Kenaikan BBM Bawa Berkah Pasar Modal - Investor Makin Bergairah

NERACA

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimis pasar modal akan kembali bergairah setelah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Deputi Komisioner OJK Bidang Pasar Modal, Robinson Simbolon mengatakan, dengan adanya ekspektasi pasar dan proyeksi analisis pasar akan bangkit setelah kenaikan BBM tersebut. “Ekspektasi pasar dan hasil proyeksi para analis dengan kami menyimpulkan demikian”, ujar di Jakarta, Selasa (18/6).

Menurutnya, kondisi pasar akan membaik setelah gejolak kenaikan BBM mereda dan investor baik domestik maupun asing akan kembali masuk ke pasar modal Indonesia. Kondisi setelah kenaikan BBM nantinya akan menarik terutama di pasar modal karena kebijakan yang dibuat pemerintah akan positif.

Selain itu, Robinson juga menjelaskan, dampak lain ketidakpastian BBM yang terjadi di pasar modal yaitu beberapa perusahaan yang akan melakukan IPO (initial public offering/penawaran saham perdana) menjadi ragu “Orang jadi ragu-ragu dan mengkhawatirkan jika akan melakukan IPO nantinya tidak sesuai ekspektasi mereka,”ungkapnya.

Dia juga menjelaskan, BBM adalah bagian dari APBN ( Anggaran Pendapatan Belanja Negara) secara keseluruhan dan pemerintah tentunya sudah mantap untuk menaikan harga BBM bersubsidi sehingga tidak akan ada gejolak yang terlalu besar.

Hal ini diyakininya karena pemerintah pasti sudah mengantisipasi hal-hal yang menyangkut kenaikan BBM tersebut, “Investor terutama asing ke Indonesia cuma butuh satu hal, kepastian keamanan, ekonomi dan politik. Jika ini sudah terealisasikan, maka dengan mudah mereka kembali lagi masuk ke Indonesia. Emiten kita sudah memiliki fundamental yang cukup kuat, sehingga tidak ada masalah dengan hal ini,”tandasnya.

Sebelumnya, Anggota Komisioner OJK Bidang Pasar Modal, Nurhaida, pernah bilang, kenaikan harga BBM bersubsidi tidak akan berdampak langsung mengakibatkan keanjlokan harga saham-saham di pasar modal, “Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi memang bisa mempengaruhi persepsi investor di pasar. Namun pandangan pasar terhadap fundamental perekonomian Indonesia masih baik. Harapan kami semua, termasuk investor, ingin semuanya berjalan dengan baik,”tandasnya.

Indeks harga saham gabungan (IHSG), menurut Nurhaida, dipengaruhi mekanisme tarik menarik antara permintaan (demand) dan penawaran (supply). Dampak lanjutan kenaikan harga BBM bersubsidi, seperti lonjakan inflasi dan pelemahan nilai tukar mata uang, merupakan faktor yang tidak langsung mempengaruhi pasar.

Inflasi tinggi dan kejatuhan nilai tukar mata uang dampaknya memang bisa negatif terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Kedua hal inilah yang bisa berdampak hantaman langsung pada pasar modal. Sehingga, menurutnya tidak berarti pararel yaitu saat BBM naik kemudian harga saham turun, karena tergantung persepsi pasar. Sedangkan persepsi pasar dipengaruhi banyak hal.

Lanjutnya, pasar modal Indonesia telah memiliki rangkaian kebijakan pemulihan untuk mengantisipasi atau meredam gejolak pasar yang mungkin terjadi. “Jadi sudah ada prosedur operasi standarnya. Ketika pasar mengalami gejolak yang masuk dalam ketentuan kriteria untuk penyehatan, prosedur itu akan dilakukan”, ungkap dia. (nurul)

Related posts