”Jakarta Kita” Kapan Terwujud?

Di tengah gegap gempita perayaan HUT Ke-484 Kota Jakarta, Pemprov DKI Jakarta mengusung tema “Jakarta Kita” (Kian Tertata Kian Dicinta). Tema ini merupakan ajakan yang simpati kepada masyarakat Ibukota agar berkomitmen untuk sama-sama menjaga dan membangun kota ini.

Hanya kita mengingatkan tema yang cukup singkat dan padat itu perlu disosialisasikan ke seluruh pelosok lima wilayah kota Jakarta. Agar tema tersebut tidak hanya sekedar slogan belaka, Pemprov DKI Jakarta harus membuat rencana tindak penjabaran dari makna ”Jakarta Kita”, sehingga diharapkan setiap insan di Ibukota dapat memahami makna tema tersebut.

Bagaimanapun kondisi kota, warga, dan peradaban adalah tiga serangkai yang saling terkait. Arah tiga serangkai itulah yang akan membentuk Jakarta sebagai kota jasa yang ramah lingkungan serta dengan setia melayani berbagai kebutuhan warganya tanpa kecuali.

Sebagai ibu kota negara, Jakarta tidak hanya berperan sebagai pusat aktivitas manusia berinteraksi dan bertransaksi. Jakarta juga tidak hanya berperan sebagai pusat ekonomi, politik, sosial, tapi juga berperan dalam menyebar nilai-nilai budaya. Jadi, memang idealnya Jakarta adalah juga pusat peradaban manusia modern.

Namun disela-sela usianya yang panjang itu, Jakarta ternyata masih dihinggapi virus-virus degradasi kualitas lingkungan, ketidakadilan pembangunan yang disertai penggusuran, jurang kemiskinan yang kian melebar, kesumpekan bangunan kota yang masif, serta kesemrawutan dan kemacetan lalu lintas yang makin parah dari waktu ke waktu.

Banjir ternyata masih menjadi langganan kota ini. Hujan sesaat saja bisa membuat Jakarta tergenang. Ini semakin sering terjadi karena sistem drainase kota dan pengelolaan sungai yang buruk, serta menyusutnya ruang terbuka hijau sebagai daerah resapan air. Hempasan air laut semakin sering menggenangi kawasan pesisir. Di saat yang sama, abrasi pantai menerjang tepian pantai merangsek masuk hingga 200 meter ke daratan di sepanjang ujung utara Jakarta sejauh 33 kilometer.

Tidak terasa selama ini, bahwa sudah 40% wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut. Ini terjadi karena pemompaan air tanah secara besar-besaran tanpa terkendali. Tanah-tanah bekas aliran air tanah meninggalkan rongga-rongga yang terus dimampatkan beban bangunan dan jalanan yang padat. Akibatnya, permukaan tanah turun 4-26 cm per tahun, terutama di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara.

Menghadapi sejuta persoalan yang dihadapi sehari-hari, Jakarta memang membutuhkan kepemimpinan yang didukung kreativitas dan inovasi warga dan pemerintah kota dalam menata kota, mendorong pertumbuhan ekonomi hijau yang ramah lingkungan, meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan warga, mempresentasikan karya seni sosial masyarakat, serta membangun kebudayaan berkota dan perkotaan yang humanis.

Jadi, sudah saatnya paradigma pembangunan kota harus direformasi, karena pembangunan kota yang berkelanjutan jelas akan meningkatkan kualitas lingkungan kota dan memberikan keadilan sosial bagi masyarakat. Artinya, Pemprov DKI harus tegas memberikan perlindungan terhadap lingkungan, bukan menentukan di mana boleh membangun tapi sebaliknya di mana kita tidak boleh membangun.

Tujuannya adalah untuk melindungi dan meningkatkan keanekaragaman hayati di kawasan pantai, daratan, hingga pegunungan, dengan cara melindungi ekosistem di ruang terbuka hijau kota, meningkatkan kualitas air dan udara bersih, serta mengonservasi lahan pertanian kota untuk membangun ketahanan pangan kota di masa depan. Selamat HUT Kota Jakarta!

Related posts