Juxtaposisi Terorisme dan BBM - Oleh: T. Hardi Sujono

Menyandingkan dan menbuat hubungan sebab akibat dari kedua isu tersebut tentu publik dapat menilai . Lalu muncul hipotesis apakah ini permainan media? Kita selalu berprasangka baik bahwa media hanya menyampaikan fakta tanpa pretensi dan tidak terikat kekuasaan.

Dalam beberapa hari belakangan ini, berita nasional tengah diramaikan dengan isu terorisme. Tidak tanggung-tanggung, seorang pelaku bom bunuh diri beraksi meledakkan diri di depan Mapolres Poso, Sulawesi Tengah.

Maraknya kembali aksi teror ini banyak dinilai berbagai kalangan selalu ada kaitannya dengan permasalahan besar yang terjadi saat ini di Indonesia. Seperti masalah kenaikan harga BBM misalnya.

Tundingan sinis mengatakan Terorisme untuk mengalihkan tentang kenaikan harga BBM. Teroris di Indonesia dipandang lekat dengan isu atau kasus besar di Indonesia. Setiap kali ada isu atau kasus besar yang muncul, hampir bisa dipastikan isu teroris ikut menyeruak.

Sepanjang hampir dua periode pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sudah tiga kali terjadi kenaikan BBM dan sekarang kembali ada rencana kenaikan harga. Sebelum atau sesudah kenaikan BBM itulah, peristiwa terorisme ikut muncul.

Entah sengaja atau tidak, entah sebuah kebetulan atau tidak, entah bertujuan merusak citra sejumlah kalangan atau tidak, atau apa istilahnya, yang jelas munculnya isu teroris dinilai cukup untuk mengalihkan perhatian publik atas isu kenaikan BBM itu sendiri.

Pasalnya, hampir semua media massa mem-blow up pemberitaan tentang teroris. Sedangkan isu kenaikan BBM yang menyangkut hajat hidup orang banyak, mendapat porsi kecil atau bahkan tidak diberitakan sama sekali.

Analisis boleh saja membuka semua kemungkinan. Namun berpkir jernih perlu dikedepankan. Mengaitkan terorisme dengan BBM adalah juxtaposisi dua hal yang sangat kontras. Benih-benih terorisme sudah muncul sejak era Soekarno ketika Sekarmadji Maridjan Karto Suwiryo berniat mendirikan Negara Islam Indonesia.

Gerakan Kartosuwiryo mungkin saja sudah lumpuh saat ini, namun ideologinya masih ada dan tetap berkembang hingga sekarang. Mereka bergerilya dengan cara sangat tertutup dan tidak dapat dikontrol.

Di lain pihak isu kenaikan harga BBM adalah persoalan ekonomi dan politis yang sama sekali tak ada kaitannya dengan ideologi terorisme. Kenaikan harga BBM sesungguhnya sangat bisa dikontrol dan terukur.

Menyandingkan dan menbuat hubungan sebab akibat dari kedua isu tersebut tentu dapat dinilai publik dengan tepat. Karena saat ini, rakyat Indonesia sudah mulai cerdas dalam menilai suatu keadaan.

Tak heran jika kemudian muncul hipotesis apakah ini permainan media? Kita selalu berprasangka baik bahwa media hanya menyampaikan fakta tanpa pretensi dan tidak terikat kekuasaan. Lalu apa kesimpulan yang dapat dipetik? Mari kita merenung dan berpikir kembali. (mimbar-opini.com)

Related posts