Investor Pilih Saham Murah Berfundamental Kuat

NERACA

Jakarta-Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir cenderung bergerak negatif. Bahkan, dalam perdagangan kemarin IHSG melemah 3,5% ke level 4.609,95 dengan pelemahan yang terjadi di seluruh sektor.

Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan, pelaku pasar dapat menikmati kejatuhan IHSG untuk berbelanja saham. Karena dengan masifnya aksi jual yang dilakukan investor asing dan lokal, akan mengerek harga saham yang berfundamental kuat dan memiliki kinerja bagus sebelumnya di harga murah. \"Ini adalah benar-benar surga waktunya untuk \"shopping\" saham berfundamental kuat di harga murah.\" ucapnya di Jakarta, Selasa (11/6).

Menurutnya, kejatuhan harga menjadi lebih murah tidak mengubah fundamental emiten. Terlebih secara fundamental, emiten tumbuh cukup kuat di sepanjang kuartal pertama 2013. Hal itu tercermin dari naiknya EPS rata-rata emiten sekitar 25% (YoY) atau setara Rp 335 sehingga ini menjadi ruang untuk menambah pundi-pundi portofolio sambil mencermati level support IHSG di level 4548.

Alasan yang digunakan untuk melakukan aksi jual secara masif oleh investor saat ini, lanjut dia, karena ketidakpastian pemerintah yang akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Alasan klasik lainnya, yaitu kejatuhan bursa regional dan kejatuhan rupiah yang sempat mencapai Rp10,010 di spot market. Karena itu, dia menilai, pada pekan ini pasar saham masuk dalam masa konsolidasi.

Pada perdagangan kemarin, pelemahan juga terjadi pada bursa saham global, di mana Indeks saham Dow Jones Futures tercatat melemah 0,7% ke level 15.121. Indeks S&P melemah sebesar 0,8% ke level 1.628,60 dan Indeks saham Nasdaq yang juga melemah sebanyak 0,8% ke level 2.962,50.

Merujuk Dow Jones yang mengalami pelemahan, bursa Indonesia diperkirakan masih berpeluang tertekan terbatas sambil mencermati pergerakan mata uang dolar dan rupiah serta perilaku investor asing melakukan aksi jual. Menghadapi ketidakpastian seperti ini, kata dia, para trader dapat melakukan pola short term trading. Sementara bagi investor yang berorientasi pada investasi jangka panjang dapat melakukan akumulasi beli secara perlahan. (lia)

Related posts