin (0,30%) ke level 738,51,”Beberapa saham yang sudah masuk area jenuh jual (oersold) mendorong indeks BEI pagi ini terangkat,\" kata Reza Priyambada.

Dia menambahkan, laju positif bursa saham AS juga menjadi salah satu faktor pendorong indeks BEI menguat pada pembukaan awal pekan.\"Pelemahan sudah mulai berkurang dibandingkan pekan lalu ketika kekhawatiran mengenai proyeksi ekonomi global paska pernyataan The Fed yang akan mulai mengurangi stimulusnya,”ujarnya.

Meski demikian, lanjut dia, saham-saham domestik juga masih dibayangi aksi jual menyusul bursa di kawasan Asia yang masih berada dalam area negatif.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Uriep Budhi Prasetyo menambahkan di tengah kondisi saham yang bergejolak pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap pergerakan pasar saham domestik dengan menjalankan protokol manajemen krisis (crisis management protocol/CMP).

Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 276,67 poin (1,37%) ke level 19.986,64, indeks Nikkei-225 turun 27,07 poin (0,20%) ke level 13.203,87, dan Straits Times melemah 21,30 poin (0,68%) ke posisi 3.099,78. (bani)

Related posts