RI Kembali Temukan 3 Miliar Ton Cadangan Batubara - Industri Tambang

NERACA

Jakarta - Diperkirakan hanya menyimpan 28 miliar ton batubara di perut bumi Indonesia, namun baru-baru ini telah ditemukan cadangan batubara yang paling banyak berada di daerah Kalimantan yang mencapai 3 miliar ton. Hal itu seperti diungkapkan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar di Jakarta, akhir pekan kemarin.

\"Dengan ditemukan cadangan batubara yang mencapai 3 miliar ton maka cadangan batubara Indonesia mencapai 31 miliar ton,\" ungkap Sukhyar.

Ia menjelaskan dari total cadangan batubara yang mencapai 31 miliar ton, hanya sekitar 28 miliar ton batubara yang bisa diproduksi dengan sistem tambang terbuka. Sementara sisanya tidak bisa diproduksi lantaran berada di area terlarang yaitu hutan lindung. Pada tahun ini, produksi batu bara Indonesia diperkirakan mencapai 391 juta ton, dengan alokasi batu bara untuk domestik sebesar 74,32 juta ton.

Sebelumnya, Deputi Direktur ReforMiners Institute Komaidi Notonegoro menuturkan bahwa cadangan batubara Indonesia akan habis dalam kurun waktu 71 tahun. Hal itu diperhitungkan karena cadangan batubara yang mencapai 28 miliar ton.

Perhitungan itu dengan asumsi tingkat produksi sekitar 391 juta ton per tahun dan tidak ditemukan cadangan baru. Asumsi produksi yang digunakan adalah target pemerintah tahun ini. Dia menyatakan tingkat pertumbuhan produksi batu bara Indonesia lebih tinggi dari rata-rata dunia. Pada tahun 2010, misalnya, saat kenaikan produksi dunia hanya 2% per tahun, di Indonesia mencapai 15%. \"Produksi batu bara RI salah satu yang tertinggi di dunia, padahal cadangan kita itu tidak masuk 10 besar dunia,\" jelas Komaidi.

Melihat fenomena itu, Komaidi menyarankan pemerintah untuk mulai membatasi produksi batu bara. Pasalnya, dari produksi batu bara nasional yang tahun ini ditargetkan 391 juta ton, kebutuhan batu bara domestik sebenarnya hanya 75 juta-80 juta ton sehingga sebagian besar diekspor. \"Produksi batu bara Indonesia itu hampir lima kali lipat dari kebutuhan domestik, menurut saya itu keterlaluan. Masalahnya, kita ini tidak punya cadangan batu bara yang banyak,\" tuturnya.

Dia khawatir jika pemerintah tidak memiliki kebijakan tertentu ke depan, batu bara di Tanah Air habis dikuras dan Indonesia malah jadi negara pengimpor batu bara. Apalagi kebutuhan batu bara nasional dari tahun ke tahun terus meningkat. \"Inilah yang terjadi di sektor minyak saat ini. Dulu kita ekspor, sekarang untuk memenuhi kebutuhan domestik meningkat kita mengimpor,\" ungkapnya.

Negara-negara lain seperti Rusia, China dan India yang memiliki cadangan batu bara lebih besar dari Indonesia, saat ini mereka memilih tidak memproduksi batu baranya secara jor-joran. \"Mereka malah mengimpor. Itu karena mereka melihat 10 tahun-20 tahun lagi harga batu bara akan semakin tinggi. Kalau di kita, hanya mikir hari ini ada penerimaan yang masuk,\" tuturnya.

Negara Eksportir

Di kala Indonesia mempunyai cadangan batubara yang cukup banyak, namun Sekretaris umum Asosiasi Pemasok Energi dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Eka Wahyu Kasih menilai Indonesia merupakan negara pengekspor terbesar di dunia. Ironisnya cadangan batubara Indonesia hanya 3% dari total cadangan dunia.

Ia menilai kondisi ini cukup memprihatinkan karena negara lain yang memiliki cadangan batu bara besar memilih untuk menyimpan cadangannya untuk masa depan. Dia khawatir cadangan batu bara nasional akan habis lebih cepat. \"Jika tak melakukan apapun, Indonesia akan kehabisan cadangan batubara dalam jangka 60 tahun ke depan,\" jelas Eka.

Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu peranan Indonesia dalam menentukan harga batu bara dunia. Sebagai negara pengekspor batu bara terbesar seharusnya Indonesia bisa ikut menetukan harga batu bara di pasar internasional.

Namun sebelum hal tersebut dilakukan seharusnya ada riset terlebih dahulu, yang menghitun jumlah biaya ekspor negara pesaing. Kemudian diambil harga yang pas sehingga pesaing tidak mampu bersaing dengan Indonesia. Mekanisme harga yang tidak melibatkan Indonesia tersebut sangat merugikan pasar internasional.

Untuk mengambil peran penentu harga, lanjut Eka, seharusnya Indonesia menurunkan ekspor 20% sehingga harga akan ikut naik 20% akibat berkurangnya pasokan. Dengan begitu total pendapatan negara yang diraih bisa tetap sama, tetapi volume batu bara yang diekspor sedikit. \" Ini bisa membuat kesinambungan batubara Indonesia semakin panjang,\" ungkapnya.

Related posts