Pasar Modal Lokal Terancam Jeblok - ISU BBM CIPTAKAN RUMOR DI PASAR

Jakarta – Kekhawatiran terjadinya bubble di pasar modal, akhirnya tidak bisa dibendung lagi seiring derasnya dana asing yang keluar (capital outflow) dari pasar modal lokal dalam dua pekan terakhir. Imbasnya, investor domestik juga ikut-ikutan panik melepas portofolio saham lantaran tren indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus terkoreksi menjauh di bawah level 5000.

NERACA

Menurut pengamat pasar modal Universal Broker Indonesia Satrio Hutomo, penurunan IHSG yang cukup tajam selama sepekan kemarin tidak hanya dipicu sentimen global tetapi juga karena ketidaktegasan pemerintah dalam menaikkan harga BBM.

“Lihat pemicu awalnya, yang muncul dari akhir Mei, ketika asing tahu bahwa pemerintah memundurkan kenaikan BBM dari 1 Juni. Mereka takut banyak hal, menganggap pemerintah tidak serius mengurusi BBM ini. Mereka juga takut lembaga pemeringkat bakal memberikan respon negatif. Jadi mereka jual saja,” ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (11/6).

Baginya, kondisi ini bukan hal baru buat pasar modal Indonesia. Pasalnya, kejadian yang sama terjadi pada tahun lalu. Dimana investor asing banyak masuk ke pasar modal pada Maret 2012, senilai Rp12 triliun. Namun ketika muncul kabar bahwa BBM tidak jadi naik, nilai yang sama dilepas pada bulan berikutnya. “Ini bukan bubble pasar modal kita, masih normal. Indeks Rp5.200 pun masih normal. Tidak ada yang salah dalam pasar modal kita. Yang salah itu, pemerintah kebangetan tidak serius mengurusi BBM,”tegasnya.

Penurunan IHSG ini tidak akan lama, kata Satrio, karena dilihat dari net buy asing awal tahun hanya tinggal Rp3-5 triliun. Menurutnya, kalau melihat intensitas tekanan modal asing mestinya akhir minggu ini tekanan asing selesai.

Menurut dia, meski terjadi pelemahan IHSG, tetap akan di atas Rp4.000 dan investor lokal masih banyak yang menahan. Namun jika koreksi IHSG sudah lebih dari 15%, maka kemungkinan akan for sell atau jual terus berlanjut, karena akan banyak saham yang nilainya turun 20%.

Ramai Spekulasi

Hal senada juga disampaikan analis dari FE Univ. Pancasila, Agus Irfani, pelemahan indeks BEI karena ketidaktegasan pemerintah untuk memberikan kepastian akan kenaikan harga BBM sehingga menciptakan rumor pasar dan membuka ruang spekulasi menjadi lebih besar. \"Tidak hanya mempengaruhi indeks, di pasar komoditas pun terjadi hal yang sama. Semua orang berspekulasi akibat wacana kenaikan BBM,”ujarnya.

Menurut dia, ketidaktegasan pemerintah juga akan berimbas pada pertumbuhan investasi dan menurunkan rating Indonesia. Karena itu, dia mengkhawatirkan terjadinya krisis seiring pesimisme pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar rupiah yang saat ini sudah menembus angka Rp10.000. \"Pelemahan yang terjadi pada tahun ini cukup unik, bukan sebab fundamental Indonesia, tapi karena ketidaktegasan pemerintah.\" jelasnya.

Dia mengakui, aksi jual yang terjadi saat ini bukan hanya dilakukan oleh investor asing, namun juga investor lokal yang ikut khawatir terjadinya koreksi lanjutan. \"Jika investor asing yang melakukan cut loss tidak masalah, tapi ini telah diikuti investor lokal yang ketakutan dan panik sehingga melakukan hal yang sama.\"tegasnya.

Meski pada tahun ini akan banyak emiten melakukan aksi korporasi untuk meningkatkan kinerja sahamnya, kata dia, masih cukup sulit untuk dapat mendongkrak pasar dan membangun kepercayaaan investor.

Sementara itu, analis saham dari Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, kepanikan yang terjadi di pasar dengan melakukan cut loss karena pelaku pasar masih menunggu kepastian sentimen. \"Saking paniknya, pelaku pasar melakukan cut loss. Masalahnya saat ini bukan hanya sentimen dari luar, tapi karena dari pemerintah belum pasti terkait kebijakan BBM sehingga pelaku pasar semakin tidak nyaman dan banyak melakukan aksi jual.\"tandasnya.

Keberlanjutan pertumbuhan investasi di pasar saham menurut dia akan terjadi, apabila pemerintah menaikkan BBM sekaligus dapat mempersiapkan langkah antisipasi lonjakan inflasi dan menahan pelemahan rupiah yang saat ini mencapai Rp10.000.

Laju IHSG ke depan, menurut dia, akan mencoba resisten di level 4800. Pelaku pasar dapat mencermati saham-saham yang berpotensi rebound dengan mencermati volume perdagangannya. \"Yang tidak siap lebih baik hold dulu sambil mencermati saham-saham yang masih memiliki potensi rebound.\" ucapnya.

Meski demikian, kata dia, di tengah terjadinya penurunan indeks (bearish) seperti saat ini, pelaku pasar seharusnya tidak perlu terlalu panik dan dapat mulai mencoba mengatur trading plan.

Sementara analis dari Bahana Sekuritas, Novita N Lubis mengakui, anjloknya indeks BEI hingga tembus level 4.609 akan mempengaruhi pasar obligasi dan IPO. Hanya saja, koreksi yang terjadi hanya bersifat sementara dan tidak signifikan, “Sejauh ini obligasi dan IPO penyerapannya cukup bagus, karena berkaitan dengan fundamental perusahaan juga, “tuturnya.

Dia menambahkan, pelemahan indeks BEI selama ini tidak hanya didasarkan satu faktor saja dari pasar modal tetapi juga faktor ekonomi makro dan saat ini, kondisi tersebut dinilai cukup positif. lia/iqbal/bani

Related posts