Empat Wilayah Jadi Prioritas - Konversi BBM Ke BBG

NERACA

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memprioritaskan program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) tahun ini di empat wilayah yakni Jabodetabek, Surabaya, Palembang dan Kalimantan Timur.

Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral bidang Kelembagaan dan Perencanaan Strategis, I Gusti Nyoman Wiratmaja mengatakan, program konversi BBM ke BBG sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap BBM.\"Pemilihan wilayah itu karena melihat kesiapan infrastruktur seperti pipa dan pasokan gas serta kesiapan SPBG juga melihat jumlah penduduk,\" ujar dia lewat siaran pers yang diterima Neraca, Selasa (4/6).

Dia menuturkan, khusus sarana SPBG, pemerintah menargetkan akan mengoperasikan 50 Stasiun Pengisi Bahan Bakar Gas (SPBG) dari yang ada saat ini sebanyak 10 SPBG sampai akhir 2013. SPBG tersebut, tutur dia, tidak hanya dibangun tersendiri tetapi ada yang dibangun menyatu dengan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Hal ini bertujuan memudahkan masyarakat mendapatkan BBG. Program konversi dari BBM ke BBG akan dilakukan bertahap.

Dia menuturkan pemerintah juga akan membagikan ribuan konverter kit yang dipasang pada kendaraan sebagai langkah mendukung program konversi. Khusus Kementerian ESDM akan membagikan sekitar 10 ribu alat yang akan diberikan kepada kendaraan operasional pemerintah. Sementara Kementerian Perindustrian kebagian jatah membagikan 4.000 konverter kit ke kendaraan angkutan transportasi.

Program konversi, dia menjelaskan dilakukan pemerintah mengingat pasokan BBM nasional yang kian minim. Bahkan Indonesia masih harus mengimpor 50 % kebutuhan BBM yang mencapai 1,5 juta barel per hari. Sementara pasokan gas nasional mampu mencapai 7.750 mmscfd per hari. \"Jadi pasokan gas kita memang masih sangat besar sekali,\" tandas dia.

Tidak Jelas

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR Arya Bima menuturkan program konversi BBM ke BBG tidak jelas. Bahkan ia mempertanyakan program yang digagas oleh Kementerian ESDM itu. \"Penyediaan conveter kit (alat konversi) ini serius nggak sih? Yang menonjol itu kenaikan BBM bukan converter. Sekarang ini seperti program main-main saja. Saya tidak mengerti tujuan program ini. Kalau tidak serius ya hapuskan saja. Siapa yang menyediakan gas, converter itu harus jelas,\" kata Arya.

Arya juga, mempertanyakan infrastruktur penunjang seperti SPBG yang disediakan oleh Pertamina. Ia menilai program/wacana pergantian bahan bakar kendaraan umum dari minyak ke gas belum siap. \"Pertamina nggak ada program itu. Kalau perlu dihilangkan. Hari ini dibahas program konversi. Jadi jangan setengah-setengah. Sehingga kita tidak ribut soal BBM. Yang dilakukan pemerintah hanya menaikan BBM terus. Saya setuju kalau perlu ditambahi anggaran jangan dikurangi,\" tuturnya.

Sesditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Sharief Hidayat mengungkap beberapa perusahaan sudah siap melakukan pembuatan converter kit itu tetapi mereka kan juga nunggu ini jalan apa nggak, gasnya ada apa nggak, SPBG ada apa nggak.\"Yang jelas, yang sudah kita siapkan ada PT Pindad, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), itu dua yang utamanya. Mereka juga sudah siap tetapi dengan belum pastinya anggaran mereka menunggu dulu lah,\" ungkapnya.

Sharief juga menjelaskan, pengadaan konverter kit yang dilakukan pemerintah dikhususkan untuk kendaraan umum. Namun dengan adanya penghematan anggaran dan ketidaksiapan Pertamina dan Kementerian ESDM menyediakan SPBG mau tidak mau alokasi anggaran penyediaan converter kit dipotong hampir 50%.

\"Kendaraan umum yang memerlukan converter ini jumlahnya nggak banyak, sehingga memang kebetulan ada pemotongan jadi kita kembalikan anggaran itu kita hanya pakai sebagian. SPBG di Jakarta juga hanya ada empat. Jadi jumlah kendaraan-kendaraan yang melewati SPBG itu jumlahnya tidak sebanyak anggaran yang disediakan. Kita harus hitung lagi kita sudah koordinasi dengan Kemenhub, dinas perhubungan disurvei dan disesuaikanlah dengan kondisi lapangan,\" ujarnya.

Tidak hanya itu, pengguna mobil pribadi pun sedang menunggu kepastian pemerintah dan Pertamina menyediakan SPBG. Mereka tidak akan mengganti bahan bakar kendaraannya dari minyak ke gas sebelum SPBG ditambah.

\"Kalau pribadi kan terserah masing-masing kan tidak dibiayai pemerintah. Industri akan siap saja asalkan kebijakan BBG nya jelas. Mereka kan juga menunggu ini dengan stasiun pengisian yang masih terbatas. Ini kan membuat kepastian mereka juga terganggu,\" jelasnya.

Related posts