Jepang Diminta Bangun 10 Pusat Manufaktur

NERACA

Jakarta - Pemerintah Indonesia meminta Jepang membangun sekitar 10 Manufacturing Industry Development Center (MIDEC) atau Pusat Pengembangan Industri Manufaktur dalam kerangka Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang (IJEPA).

\"Kami meminta Jepang membangun MIDEC di Indonesia sebagai kompensasi dari kemitraan yang tidak seimbang, mengingat Jepang lebih maju dari Indonesia,\" kata Achdiat Atmawinata, staf ahli Menteri Perindustrian Bidang Penguatan Struktur Industri di Jakarta, Selasa (18/6).

Achdiat mengatakan Indonesia berpandangan IJEPA harus memberikan manfaat yang lebih besar bagi hubungan ekonomi kedua negara. Karena itu, kata dia, Indonesia menginginkan agar kedua pihak menemukan keseimbangan dari pilar IJEPA yang bersandar pada liberaliasi, kerjasama, dan fasilitasi.

\"Indonesia memperjuangkan adanya MIDEC, di samping Program Kesejahteraan untuk meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia. Kalau daya beli masyarakat rendah, mereka akan lebih memilih produk Cina dibanding Jepang,\" ujar Achdiat.

Sedangkan MIDEC, lanjut dia, sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas industri di Indonesia terutama pada tiga motor utama IJEPA yaitu otomotif, elektronik, dan alat berat, dimana Jepang banyak menanam modal di Indonesia.

MIDEC yang diajukan pemerintah Indonesia, kata dia difokuskan pada peningkatan fundamental teknologi industri, serta peningkatan kemampuan sumber daya manusia, terutama pada bidang pengerjaan logam, teknik tooling, teknik pengelasan, konservasi energi, promosi investasi dan ekspor, serta usaha kecil dan menengah (UKM).

Adapun 10 MIDEC yang diajukan adalah Pusat Otomotif, Elektronik, Alat Berat (Construction Machinery), Pusat Fasilitas Umum, Pusat Promosi, Pusat Pengembang Makanan dan Minuman, Pusat Tekstil, Pusat UKM, Pusat Baja, serta Pusat Petrokimia dan Oleokimia.

\"Untuk mewujudkan MIDEC Depperin akan menyiapkan pengelolaan manajemen yang mencakup organisasi, detail proyek, dan sistem pendanaan serta partisipasi pelaku industri,\" kata Achdiat.

Pemerintah Indonesia sendiri mengharapkan bantuan Jepang dalam MIDEC bisa diberikan dalam bentuk hibah, sebagai kompensasi dari pembukaan pasar Indonesia yang besar bagi produk Jepang.

Rencananya detail IJEPA akan ditandatangani pada Maret atau April 2006 setelah pada 27 November 2006 ditandatangi prinsip IJEPA di Tokyo, Jepang. Pada pertengahan Februari 2007 ini rencananya kedua pihak kembali akan membahas rincian perjanjian tersebut.

Kurang Maksimal

Deni Friawan, Pengamat Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), implementasi IJEPA dari sisi perdagangan dan investasi secara agregat memang meningkat. Namun hal itu dinilai masih kurang maksimal, karena seharusnya IJEPA dari sisi Indonesia harus bisa membuka akses pasar ke Jepang.

\"Tetapi yang menjadi permasalahan produk ekspor dari Indonesia ke Jepang masih didominasi oleh sektor yang sama. Jadi, sektor lain kurang berkembang. Dari situ saya menganggap bahwa seharusnya hasilnya belum maksimal, karena perdagangan hanya terjadi di sektor yang sebelum IJEPA pun sudah terjadi,\"ujar dia.

Deni menyarankan, ke depan selain pada sektor otomotif, elektronik dan kimia dasar,fokus kerja sama perdagangan sebaiknya dilakukan pada produk Indonesia yang masih memiliki keunggulan komparatif, namun memiliki penurunan daya saing di pasar Jepang seperti pengolahan kayu, tekstil, garmen, alas kaki dan perikanan.

Related posts