Pabrik Gula Kremboong Direvitalisasi - Kinerja PTPN X

NERACA

Jakarta - PT Perkebunan Nusantara X (Persero) terus berupaya meningkatkan kinerja pabrik gula (PG) miliknya. Salah satu di antaranya dengan melakukan revitalisasi permesinan di PG Kremboong, Sidoarjo. PG Kremboong adalah satu di antara sebelas PG milik perusahaan perkebunan pelat merah tersebut.

Direktur Utama PTPN X, Subiyono, mengatakan PG Kremboong adalah representasi dari PG-PG berkapasitas kecil yang ada di Indonesia, terutama Jawa. PG berkapasitas kecil adalah yang PG mempunyai kapasitas giling sekitar 1.500 ton tebu per hari (tons of cane per day/TCD).

\"Banyak sekali PG-PG terutama di Jawa yang berkapasitas kecil di kisaran 1.500 TCD. Revitalisasi yang kami lakukan di PG Kremboong ini dinanti-nanti hasilnya, karena akan menjadi prototipe tentang bagaimana sebuah PG berkapasitas kecil bisa tumbuh menggembirakan,\" ujar Subiyono dalam keterangan tertulis yang diterima Neraca di Jakarta, kemarin.

Dia melanjutkan pabrik gula ini nantinya tidak hanya berproduksi gula namun juga listrik. \"Revitalisasi di PG Kremboong akan menjadi model pengembangan PG berkapasitas kecil menjadi PG skala menengah dengan skala bisnis yang luas,\" imbuh Subiyono.

Dia menuturkan, sejumlah revitalisasi permesinan telah dilakukan di PG Kremboong. Di antaranya adalah dengan mengganti mesin uap menjadi elektromotor dan mengganti mesin boiler bertekanan rendah menjadi tinggi. Selain itu, saringan nira mentah diganti menjadi lebih modern.

PG Kremboong juga melakukan penggantian mesin putaran HGF yang semula 18 unit mesin manual menjadi 2 unit mesin otomatis berkapasitas 1.500 kilogram per siklus. Mesin pengemasan gula diganti dari yang sistem terbuka menjadi tertutup, sehingga lebih steril dan meningkatkan higienitas produksi gula.\"Kami menginvestasikan dana Rp 145,3 miliar untuk melakukan revitalisasi tersebut,\" jelas Subiyono. Dana itu adalah bagian dari belanja modal perseroan yang mencapai sekitar Rp 1 triliun pada tahun ini untuk peningkatan kinerja pabrik dan budidaya tebu.

PG Kremboong yang berdiri sejak 1847 tersebut berkapasitas giling 1.600 TCD. Tahun ini, kapasitas PG Kremboong ditingkatkan menjadi 2.300 TCD. Sementara itu,Anggaran sebesar Rp 154 miliar sudah disiapkan oleh Kementerian Perindustrian untuk revitalisasi mesin atau pembelian mesin baru untuk industri gula nasional hingga akhir tahun ini. Rencananya, anggaran sebesar itu akan diberikan kepada perusahaan yang membeli mesin baru. \"Saat ini, ada 5 pabrik gula yang telah menerima bantuan seperti pabrik gula Asem Bagus milik PTPN XI, pabrik gula Mojo Panggong, pabrik gula Krebet, pabrik gula Sragi dan pabrik gula Subang,\" kata Direktur Industri Makanan Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Faiz Ahmad.

Untuk pembelian mesin dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) 25% ke atas, menurut Faiz, akan mendapatkan tambahan anggaran sebesar 10%. \"Jika pabrik gula membeli mesin baru dari dalam negeri, Kemenperin memberikan alokasi dana sekitar 22,5%. Mesin untuk produksi gula sebagian besar sudah dipenuhi dari dalam negeri, hanya turbin yang masih irnpor dari India,\" paparnya.

Produksi Meningkat

Sedangkan wakil ketua komisi VI DPR dari fraksi PDIP, Aria Bima mengatakan, dengan adanya revitalisasi pabrik gula, maka produksi gula bisa meningkat sehingga mampu memenuhi target swasembada gula. Selama ini, Indonesia masih mengimpor gula. \"Kami menyayangkan bahwa manajemen pabrik gula terkesan lambat dalam mengajukan dana untuk melakukan reyitalisasi,\" katanya.

Aria menambahkan, selama ini gairah untuk revitalisasi dari manajemen pabrik gula masih sangat kurang. Seharusnya, pabrik gula bisa lebih proaktif meminta bantuan dari pemerintah. \"Sebanyak 51 pabrik gula milik pemerintah belum terjamah revitalisasi. Banyak peralatannya yang masih kuno dan tidak heran jika produksi gula tidak maksimal,\" tandasnya.

Sementara itu, Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan, mengatakan tahun ini kementeriannya tengah merevitalisasi 12 pabrik gula dari 22 pabrik gula milik PT Perkebunan Nusantara yang kondisinya tidak sehat. \"Semoga 10 pabrik lainnya sembuh tahun depan,\" kata Dahlan Iskan.

Dia menjelaskan, revitalisasi 12 pabrik gula itu diprioritaskan pada perbaikan manajemen. Menurut dia, buruknya manajemen pabrik gula cli Indonesia menjadi penyebab utama kebutuhan gula nasional tidak tercukupi. \"Persoalannya bukan pada mesin. Dikasih mesin baru, tapi kalau manajemennya jelek, ya, hancur juga,\" katanya.

Salah satu perbaikan manajemen adalah dengan mengubah peraturan direksi tentang syarat menjadi kepala pabrik gula. Sebelumnya, kata Dahlan, syarat menjadi kepala pabrik gula cukup rumit dan panjang sehingga seseorang baru bisa menjabat kepala pabrik pada usia 50 tahun. \"Sekarang usia 20 tahun bisa jadi kepala pabrik sepanjang mampii dan prestasinya bagus,\" kata dia.

Langkah kedua adalah merebut kepercayaan petani tebu. Sebab, selama ini petani tidak percaya dengan pabrik gula karena dianggap sering melakukan permainan harga. Untuk mengembalikan kepercayaan petani, kata Dahlan, pabrik-pabrik gula saat ini hams memberikan jaminan sullsidi kepada petani bila rendemen tebu kurang dari 7 %.

Related posts