Indonesia Butuh Hugo Chavez

Indonesia Butuh Hugo Chavez

Tak perlu malu, masyarakat Indonesia saat ini membutuhkan pemimpin yang berani dan mau menjaga kedaulatan rakyatnya. Di masa lalu, republik ini memiliki duet Soekarno – Hatta yang berani menolak kehadiran gerakan kapitalisme dan imperialisme barat. Tapi keduanya telah tiada walaupun sempat meletakkan dasar-dasar falsafah kehidupan bernegara dan berbangsa yang terhormat, disegani, dan berdaulat.

Setelah itu, kebanyakan para pemimpin kita sejak Orde Baru hingga Era Reformasi sekarang ini telah menggadaikan kedaulatan ekonomi ke pihak asing. Apalagi, kalangan multinasional itu sudah tahu persis kondisi perekonomian di suatu negara, termasuk Indonesia. Akibatnya, nyaris semua kebijakan dan peraturan perundangan yang dibuat sesuai dengan pesanan dan kebutuhan asing.

Sebagai imbalannya, para penyelenggara negara itu memperoleh imbalan atau komisi atau upeti dari perusahaan multinasional tersebut. Para pemimpin sekarang kebanyakan berpikir jangka pendek bagaimana caranya mempertahankan kekuasaannya, baik di eksekutif maupun legislatif. Hal itulah yang diungkapkan penggiat koperasi Agung Sujatmoko yang juga wakil ketua umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).

Di era masa kini, contoh pemimpin yang nyata dan mampu menolong rakyatnya adalah figur pemberani seperti alm Hugo Chavez. Keberanian itu akan menghasilkan, jika bisa menyatu dengan rakyat banyak. “Kita butuh pemimpin pemberani seperti Hugo Chavez,” kata Agung.

Pemimpin yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah mereka yang berkomitmen membangun perekonomian nasional sesuai dengan amanat UUD 1945 yang asli. Yaitu yang berasaskan pada kekeluargaan dan kerakyatan. Ekonomi yang berasaskan kekeluargaan dan kerakyatan, arti rakyat itu berdaulat, berbentuk koperasi. Menurut Agung, memang benar tak ada satu kata pun dalam UUD 1945 yang menyebut kata koperasi. Namun, kata dia, istilah kopersi terdapat dalam penjelasan UUD 1945.

Karena itu, bangun koperasi adalah prinsip dasar perekonomian Indonesia yang harus dijalankan oleh pemerintah dan negara. Sedangkan saat harus berhadapan dengan dunia luar, perekonomian itu tetap harus mengedepankan keuntungan bagi rakyat banyak tanpa harus meniadakan peran pemodal asing. “Jadi sebetulnya, sistem ekonomi Indonesia yang berasaskan kekeluargaan itu bisa berlaku universal,” tutur mantan ketua umum Koperasi Pemuda Indonesia (Kopindo) ini.

Transfomasi Ekonomi

Pada 1934, Mohammad Hatta membuat tulisan berjudul ‘Ekonomi Rakyat dalam Bahaya’ untuk membandingkan konsep ekonomi kerakyatan dengan ekonomi kolonial yang diterapkan Belanda. Ekonomi kolonial berkembang di Indonesia juga karena didukung oleh kaum arsitokrat yang membawa system feodalisme dan pihak swasta asing sbagai komprador kolonial Belanda.

Ekonom Sritua Arief pernah menyatakan, esensi dari pemikiran Bung Hatta tersebut meliputisua aspek, yaitu transformasi ekonomi dan transformasi sosial. Bangun ekonomi kerakyatan yang digagas Bung Hatta itu adalah koperasi. Menurut dia, organisasi koperasi dapat berperanan dalam reformasi sosial dengan menghimpun para pelaku ekonomi rakyat dalam dua aspek. Pertama, secara kolektif menghimpun para pelaku ekonomi rakyat dalam menjual produk-produk yang mereka hasilkan langsung ke konsumen dengan posisi tawar yang kokoh. Kedua, organisasi koperasi dapat menjadi wadah yang bertanggung jawab dalam membeli barang-barang yang diperlukan oleh para pelaku ekonomi rakyat langsung dari para pemasok di sektor modern dengan posisi-tawar yang kokoh pula. Melalui operasi organisasi koperasi, seluruh pelaku penindas dan parasit ekonomi dapat disapu bersih.

Menurut Sritua, reformasi sosial melalui organisasi koperasi telah dilaksanakan di negara-negara Skandinavia. Di sana, istilah sering disebut sistem ekonomi kapitalise rakyat. Organisasi koperasi melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi yang diperhitungkan dalam konstelasi ekonomi atas nama rakyat. “Inilah yang jelas dikehendaki dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Rakyat, selain mempunyai kedaulatan dalam sistem politik, juga punya kedaulatan dalam sistem ekonomi,” kata Sritua.

Dia pun menunjukkan contoh bagaimana organisasi koperasi telah melakukan peranan besar dalam sistem ekonomi yang berasaskan kedaulatan rakyat. Di Swedia, bagian dari kawasan Skandinavia, koperasi pertanian mendominasi kegiatan pasar-pasar swalayan besar. Para petani langsung menjual produk-produk pertanian ke konsumen. Koperasi pertanian menduduki posisi yang penting dalam produksi kayu, industri memproses makanan (food-processing), industri pulp dan kertas, industri kimia, perbankan, asuransi dan industri bahan-bahan dan alat-alat pertanian. Di Jepang, kegiatan serupa dilakukan oleh koperasi pertanian Zennoh. (saksono)

BERITA TERKAIT

Yamaha R25 dan R3 Terbaru Diluncurkan Secara Global di Indonesia

Yamaha merilis sepeda motor sport R25 dan R3 (YZF-R25 & YZF-R3) generasi terbaru secara global di Indoensia dalam acara bertajuk…

Meizu 16th Siap Ramaikan Pasar Smartphone Indonesia

Meizu turut meramaikan pasar smartphone flagship Indonesia dengan merilis Meizu 16th. Sama seperti sejumlah produk flagship lain, Meizu 16th disokong…

Berharap Indonesia Belajar Dari "Eleven-Eleven"

Pendiri dan pemimpin Alibaba, pasar daring terbesar di China, Jack Ma berharap agar Indonesia dapat belajar dari keikutsertaan dalam pesta…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Jack Ma: “Manusia Rp594 Triliun”

Dengan kepemilikan harta yang mencapai 270 miliar RMB (Rp594 triliun) menjadikan CEO Alibaba Group Jack Ma dan keluarganya sebagai orang…

Menanti Realisasi Janji Jack Ma

Pendiri perusahaan perdagangan daring raksasa, Alibaba, Jack Ma berjanji kepada pemerintah Indonesia untuk membantu pengembangan sumber daya manusia di sektor…

Berharap Indonesia Belajar Dari "Eleven-Eleven"

Pendiri dan pemimpin Alibaba, pasar daring terbesar di China, Jack Ma berharap agar Indonesia dapat belajar dari keikutsertaan dalam pesta…