Isu BBM Lebih Dominan Tekan IHSG

NERACA

Jakarta – Kembali terkoreksinya indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI), diyakini lebih besar pengaruhnya datang dari sentimen dalam negeri tentang kebijakan pemerintah soal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan, penurunan indeks BEI belakangan ini lebih besar dipengaruhi sentimen dalam negeri tentang harga BBM, “Penurunan akhir Mei dan awal Juni disebabkan oleh faktor sentimen bukan fundamental dari emiten-emiten, karena kinerja emiten laba bersihnya mengalami peningkatan dari tahun lalu (2012),\" katanya di Jakarta, Rabu (19/6).

Menurutnya, sentimen dari luar negeri terkait pernyataan The Fed mengenai akan menurunkan jumlah Quantitative Easing (QE). Namun, sentimen ini hanya berdampak kecil terhadap laju IHSG. Namun dirinya lebih menyakini, yang lebih dominan itu sentimen dalam negeri.

Sebut saja, soal berita-berita neraca perdagangan dan pembayaran yang masih defisit, pertumbuhan ekonomi dalam negeri di kuartal satu melamban dan juga terkait kebijakan harga BBM oleh pemerintah. Lebih lanjut, dia mengatakan saat ini para investor menunggu kebijakan dari pemerintah mengenai harga BBM yang baru.

Selain itu, Ito juga menuturkan, pihaknya berkomitmen untuk tetap menciptakan pasar saham domestik yang wajar, teratur, dan efisien dengan mengembangkan mekanisme perdagangan dan peraturan yang standar internasional, “Komitmen Bursa ditunjukkan dengan upaya BEI secara berkelanjutan mengembangkan mekanisme perdagangan dan peraturan, baik peraturan perdagangan, pencatatan, maupun keanggotaan, serta mengembangkan sistem dan teknologi yang handal dan SDM berkualitas, dengan mengacu pada \'best practice\' standar internasional,”jelasnya.

Dia mengemukakan, untuk mendorong aktivitas transaksi di bursa saham dan meningkatkan likuiditas pasar, BEI juga melakukan berbagai kegiatan pengembangan pasar, antara lain peningkatan infrastruktur investasi syariah melalui sertifikasi Anggota Bursa terait dengan \"Syariah Online Trading System\" (SOTS).

Selain itu, lanjut dia, pengembangan produk berbasis mutual fund dengan mencatatkan produk \"exchange trade fund\" (ETF). Kendati masih cukup marak sentimen negatif di pasar modal dalam negeri, pihak BEI mengaku tetap optimistis dengan kinerja pasar modal Indonesia pada tahun ini yang dapat tumbuh positif.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2012 BEI membukukan pendapatan usaha sebesar Rp712,44 miliar. Hasil tersebut mendorong laba persih sepanjang tahun lalu menjadi Rp218,09 miliar. Sedangkan aset lancar BEI sendiri mengalami kenaikan 25,74% menjadi Rp3,92 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp3,12 triliun dan aset tidak lancar naik 9,94% menjadi Rp604,10 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp549,46 miliar.

Dengan pencapaian tersebut, nilai total aset BEI pada 2012 mencapai Rp4,53 triliun atau naik 23,37% dibandingkan total aset tahun sebelumnya sebesar Rp3,67 triliun.

Untuk tahun ini, BEI menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp60 miliar yang bersumber dari kas internal perseroan. Mayoritas dana tersebut akan dipergunakan BEI untuk pengembangan sistem perdagangan, seperti membangun infrastruktur Disaster Recovery Center (DRC) dan mesin utama. BEI sendiri memiliki kas internal yang sangat baik, atau secara konsolidasi mencapai Rp1,5 triliun. (lia)

Related posts