Pekan Ini, IHSG Melanjutkan Penguatan Kemarin

NERACA

Jakarta – Perdagangan saham Jum’at akhir pekan kemarin, berhasil keluar dari tekanan dan berhasil menguat. Penguatan terjadi sejak awal perdagangan hingga menutup perdagangan kemarin. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 153,081 poin (3,32%) ke level 4.760,744. Sementara Indeks LQ45 melompat 30,848 poin (4,06%) ke level 790,343.

Penguatan indeks BEI ditopang aksi beli investor domestik terhadap saham-saham yang sudah murah. Menurut analis dari HD Capital, Yuganur Wijanarko, secara teknikal indeks BEI masih memiliki risiko aksi jual saham yang dapat terjadi dalam waktu dekat, “Sehingga lebih bijak bagi pelaku pasar saham untuk melakukan perdagangan dalam jangka pendek,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Meskipun demikian, dirinya masih menyakini penguatan indeks BEI bakal berlanjut Senin awal pekan. Karena itu, dia merekomendasikan beberapa saham yang layak dikoleksi diantaranya, Bank Mandiri (BMRI), Bank Negara Idonesia (BBNI), Alam Sutera Realty (ASRI), Bank Pan Indonesia (PNBN).

Sementara Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, salah satu sentimen positif indeks BEI akhir pekan karena kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate). Lanjutnya, optimisme pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia juga masih tinggi meski dibayangi sentimen perlambatan ekonomi global.

Perdagangan kemarin, investor asing masih melakukan aksi jual, hingga sore. Transaksinya tercatat melakukan penjualan bersih, namun nilainya tidak terlalu besar, tidak seperti perdagangan sebelumnya. Perdagangan berjalan sangat ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 188.891 kali pada volume 5,54 miliar lembar saham senilai Rp 7,844 triliun. Sebanyak 248 saham naik, sisanya 46 saham turun, dan 52 saham stagnan.

Bursa-bursa regional kompak menutup akhir pekan di zona hijau. Pelaku pasar di Asia mulai berburu saham-saham yang kemarin sudah jatuh cukup dalam. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.900 ke Rp 49.400, Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 1.300 ke Rp 10.000, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 1.100 ke Rp 26.400, dan Unilever (UNVR) naik Rp 1.050 ke Rp 28.850.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Agro (AALI) turun Rp 600 ke Rp 20.000, Tiga Raksa (TGKA) turun Rp 400 ke Rp 1.300, Tempo Scan (TSPC) turun Rp 225 ke Rp 4.250, dan Sumber Alfaria (AMRT) turun Rp 200 ke Rp 6.300.

Perdagangan sesi I, indeks BEI juga ditutup menguat tajam 138,208 poin (3,00%) ke level 4.745,871. Sementara Indeks LQ45 menanjak 27,917 poin (3,68%) ke level 787,412. Saham-saham bank kelas berat paling jadi incaran karena harganya yang sudah sangat murah gara-gara koresi kemarin. Indeks sektor finansial melonjak 4,5% memimpin penguatan pasar.

Perdagangan berjalan sangat ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 109.579 kali pada volume 3,093 miliar lembar saham senilai Rp 4,116 triliun. Sebanyak 228 saham naik, sisanya 29 saham turun, dan 64 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.150 ke Rp 49.650, Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 1.300 ke Rp 10.000, Mayora (MYOR) naik Rp 950 ke Rp 31.450, dan Indocement (INTP) naik Rp 950 ke Rp 23.750.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Agro (AALI) turun Rp 700 ke Rp 19.900, Tempo Scan (TSPC) turun Rp 125 ke Rp 4.350, Indospring (INDS) turun Rp 75 ke Rp 4.125, dan London Sumatera (LSIP) turun Rp 60 ke Rp 1.800.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka naik 94,80 poin atau 2,06% ke posisi 4.702,47, sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 16,89 poin (2,22%) ke level 776,39, “Ada hal posisitif dari kenaikan BI rate sehingga berdampak pada indeks BEI,”ujar Direktur Utama BEI, Ito Warsito.

Menurutnya, keputusan Bank Indonesia untuk menaikan BI rate menunjukan upaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang saat ini cenderung tertekan oleh dolar AS, “Paling tidak BI memiliki perhatian besar terhadap nilai tukar domestik, sekarang terbukti indeks BEI dibuka menguat signifikan,”tandasnya.

Kepala Riset Bahana Securities, Harry Su menambahkan naiknya suku bunga akan membuat dolar AS tertekan terhadap mata uang rupiah, dengan begitu diharapkan dapat mendorong neraca perdagangan Indonesia (NPI) untuk membukukan hasil positif.

Dia menambahkan, pertumbuhan ekonomi AS yang masih kecil memunculkan optimisme investor bahwa Amerika Serikat masih akan melanjutkan program pelonggaran kuantitatif (QE). Bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 199,08 poin (0,95%) ke level 21.086,12, indeks Nikkei-225 naik 386,92 poin (3,11%) ke level 12.832,30, dan Straits Times menguat 28,29 poin (0,90 persen) ke posisi 3.158,98. (bani)

Related posts